Hari Raya, Cinta, dan Khilafah Nyata

Suatu ketika ada Ustadz (Pakar Ilmu Fiqih) yang diundang untuk memberikan ceramah di salah satu masjid Prancis. Ustadz tersebut menyampaikan masalah-masalah sosial yang dihadapi dunia Islam kontemporer. Ada Seorang jamaah berwajah Lebanon dengan sangat antusias memberikan tanggapan apa yang disampaikan oleh Ustadz dan dengan sangat simplistis ia mengatakan, “Semua itu solusinya adalah dengan menegakkan khilafah”. Sang Ustadz hanya tersenyum dan berkata, ‘’Tanpa bermaksud meremehkan apa Yang kau katakan. Tolong renungkan baik-baik! Bagaimana kalian akan menegakkan khilafah? Sedangkan kalian menyatukan hari raya Idul Fitri saja tidak bisa!’’

Kata-kata Ustadz itu tampak simpel. Namun, mengandung fiqh realitas dan fiqh sosial Yang dalam dan luas. “Kalian menyatukan Hari Raya Idul Fitri saja tidak bisa!” Padahal Idul Fitri itu terjadi sesudah umat ini dilatih selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Dilatih lahir dan batin. Dilatih untuk bersatu. Shalat jama’ah bersama, buka puasa bersama, tarawih bersama, i’tikaf bersama. Alangkah indahnya. Namun begitu selesai Ramadhan untuk syiar bersama dalam hari raya bersama ternyata gagal. “Kalian menyatukan Hari Raya Idul Fitri saja tidak bisa! ”

Puasa adalah ibadah yang paling dijauhkan dari riya’. Hanya Allah Yang tahu. Seharusnya, setelah ramadhan, semua yang berpuasa rendah diri, tawadhu’, mudah untuk bersilaturahmi dengan saudaranya, mudah mengalah demi saudaranya. Namun, seringkali yang terjadi ego untuk merasa lebih benar dan lebih tepat membaca dalil yang dimajukan. Maka, persatuan yang menyeluruh dalam Hari Raya Fitri itu gagal tercipta. “Kalian menyatukan Hari Raya Idul Fitri saja tidak bisa!”

Ketika Hari Raya Idul Fitri gagal berpadu, lalu muncul ungkapan yang dibijak-bijakkan dan saling menghibur, ‘Hormatilah perbedaan, dalam perbedaan pendapat itu ada rahmat. Menurutnya, itu adalah kalimat yang tidak pada tempatnya. Apakah mereka lupa tujuan utama, atau Gagasan dalam hukum islam adanya Idul Fitri dan Idul Adha?

Bacaan Lainnya

Tak lain supaya umat kokoh dalam persatuannya. Agar umat ini bergembira, optimis dan bangkit persatuan jiwa raganya. Takbir menggema berwibawa tanpa ada kebencian, tanpa ada ganjalan perbedaan dalam hati.

Kenapa para ulama, pakar fiqih, dan cendekiawan muslim lainnya itu tidak menjadikan ijtihad sebagai ijtihad yang menyatukan umat, kenapa lebih sering memakai ijtihad untuk membela ego kubu kelompoknya? Jika menyatukan hari raya Idul Fitri saja tidak bisa, bagaimana ingin menciptakan persatuan ekonomi, persatuan politik dan lain sebagainya yang lebih luas?

Menilik kisah Abdullah bin Mas’ud, sahabat yang pemberani. Ia merupakan orang pertama yang membacakan al-Qur’an dengan terang-terangan di hadapan kaum musyrik Quraisy. Setelah Nabi Muhammad Saw. Pada suatu ketika para sahabat berkumpul dan melontarkan pertanyaan tentang siapa yang berani membacakan al-Qur’an di hadapan kaum musyrik Quraisy secara terang-terangan?.

Mengingat pada saat itu orang-orang Quraisy belum pernah mendengarkan al-Qur’an secala langsung. Maka, Seketika itu Abdullah bin Mas’ud langsung menawarkan diri untuk menjadi pembaca al-Qur’an di hadapan musuh-musuh Islam. Lalu, Para sahabat lainnya awalnya tidak sepakat karena khawatir Abdullah bin Mas’ud akan dicelakai.

Mereka ingin orang yang membacakan al-Qur’an secara terang-terangan itu adalah sahabat yang keluarganya bisa melindunginya jikalau kaum musyrik berbuat jahat kepadanya. Kemudian  Abdullah bin Mas’ud masih teguh dengan pendiriannya. Bahwa ingin menjadi pembaca al-Qur’an di hadapan kaum musyrik Quraisy. Dia meyakinkan bahwa pelindungnya adalah Allah SWT.  Para sahabat yang laim akhirnya menyetujui permintaan Abdullah bin Mas’ud tersebut.

Keesokan harinya, Abdullah bin Mas’ud datang ke Maqam Ibrahim pada waktu dhuha. Pada saat itu, orang-orang musyrik Quraisy sedang duduk-duduk di sekitar Ka’bah. Abdullah bin Mas’ud langsung membacakan Surat Ar-Rahman dengan suara merdu nan lantang dihadapan mereka. Beberapa orang terpukau ketika mendengar bacaan Abdullah Bin Mas’ud.

Setelah mendengar beberapa ayat, orang-orang Quraisy mulai sadar perihal apa yang dibaca Abdullah bin Mas’du. Mereka kemudian mendatangi dan memukuli Abdullah bin Mas’ud.   Usai kejadian itu, Abdullah bin Mas’ud mendatangi para sahabatnya dengan muka babak belur dan berdarah. Apa yang dikhawatirkan para sahabat terhadap Abdullah bin Mas’ud menjadi kenyataan.

Akan tetapi, Abdullah bin Mas’ud tidak gentar sama sekali. Ia bahkan menawarkan diri lagi untuk membacakan Al-Qur’an secara terang-terangan di hadapan kaum musyrik. Keesokan harinya. “Jika kalian mau, besok pagi aku akan melakukan hal yang sama,” kata Abdullah bin Mas’ud.

“Tidak. Engkau sudah cukup. Engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai,” jawab para sahabat mencegah Abdullah bin Mas’ud.

Seorang Faqih sejati harus mengerti di titik mana perbedaan pendapat itu rahmat dan dititik mana persatuan harus diutamakan. Seperti kecintaan Abdullah bin Mas’ud kepada Rasulullah Saw Mengalahkan segalanya. Rela berkorban demi orang yang dicintainya. Begitu juga seorang Faqih sejati harus tahu manakala pendapatnya harus rela ia tinggalkan. Dan ia harus mengikuti pendapat yang lain demi persatuan umat. Wallahu ‘alam bi al-Shawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *