Semua orang pasti pernah melakukan puasa. Bukan hanya orang Islam saja, tetapi non Islam pun juga melaksanankannya. Mereka percaya bahwa puasa memiliki manfaat tersendiri bagi kesehatan tubuhnya. Ketika puasa ada dua waktu yang sering dinanti oleh semua orang, yaitu sahur dan berbuka. Tetapi yang sering dipermasalahkan hanya waktu sahur saja.
Sahur merupakan salah satu hal yang membedakan puasa orang Islam dengan orang non Islam. Ketika sahur, pasti tidak jauh dengan waktu batasan mengakhiri sahur. Manakah waktu yang tepat untuk menyelesaikan makan sahur? Apakah ketika ada suara imsak atau waktu adzan subuh tiba?
Sering sekali orang-orang mempermasalahkan mengenai batasan sahur di bulan Ramadlan atau sering disebut dengan imsak. Terlebih lagi, masalah ini dibahas oleh orang-orang kampung. Ada sebagian mereka yang percaya waktu imsak adalah ketika adzan subuh. Tetapi kebanyakan mereka lebih condong bahwa batas waktu mengakhiri makan sahur adalah ketika ada suara imsak yang ditetapkan di masjid-masjid sekitar. Akan tetapi, mengapa mereka ketika puasa di lain bulan Ramadlan mengakhiri waktu sahurnya pada saat adzan subuh tiba?
Imsak merupakan kata yang berasal dari bahasa arab, isim masdar dari kata amsaka-yumsiku-imsaakan yang berarti menahan. Maksudnya adalah menahan dari nafsu dan segala sesuatu yang membatalkan puasa.
Di Indonesia imsak lebih banyak ditandai dengan suara imsak. Biasanya suara itu terdengar sepuluh menit sebelum adzan subuh. Orang-orang kampung percaya bahwa suara imsak imsak itulah yang menjadi batas terakhir untuk makan dan minum. Setelah suara itu selesai berarti puasa telah dimulai. Tetapi beda di bulan-bulan yang lain. Karena tidak ada suara imsak, akhirnya mereka menggunakan adzan subuh sebagai batasan untuk sahur. Perbedaan bulan dan ada tidaknya suara imsak menjadi patokan mereka ketika akan puasa. Tetapi apakah itu sudah benar?
Dalam QS. al-Baqarah: 187 dijelaskan bahwa, makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.
Ayat tersebut menjelaskan tentang batasan imsak. Benang hitam itu sebenarnya putih. Karena waktu masih malam, benang tersebut menjadi hitam. Apabila benang tersebut sudah terlihat putih maka waktu fajar telah tiba. Maka dapat disimpulkan bahwa waktu imsak yang benar adalah ketika terbit fajar (fajar sidiq)
Biasanya terbit fajar sidiq ditandai dengan adzan subuh . Meskipun suara waktu imsak yang biasa telah ditetapkan di masjid-masjid telah selesai, tetapi belum terbit fajar, maka masih diperbolehkan untuk makan sahur. Sahur bagi umat Islam pun juga dianjurkan, terlebih lagi di akhir waktu. Dalam sahur pun terdapat keberkahan tersendiri.
Mengenai suara Imsak sering di dengar 10 menit sebelum adzan subuh itu merupakan pengingat bagi orang-orang bahwa waktu subuh akan tiba. Dalam waktu 10 menit, digunakan untuk persiapan untuk melakukan sholat subuh. Mengingat jam Indonesia seperti permen karet dan agar tidak terjadi keteteran antara waktu sahur dengan subuh, maka jam sahur setiap beberapa menit ada peringatan-peringatan sampai menjelang imsak.
Saling mengingatkan dan kepekaan sangat perlu ada pada diri semua makhluk di dunia meskipun hal terkecil pun. Karena sejatinya manusia itu tempatnya salah dan lupa. Karena ada sifat tersebut, maka manusia dikatakan zoon politicon. Saling membutuhkan satu dengan yang lain dan salah satunya harus ada sifat-sifat peka dan tanggap.
Oleh: Hanik As’adah, Mahasiswi Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang





