Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok Mlagen Rembang.
Untuk melakukan sesuatu dengan total, diperlukan alasan yang sangat kuat. Termasuk di dalamnya menghafalkan al-Qur’an. Sebab yang akan dihafalkan adalah teks setebal 604 halaman. Diperlukan pikiran, tenaga, dan waktu yang cukup untuk melakukannya. Secara lebih spesifik lagi, untuk bisa tidak terlalu lama hafal 30 juz al-Qur’an, diperlukan fokus kuat dan konsistensi tinggi. Jika tidak konsisten, maka penghafal akan menjadi bagaikan Sisipus dalam legenda Yunani Kuno yang akan selalu mengulang dari awal.
Momentum yang tepat akan menjadi sumber energi yang sangat kuat untuk bekerja total sampai tuntas dan capaian itu menjadi kenikmatan besar, sehingga selalu mampu untuk melakukan usaha untuk mempertahankan. Saya bersyukur pada akhirnya menemukan momentum itu, walaupun sudah agak terlambat. Sebab, momentum itu baru saya dapatkan saat sudah kelas sekolah menengah atas.
Sekedar sekelumit gambaran, saya lahir dalam keluarga yang religius. Bapak dan Ibu saya hafal al-Qur’an. Selain menjadi kepala desa dan kepala madrasah diniyah, bapak adalah ketua Jam’iyyat al-Qurra’ wa al-Huffadh Kecamatan Pamotan. Aktivitas utama perkumpulan ini adalah sima’an keliling dari satu desa ke desa lain setiap bulan sekali. Sejak masih usia belum tamat sekolah dasar, saya sudah sering ikut dalam aktivitas itu. Tentu saja sebagai penyimak yang kadang-kadang sambil terkantuk-kantuk.
Bertempat di masjid desa, para anggota yang hafal al-Qur’an disimak dalam lingkaran-lingkaran kecil oleh 4-6 orang. Karena sering tidak hanya melihat, tapi bahkan menjalani aktivitas menyimak para penghafal al-Qur’an itu, juga tentu saja melihat ortu disimak di rumah, terbersit sedikit niat untuk menghafalkan al-Qur’an.
Namun, api yang belum besar itu seringkali kembali nyaris padam ketika mengalami kesulitan. Dan jika dalam keadaan itu, usaha untuk mengobarkan dengan berbagai iming-iming yang menurut orang lain menarik pun tidak berarti. Apalagi yang harganya bagi saya tidak seberapa. Al-Ghazali memang memperbolehkan memberikan hadiah materi untuk mendorong semangat anak untuk menjalankan kewajiban.
Di antara contohnya, saat kelas VI, seorang guru saya membuat sayembara, yang bisa menghafalkan surat Yasin akan diberi hadiah sebuah buku tulis tebal yang berisi 150 lembar. Tentu saja hadiah ini tidak cukup menarik bagi saya, karena ortu saya sudah membelikannya, bahkan tanpa saya minta. Namun, bagi teman saya yang ingin sekali memiliki buku tebal itu, sayembara ini adalah sebuah kesempatan. Banyak teman saya yang berasal dari keluarga pra sejahtera terlihat sangat antusias dan tekun, berusaha sekuat tenaga menghafalkannya.
Akhirnya, salah seorang di antara mereka benar-benar hafal dengan baik. Seingat saya, dia mampu menyelesaikan seluruh ayat dalam surat Yasin dalam satu kali berdiri di depan kelas. Sedangkan saya, separuhnya pun tidak hafal. Sekali lagi, soal motivasi yang tidak membara. Ikut menghafalkannya sepertinya agar tidak terlalu malu saja.
Saya beruntung sekali, karena menjelang lulus sekolah dasar memperoleh alasan (rahasia) untuk masuk sekolah diniyah di desa saya. Karena kepala sekolahnya adalah bapak saya, maka saya tinggal mengatakan keinginan itu dan memilih kelas yang saya inginkan. Tentu saja, bapak saya langsung mengiyakan. Yang jadi persoalan adalah saya minta untuk langsung di kelas II. Setelah negosiasi, saya yang menang. Sebab, kalau tidak, saya tidak jadi masuk madrasah diniyah.
Setiap hari, setelah menjalani sekolah dengan kurikulum negara, saya menyambungnya dengan kembali belajar sampai menjelang petang. Di madrasah inilah saya belajar ilmu alat (sharaf dan nahwu), akidah, fikih, juga tafsir (Jalalayn). Dua yang terakhir ini, bapak saya yang mengajar dan sebelumnya juga pernah diajar di rumah.
Saya termasuk anak yang dinilai bengal. Terbukti, beberapa kali saya melihat kekecewaan besar bapak saya. Di antaranya saat bapak sakit liver parah yang menyebabkannya meninggal tidak sampai dua tahun kemudian. Ciri kekecewaan berat dan marah besarnya adalah menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa yang jadi bahasa sehari-hari kami. Bapak mengungkapkan kekecewaan dan secara tegas menyatakan malu karena anak lelaki satu-satunya yang mestinya dibanggakan, kalah prestasi di sekolah terutama dalam hal hafalan al-Qur’an. Padahal beliau adalah satu-satunya sarjana dan sekaligus penghafal al-Qur’an di desa kami.
Kejadian itu begitu membekas di benak saya, dan muncul kembali lebih kuat beberapa hari setelah bapak kembali kepada Allah Swt.. Dalam keheningan malam di sebuah bilik pesantren yang baru beberapa bulan saya masuki karena sekolah formal di MAN Lasem, saya memutar kembali harapan dalam kekecewaan bapak saya itu. Dan sejak detik itu, saya ber’zam, bahwa saya akan menghafalkan al-Qur’an dan menjadi sarjana, tidak hanya satu gelar sebagaimana bapak saya. Al-Qur’an di rak kitab saya ambil dan mulai saya hafalkan perlahan.
Suasana malam itu benar-benar kondusif. Tak perlu lama menghafal, banyak ayat bisa saya hafalkan. Dan setelah saya renungkan, kemudahan saya dapatkan karena saya makin memahami makna literal teks. Ini didukung oleh banyak kajian kitab di pondok, di antaranya kitab tafsir, yaitu: Tafsir Jalalayn, Tafsir al-Muniir, dan Tafsir Tanwir al-Miqbaas. Karena menemukan berbagai pengetahuan yang luas dalam kajian tafsir al-Qur’an itu, menghafal juga menjadi menarik.
Antara menjawab “tantangan” bapak sampai mendapatkan pengetahuan baru saat memahami arti teks dan saat mengulang hafalan, berjalin berkelindan menjadi satu, sehingga membentuk niat yang lebih kuat, bagai tali kokoh yang tak bisa lagi putus. Haus, lapar, dan mengantuk seolah terlupakan. Waktu selain untuk kajian kitab dan sekolah, saya optimalkan untuk menghafal. Bahkan saya sering mencuri-curi waktu di sekolah atau kajian kalau saya rasa sudah paham materinya. Target minimal adalah satu halaman per hari. Dan prestasi tertinggi saya adalah saat bulan Ramadlan, karena sebagian harinya libur sekolah, saya bisa menghafal lebih dari tiga juz, sekitar pertengahan juz 6 sampai pertengahan juz 9.
Ini benar-benar memompa semangat saya. Jika kantuk benar-benar sudah tidak bisa saya tahan, saya bahkan minum Ultracap, obat anti ngantuk yang saya beli dari toko di deretan Pecinan di sebelah selatan Masjid Jami’ Lasem yang saya tahu biasanya diminum oleh para sopir.
Sampai larut malam, bahkan sampai dini hari saya mampu bertahan di cungkup makan Sayyid Abdurrahman atau terkenal dengan Mbah Sambu. Sesekali memang saya diliputi ketakutan karena sendirian di kawasan makam. Namun, demi mendapatkan kesunyian, saya menahan rasa takut itu. Alasan tambahannya, jika saya membaca al-Qur’an di pesantren, maka akan mengganggu banyak orang. Sebab, saya memerlukan bacaan dengan suara keras untuk cepat hafal.
Sebagai gambaran tambahan semangat yang mengalahkan kantuk itu, suatu malam, karena suatu sebab saya muraja’ah di mushalla pesantren. Dalam kerasnya suara bacaan saya itu, tiba-tiba terdengar suara jendela nako diketok dan dibuka dari luar. Saya menengok ke belakang dan melihat sepasang kaca mata tebal di sela-sela kaca nako yang terbuka. Saya langsung tahu milik siapa wajah yang terlihat hanya setengah-setengah itu. Kiai Mansur Khalil, pengasuh pesantren.
Sejurus kemudian, muncul suara yang agak parau karena usia dengan bahasa Jawa. Yang benar-benar saya ingat dan membuat saya terkenang kepada beliau Allaahu yarham adalah kalimat: “Cung, mripat iku yo nduwe hak diistirahatno, Nak mata itu juga punya hak untuk diistirahatkan”. Mendengar itu, saya segera mendekat, bersalaman lalu menuju kamar yang terletak di bagian depan, di seberang mushalla, dipisah oleh halaman.
Kejadian-kejadian sebelum dan saat menghafal itulah yang membuat saya sekarang ingin membuat momentum kepada setiap orang yang menyatakan diri ingin menghafal. Sebab, momentum itulah yang akan menjadi lecutan besar. Dan itu bisa berbeda-beda bagi masing-masing orang. Tentu saja, landasan paling dasarnya adalah lillaahi ta’aalaa. Ia bisa saja rasa malu menjadi seorang intelektual dengan embel-embel muslim, tetapi argumen intelektual tidak dikonstruksi atas dasar al-Qur’an tetapi malah teori-teori Barat yang sekuler.
Kalau aktivis atau politisi dari parpol Islam adalah rasa malu karena kebijakan-kebijakan yang dibuat bukan merupakan transformasi ajaran-ajaran al-Qur’an yang diyakini kebenarannya. Kalau hanya ada alasan sebagai seorang muslim, mestinya malu juga karena banyak orientalis yang hafal al-Qur’an untuk mencari kelemahan Islam dan umatnya, tetapi sebagai muslim yang meyakininya justru tidak menghafalkannya. Padahal, al-Qur’an adalah sumber utama agama Islam. Menghafalkannya adalah jalan utama memahaminya. Tanpa hafal secara keseluruhan, mustahil memahaminya secara komprehensif.
Karena itu, temukan momentum! Rasakan sensasinya untuk lebih kuat dan cepat menghafal firman Tuhan, agar bisa merenungkan dan relatif paham apa kehendakNya. Wallahu a’lam bi al-shalat.





