Beberapa hari yang lalu, rubrik artikel dipenuhi dengan tulisan-tulisan tentang Kartini. Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia, terutama perempuan, turut memperingati hari lahirnya sosok perempuan bernama Raden Adjeng Kartini. Walaupun dengan adanya pandemi Covid-19, tidak membuat masyarakat, baik di desa maupun di kota, untuk tidak antusias dalam memperingati hari Kartini. Meskipun pada peringatan tahun ini, tidak semeriah peringatan pada tahun-tahun sebelumnya.
Kartini dikenal sebagai sosok perempuan yang telah berani memperjuangkan hak-hak perempuan yang telah lama direnggut. Hak yang sama dengan laki-laki dalam memperoleh pendidikan, misalnya. Atas kegelisahan itu, Kartini mencoba meningkatkan literasi dengan masuk ke sekolah-sekolah formal yang ada. Namun, karena akses perempuan untuk mendapatkan pendidikan dibatasi, membuat Kartini hanya bisa mengenyam pendidikan sampai di tingkat E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar.
Kartini menyadari bahwa jika dia yang anak Bupati saja tidak bisa mendapatkan akses pendidikan yang tinggi, apalagi anak seseorang yang di bawah Bupati. Sungguh rendah sekali kualitas perempuan pribumi saat itu. Ditambah pergaulannya yang luas dengan orang-orang terpelajar dan gemar membaca buku-buku yang berkaitan dengan kemajuan perempuan-perempuan Eropa, membuat Kartini semakin sadar bahwa betapa jauhnya ketertinggalan perempuan pribumi dibandingkan dengan perempuan-perempuan Eropa.
Selain itu, Kartini juga sering melakukan komunikasi dengan teman-temannya di Eropa melalui surat-menyurat. Isi surat tersebut berkaitan tentang curahan hati Kartini terhadap kondisi perempuan pribumi yang mengalami kendala agar perempuan pribumi bisa lebih maju. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dikompilasi menjadi sebuah buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht. Buku tersebut kemudian diterjemahkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Perjuangan Kartini tidak hanya berhenti pada ide-ide saja. Kartini juga mendirikan sebuah sekolah khusus perempuan. Setelah Kartini wafat, aktivitas pendirian sekolah khusus perempuan dilanjutkan di berbagai daerah. Perjuangan dan ide-ide Kartini yang kemudian mendasari Presiden pertama Indonesia mengeluarkan surat No. 108 Tahun 1964 tentang penetapan R. A. Kartini sebagai pahlawan nasional dan tanggal kelahirannya sebagai hari Kartini.
Atas aktivitas tersebut, banyak masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa Kartini adalah tokoh yang memperjuangkan feminisme di Indonesia. Padahal sebenarnya, kegiatan yang dilakukan Kartini tidak ada kaitannya dengan feminisme. Direktur Eksekutif INSISTS, Henri Shalahuddin menjelaskan aktivitas yang dilakukan Kartini adalah emansipasi, bukan feminisme. Sebab, yang diperjuangkan Kartini hanya sebatas hak-hak perempuan dalam memperoleh pendidikan.
Paradigma masyarakat yang keliru, berdampak pada banyak perempuan yang memperjuangkan feminisme. Memang Kartini pernah memiliki paradigma yang keliru, bahwa peradaban Eropa lebih unggul dibandingkan lainnya. Namun paradigma Kartini mengalami titik balik, yaitu ketika Kartini bertemu dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat).
Pada saat itu, Kartini menghadiri acara pengajian di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat. Yang menjadi penceramah dalam pengajian tersebut adalah Kyai Sholeh Darat. Kyai Sholeh Darat menyampaikan materi tentang tafsir surat Al-Fatihah. Kartini pun terkejut, karena dia baru saja mengetahui isi kandungan dalam surat Al-Fatihah setelah sekian lama dia tidak paham.
Kartini juga meminta Kyai Sholeh Darat untuk menuliskan tafsir Al-Qur’an secara keseluruhan. Kyai Sholeh Darat menyanggupi permintaan dari Kartini. Namun belum genap Kyai Sholeh Darat menuliskan tafsirannya, Allah telah memanggilnya lebih dulu. Surat yang ditafsiri adalah surat al-Fatihah sampai surat Ibrahim. Tafsiran karya Kyai Sholeh Darat adalah tafsiran pertama yang menggunakan huruf Pegon.
Berikut adalah ungkapan Kartini dalam surat yang ditunjukkan kepada J.H. Abendanon tertanggal 27 Oktober 1902 dan Ny Van Kol tertanggal 21 Juli 1902,
Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.
Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.
Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.
Dengan adanya surat-surat tersebut, menjadi semakin jelas bahwa sebenarnya yang diperjuangkan Kartini bersumber dari Islam. Titik balik dari kesalahan paradigma Kartini harus diungkap kebenarannya. Perjalanan paradigma seseorang menjadi sebuah keniscayaan. Begitu juga dengan Kartini. Dan masyarakat harus mempelajari paradigma Kartini hingga akhir hayatnya. Dalam konteks ini, Kartini masuk dalam kategori husnul khatimah. Wallahu a’lam bi al-showwab.





