Pemuda Penjunjung Kemerdekaan

Hilir demi hilir berganti. Waktu terus hanyut tanpa terasa. Enam puluh detik telah berlalu secepat kilat. Aku baru menyadari bahwa kita semua telah menyambut hari kemerdekaan yang ke-75. Aku mulai termenung, berterima kasih, dan bersyukur. Ketiganya adalah hal yang harus terucap pada detik ini juga.

Tanpa tersadarkan aku melamun. Kembali memikirkan bagaimana latar belakang kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya. Aku mulai terpaku oleh pikiranku itu. Tapi tiba-tiba pikiranku buyar. Teriakan keras memanggil namaku. Teriakan temanku yang melengking terdengar mendesis di gendang telinga. Aku segera mendekatinya.

Aku tak mengerti apa maksud dari temanku. Memberikan sebuah lembaran koran bertuliskan “Kisah Kemerdekaan Indonesia”. Melihat hal itu aku kembali terpukul oleh pikiran yang sama tentang latar belakang kemerdekan Indonesia yang sesungguhnya. Temanku kemudian memerintahkanku untuk membaca koran tersebut dan bergegas meninggalkanku.

Tepatnya di bawah pohon yang rindang aku duduk. Mulai membaca selembar koran yang diberikan oleh temanku itu. Kalimat demi kalimat kubaca. Kata demi kata kucerna dan kupahami.

Bacaan Lainnya

Kini aku mengerti bagaimana latar belakang kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya. Bagaimana sulitnya merebut kemerdekaan. Bagaimana susahnya untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Aku kembali termenung.

Tak terasa 75 tahun Indonesia telah merdeka. Aku kembali bertanya-tanya, apakah selama kemerdekaan ini Indonesia sudah bisa berkembang? Bisakah lebih maju? Sepertinya bisa, tetapi tergantung para pemuda yang bisa mendukung kemajuan Indonesia. Namun aku kembali memikirkan, betapa kini moral para pemuda Indonesia justru semakin menjadi-jadi.

Kenakalan remaja terus meningkat di seluruh penjuru Indonesia. Pembunuhan sering dilakukan oleh remaja yang tidak mempunyai hati. Dan mabuk-mabukan pun adalah hal yang terus terjadi tanpa henti. Apakah generasi seperti ini mampu untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya?

Aku terus berpikir. Aku tidak boleh menjadi generasi yang rusak sepertit itu. Aku harus menjadi pemuda yang baik dan berperan penting di masyarakat. Dalam renunganku hati kecilku berkata:

“Semua kebaikan dimulai dari diri sendiri.”

Oleh: Muhammad Alfian Yusuf Syafii, SANJA (Santri Remaja) Planet NUFO Rembang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *