Seperti kebiasaan sebelumnya, setiap tahun salah satu pondok pesantren terbaik yang berada di Kota Atlas mengadakan perlombaan antarangkatan. Setiap angkatan dikoordinir oleh ketua angkatan masing-masing. Meskipun dalam perlombaan peserta ditentukan oleh juri melalui kocokan, semua santri harus tetap melakukan persiapan.
Pagi itu, perlombaan di mulai pukul sembilan. Semua santri bersiap-siap untuk meramaikan perlombaan tersebut. Saat itu bertepatan lomba membaca kitab kuning.
Adri adalah salah satu santri yang belum begitu mahir dalam membaca kitab kuning, tapi tingkahnya yang lucu dan sikap-sikap keanehan dia yang menjadikan orang-orang menyukainya. Pagi itu, mukanya pucat dan penuh ketakutan karena khawatir jika segelintir kertas yang keluar dari botol tertera namanya, sedangkan pada malam harinya dia sama sekali belum belajar.
Perlombaan mulai dibuka dan pada saat itu tempat duduk Adri tepat disamping agak kebelakang sedikit dengan juri, dan jaraknya tidak ada satu meter. Saat juri sedang mengocok botol yang berada di atas meja, hati anak laki-laki satu itu mulai berdetak cepat. Tangan dan kakinya dingin seperti orang kedinginan yang menggigil.
Semua santri tanpa terkecuali tertuju pada Adri karena melihat mukanya yang begitu pucat dan penuh ketakutan. Resi, teman dekat Adri merasa heran kenapa temannya yang satu itu seperti orang ketakutan. Melihat mata Adri yang sedang fokus melihat botol yang dikocok juri perlombaan itu, Resi langsung menangkap bahwa Adri sedang ketakutan.
“Adri,,,,” (sambil menepuk pundak)
“Astaghfirullah,,,,” (dengan nada tinggi yang menunjukkan kekagetan pada dirinya)
“Kenapa dengan mukamu? Pucat sekali Kau?” Tanya Resi yang sebenarnya sudah mengetahui kalau Adri sedang khawatir jika nanti dia yang maju.
“Ngejek atau gimana, Kamu? Mukaku biasa aja nih,,,nih,,,nih,,,.” Sambil mengusap mukanya dan mendekat ke Resi menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa.
“Iya iya,,, tau kog kalau kamu sedang baik-baik saja.” Jawab Resi dengan sedikit senyum melihat tingkah Adri yang lucu itu.
Dua kali kertas yang jatuh dari botol tersebut lebih dari dua gulung. Sedangkan yang diinginkan hanya dua kertas. Hati Adri semakin berdetak cepat. Tepat kocokan ketiga dua gulungan kertas kecil jatuh di meja juri tersebut. Juri pelan-pelan sedikit membuka gulungan kertas. Adri melirik ke kertas yang sedang dibuka juri perlahan-lahan, terlihat dua huruf depan “Ad”.
Baru terlihat dua huruf, Adri tiba-tiba langsung pingsan. Ruangan yang awalnya tenang tidak ada suara sedikitpun tiba-tiba menjadi gempar melihat Adri yang pingsan.
“Kenapa itu Adri, kog tiba-tiba pingsan?” Suara bisikan para santri yang terdengar saling bertanya tentang keadaan Adri.
Adri langsung digotong santri putra ke UKS pondok pesantren tersebut. Juri kaget melihat Adri yang pingsan. Segeralah salah satu penanggung jawab perlombaan itu langsung menenangkan pada santri.
Setelah kertas yang dipegang juri terbuka lebar, ternyata nama yang keluar adalah Adera, salah satu santri putri yang pandai dalam membaca kitab kuning dengan salah satu partner yang telah disebutkan juri ketika pembukaan kertas kedua. Majulah keduanya yang melawan dua santri dari angkatan senior yang terpaut 2 tahun dengannya.
