Mata Air si Tanah Gersang

Terik mentari manjadi lawanku saat ini, tak ku temui deretan pepohonan rindang di setiap jalan yang kulewati, hanya paung-puing bangunan yang menjadi pemandangan di sekelilingku. Tanah ini menjadi saksi duka yang ku rasa. Tak ada lagi senyuman yang hadir darinya, tak ada lagi belai kasih disetiap hari-hariku.

Kaki ini terus melangkah, menyusuri cerita lama yang pernah kita rangkai, menggali kembali duka yang ada. Suaranya kembali menggema di telingaku, senyumnya melintas di hadapanku. Di sinilah dahulu kita menyusun kisah, di sini pula aku melepaskannya untuk pergi.

“kreakk” tak sengaja kakiku menginjak sebuah botol plastik. Tanganku mulai bergerak untuk mengambilnya, pandanganku tertuju pada pada botol tersebut. Ada sebuah cerita dari kusimpan dari sebuah botol.

Kala itu, aku pulang dari bermain dengan membawa sebuah botol minuman, aku membuang botol tersebut di halaman rumahku, setelah isinya tandas. Hingga sebuah suara terdengar menegurku. “ he.. jangan buang sampah sembarangan” aku meringis mendengarnya. Dia mengambil sampah botol tersebut, lalu kita duduk bersama di sebuah bangku di halaman rumah. “kamu tahu tentang cerita dibalik botol?” aku menggeleng menanggapi pertanyaannya.

~Kalau diisi air mineral, harganya 3 ribuan…
~Kalau diisi jus buah, harganya 10 ribuan…
~Kalau diisi Madu, harganya ratusan ribu…
~Kalau diisi minyak wangi harganya bisa jutaan!.
~Kalau diisi air comberan, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena tidak ada harganya…

Aku tersenyum mengingatnya. Sebuah semangat yang mampu membawaku pada cita-cita besar. Seminggu yang lalu aku telah menyelesaikan pendidikan S2 ku dengan menjadi lulusan terbaik. Enam tahun sudah aku tak melihat tanah ini, enam tahun pula tragedi itu telah berlalu.

Tanah ini adalah surga untuk penduduknya, sebelum bencana besar memporak porandakan. Kala itu aku masih terlelap, hingga ku dengar sebuah panggilan sekaligus perintah “Naya. ayo bangun” dia menarik tanganku untuk berlari bersama menuju tanah lapang di belakang rumahku. Di tangah gelapnya malam kami berlari melewati semak-semak sebelum sampai di lapangan voli. Gempa bumi, berhasil melenyapkan hampir seluruh bangunan, menewaskan banyak penduduk, tak banyak orang yang bisa terselamatkan. Aku masih terpejam, namun aku mendengar suara rintihan. Aku menoleh ke sisiku, nampak pemandangan yang tak mengenakan. Kakinya telah berlumur darah, sebuah pohon cukup besar menimpa kakinya. “ ibu..” jeritku disertai tangis. Aku berusaha menyingkirkan kayu tersebut, kayu itu begitu berat untuk bisa ku pindahkan, hingga ku lihat darah mengalir dari kakinya. Aku menatap ibuku dengan air mata yang terus menetes. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku juga tak melihat ayah disekelilingku. Di mana ayah? Aku menangis semakin kencang, takut dengan keadaan saat ini.

Kenyataan baru yang harus ku terima. Aku harus mengikhlaskan kepergian ayah. Kesedihan mendalam yang harus kurasa, tak akan pernah ada lagi senyumnya di hari-hariku, pertemuanku dengannya kemarin menjadi pertemuan terakhir kita

Memori itu berhasil mebuat mataku kembali meneteskan air mata. Aku menarik nafas, mencoba menetralkan perasaanku. Kejadian itu membuat banyak orang trauma, yang membuat mereka memutuskan untuk pindah dari tanah ini. Termasuk aku.

Setelah tragedi itu aku memutuskan untuk pergi jauh, menimba ilmu sedalam-dalamnya. Bukanlah keputusan yang mudah, meninggalkan dia sendirian dengan keadaan yang tak baik. Ibuku harus menerima kenyataan, jika kaki sebelah kanannya tak mampu untuk difungsikan lagi. Kami juga harus kehilangan harta, membangun kembali kehidupan baru.

Dia menginginkanku untuk pergi menggapai citaku, agar bisa menyambung perjuangannya. Perjuangan yang begitu mulia, membagikan ilmu untuk anak-anak di kampung. Saat inipun dia masih harus berusaha keras mencari pundi-pundi uang untuk membayar sekolahku, padahal berjalan saja dia harus dibantu tongkat kruk.

Aku mengingat pesannya sebelum aku pergi “ kembalilah, setelah kamu bisa menjadi mata air di tanah gersang ini” kakiku ragu untuk melangkah, takut jika tak mampu menepati pesannya, tapi aku sudah tak mampu membendung rindu belai kasihnya.

“Anaya” suara yang tak asing ditelingaku, suara yang begitu ku rindukan, ibu. Aku berbalik ke belakang, terlihat ibu yang berdiri tegak di bantu oleh tongkat kruk “ ibu yakin kamu akan mampir ke tempat ini” ucapnay di barengi dengan senyuman “Mari pulang, nak” aku berlari menggapai pelukannya, menangis dibahunya menyampaikan kerinduan yang telah lama aku tabung. “Aku merindukan mu, Bu” ungkapku dengan masih memeluknya. “ Begitupun dengan ibu”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *