Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ.
Islam melihat dunia sebagai sesuatu yang riil. Nabi Muhammad bahkan menyebut bahwa dunia adalah ladang bagi akhirat. Kebaikan yang dilakukan di dunia, akan berbalas yang lebih baik lagi di akhirat, bahkan bisa sampai berlipat-lipat karena rahmat Allah.
Al-Qur’an menyebut kebaikan dengan dua kata, hasanah dan khair. Dan kata khair di dalam al-Qur’an juga berarti harta kekayaan.
۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (al-Baqarah: 272)
لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui. (al-Baqarah: 273).
فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ
Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. (Shad: 32).
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (al-Adiyat: 8)
Untuk memperoleh kebaikan dan harta kekayaan, diperlukan amal atau kerja keras. Karena etos inilah, muncul istilah jihad dan ikhtiar.
Makna jihad adalah bersungguh dengan mengerahkan segala potensi yang ada. Allah menjanjikan kepada orang yang melakukan usaha dengan sepenuh kesungguhan jalan-jalan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (al-‘Ankabut: 69).
Sedangkan makna ikhtiar sesungguhnya adalah usaha untuk mendapatkan yang terbaik (khair). Al-Qur’an tidak menggunakan kata ikhtiar secara langsung, tetapi memberikan perspektif perubahan yang lebih baik yang hanya bisa terjadi apabila ada yang mengupayakannya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan (perilaku) yang ada pada diri mereka sendiri” (al-Ra’d: 11)
Orang beriman harus mengiringi kerja keras dengan do’a. Sebab, sekeras apa pun usaha atau kerja, penentu hasilnya adalah Allah. Kerja keras dalam konteks ini, diistilahkan oleh al-Qur’an dengan sabar. Gambaran makna sabar adalah ketabahan mendaki jalan setapak yang licin dan terjal yang membuat telapak kaki luka dan berdarah-darah untuk mencapai puncak bukit/gunung.
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (al-Baqarah: 45)
Dalam konteks perspektif utuh yang seimbang inilah, Islam memberikan konsep tawakkal. Kata ini berasal dari kata wakala, yang melahirkan kata wakil yang berarti penguasa. Artinya, yang berkuasa atas segalanya, termasuk yang memberikan hasil atas kerja manusia adalah Allah.
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Ali Imran: 159).
Dari uraian di atas nampak sekali bahwa Islam mengajarkan usaha keras, tidak memberikan ruang kepada fatalisme. Imam Ali bin Abi Thalib memberikan panduan sikap apabila sebuah usaha yang sudah dilakukan dengan sepenuh kesungguhan dan memenuhi segala prasyaratnya dalam ungkapan jika sesuatu yang diinginkan berhasil, maka harus berterima kasih kepada Allah. Dan jika Allah tidak memberikannya, maka justru harus dua kali berterima kasih. Sebah, Allah memberikan diinginkan dan direncanakan olehNya yang itu pasti lebih baik. Wallahu a’lam bi al-shawab.