***
UKS
Resi dan dua temannya, Lintang dan Eksi memberikan minyak kayu putih di tangan, kaki, dan bawah hidungnya. Badan Adri yang dingin itu kiranya cepat pulih dan bangun. Resi menceritakan kepada Lintang dan Eksi bahwa mulai awal lomba dibuka, Adri merasa ketakutan jika yang maju lomba membaca kitab kuning adalah Adri. Tetapi dia malu bercerita kepada Resi.
Selang beberapa menit, Adri terbangun dan menceritakan semua yang terjadi padanya.
“Aduh, Adri. Kamu itu membuat gempar semua santri yang berada dalam ruangan tadi.” Cakap Eksi kepada Adri
“Iya,,iya,, Maaf, aku salah deh.” Jawab Adri dengan ekspresi malu.
Resi dan Lintang senyum-senyum melihat tingkah mereka berdua yang sama-sama alay-nya.
“Sudah-sudah, berhubung Adri sudah terbangun dari mimpi indahnya, mari kita balik mengikuti perlombaan.” Ajak Lintang dengan sedikit menyindir kepada Adri.
***
Baru selesai membacakan tata tertib dan cara penilaian juri, datanglah Adri, Resi, Lintang, dan Eksi di Aula tersebut dengan tempat duduk yang masih sama seperti yang tadi.
“Kenapa tadi kamu pingsan, Dri? Kamu takut maju ya?” Tanya salah satu juri yang berada di samping depan Adri”
Jawab Adri dengan wajah malu, “iya, Pak. Maaf”
Tiba-tiba juri itu lupa membawa kitab dan penanggung jawab lomba tersebut juga tidak menyediakan. Juri tersebut langsung bertanya kepada santri di belakangnya, salah satunya, Adri. Santri yang paling dekat tempat duduknya dengan juri.
“Dri, kamu punya soft file nya?” Tanya juri tu kepada Adri.
“Punya, Pak. Tunggu sebentar saya ambilkan.”
Tanpa pikir panjang dan bertanya soft file yang dimaksud, Adri langsung bergegas mengmbilnya.
Selang beberapa menit,,,,,
“Ini, Pak!” Sambil memberikan apa yang telah juri perintahkan kepada Adri.
“Siapa yang minta ini?” Tanya juri.
“Loh, bukannya bapak tadi yang minta?”
“Haduh, Adri,,,, yang bapak minta itu soft file kitab kuning ini, bukan soffel penghindar nyamuk.
“Hah,,,,, masa, Pak?” Dengan wajah kaget dan sedikit malu
(Pantas saja, tadi saya juga berpikir, buat apa bapak minta soffel dan apa hubungannya? Husnudzan saya mungkin bapak digigit nyamuk). Ucapan Adri dalam benak.
“Maaf, pak. Saya kira bapak ingin soffel. Sebab dari tadi bapak garuk-garuk kaki. Dugaan saya bapak habis digigit nyamuk. Jadi saya langsung tertuju pada soffel, bukan soft file.” (Jawab Adri kepada Bapak Juri dengan nada tersipu malu.
Adri kembali ke tempat dengan melihat Resi, Lintang, dan Eksi tertawa tertahan melihat kelakuan aneh Adri.
“Kenapa kalian? Tertawa gak jelas?”
Jawab Eksi dengan nada tertawa, ” haduh,,, Adri, kamu itu lucu banget sih? Masa ya, kamu kasih soffel bapaknya? Logikanya gini, musim hujan gak, nyamuk juga gak ada. Bisa-bisanya kamu langsung tertuju pada sofffel penghindar nyamuk. Sedangkan ini lomba baca kitab dan disitu belum ada kitabnya. Masa kamu gak tau sih?”
“Hehehe,,,,, iya ya,,, kenapa tadi saya tidak terpikirkan tentang itu?” Jawab Adri tersipu malu
“Sudah-sudah, yang lalu biarlah berlalu.” Jawab Lintang.
“Adri, pikirkan dahulu sesuatu yang akan kamu kerjakakan. Apalagi hal-hal seperti ini, melenceng banget sama keadaan.” Nasihat Resi kepada Adri.
(Jawab Adri hanya dengan anggukan dan senyuman).
Oleh: Hanik As’adah, Sekretaris Parlemen Kabinet Militan Monash Institute







