Islam memberikan panduan lengkap, bahkan saat akan tidur, dengan berdo’a:
بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ
Bismika Allaahumma ahyaa wa bismika amuut
Artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati”.
Kenapa begitu? Ternyata Islam memiliki pandangan yang luar biasa canggih kepada segala fenomena di dunia ini. Islam memandang dengan sangat jeli, bahwa tidur memiliki banyak kesamaan dengan mati.
Saat manusia tidur sampai bangun kembali ibarat saar manusia menunggu setelah mencabut nyawanya sampai kemudian bangkit kembali nanti setelah terjadi kiamat di akhirat. Di dalam tidur, bisa terjadi mimpi baik dan mimpi buruk. Jika siang hari melakukan tindakan-tindakan yang baik, maka kemungkinan besar, mimpi baiklah yang akan dialami saat tidur. Namun, jika tindakan buruk yang dilakukan, maka hal-hal buruk itu akan terbawa dalam mimpi. Suasana bisa menjadi terasa sangat mencekam dan menakutkan.
Demikian pula setelah kematian. Jika semasa hidup di dunia yang dilakukan adalah kebaikan, maka amal kebaikan itu akan menjadi hal-hal baik yang akan membuat masa menunggu hari kebangkitan itu terasa nyaman dan pendek, ibarat tidur semalam saja. Namun, jika kejahatan yang dilakukan saat hidup, maka keburukan akan menyelimuti pada saat menunggu hari kebangkitan dan akan menyebabkan berbagai ketakutan dan kesedihan. Masa menunggu akan terasa sangat panjang sebagai orang yang mimpi buruk yang menyebabkan waktu malam tidak terasa seperti sebagaimana adanya, melainkan sangat panjang.
Karena itulah, Allah memberikan perspektif tentang wafat dan mati. Mati pasti wafat, sedangkan wafat belum tentu mati. Orang yang tidak mati diwafatkan dalam tidur.
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (al-Zumar: 42)
Perspektif ini makin lengkap dengan do’a bangun tidur:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ
Alhamdu lillaahi alladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihi al-nusyuur.
Artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.
by: Dr. Abu Hokma.







