Seketika dia jadi penulis handal yang tak terbantahkan. Sebelumnya, dia bukanlah seorang penulis yang hebat. Bukan pula orang yang dikenal sebagai seorang penulis. Bahkan, ketika dipaksa-paksa untuk menulis pun, dia ogah-ogahan. Sampai orang yang memaksa itu pun kelelahan dalam menyuruhnya menulis, tetap saja dia tidak mau menulis. Entah apa yang ada di pikirannya. Padahal dia hidup di antara para penulis handal. Tapi anehnya, dia sendiri saja yang bukan penulis (lebih tepatnya, belum tampak bakat menulis pada dirinya).
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun; dia jalani laiknya orang yang tak pernah mengenal tulis-menulis. Hingga pada suatu ketika, ada kelas menulis yang diadakan atas usulan salah seorang temannya dengan dibimbing langsung oleh guru menulisnya. Semua orang wajib ikut. Tanpa terkecuali. Mereka diberi waktu satu jam untuk dapat menyelesaikan tulisan masing-masing. Satu persatu dari mereka mengungkapkan kepada seluruh peserta judul yang akan dibuatnya menjadi sebuah tulisan. Agar mereka dapat berkonsentrasi dalam menyelesaikan tulisan masing-masing, guru menulisnya tersebut pamit meninggalkan ruangan, dan dia berjanji akan kembali lagi ke sana dalam waktu satu jam mendatang, tepat ketika mereka sudah harus menyelesaikan tulisan.
Menulis pun dimulai. Semua orang di sana mulai menggerakkan jar-jari mereka, menuangkan ide-ide yang sebelumnya telah terangkai. Dia yang tak terbiasa menulis, mati-matian menyusun kalimat, merangkai kata-kata. Kata demi kata, satu persatu dirangkainya. Dia berusaha sepenuh tenaga mewujudkan satu kalimat dalam tulisannya. Hanya satu kalimat. Pikirannya bekerja keras. Keringatnya bercucur deras. Tak pernah dia menulis dalam waktu sesingkat itu. Sebelumnya, butuh waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu baginya untuk menyelesaikan satu tulisan.
Ketika teman-temannya sudah dapat setengah halaman, satu kalimat pun belum dia selesaikan. Tidak sesuai dengan yang ingin dia ungkapkan, langsung dihapus. Menulis lagi, hapus lagi. Dan itu terjadi berulang kali. Amat sulit memang, ketika melakukan suatu hal yang belum biasa dilakukan sebelumnya. Butuh proses panjang untuk dapat menulis dengan gambira-ria, mengalir tak terhalang. Setengah jam berlalu, waktu pun tinggal setengah jam lagi, tapi dia baru saja menyelesaikan satu paragraph. Itupun sampai membuat keringatnya bercucuran.
Dia menengok jam. Tak lama lagi, waktu akan berakhir. Dia semakin keras berpikir, mengeluarkan ide-idenya. Adrenalinnya meningkat. Ketegangan makin tampak jelas di raut mukanya. Dengan sekuat tenaga, dengan seluruh kemampuan, dia gerakkan jari-jemarinya untuk marangkai kata demi kata, membentuknya menjadi tulisan. Waktu tinggal lima belas menit lagi.
Satu halaman akhirnya dapat diselesaikanhya. Saking konsentrasinya dia dalam mengejar target, sampai-sampai dia tidak sadar, bahwa ternyata dalam waktu empat puluh lima menit, dia bisa membuat satu halaman tulisan. Sebuah rekor yang belum pernah dicapainya sebelumnya. Dia tetap berkonsentrasi penuh melanjutkan tulisannya yang sekarang sudah mulai dapat dipahami alur ceritanya. Ketika itu, dunia seakan sunyi. Hanya ada dia dan laptopnya, yang terus menyusun kata. Dia benar-benar berkonsentrasi penuh.
Tak terasa waktu tinggal tujuh menit lagi, dan kini tulisannya sudah mencapai satu setengah halaman. Tepat ketika waktu sudah genap satu jam, guru menulisnya datang. Dia yang tak pandai menulis itu, ternyata berhasil menyelesaikan tulisan dua halaman penuh. Teman-taman di sekelilingnya sempat dibuat heran oleh kemampuannya itu. Apalagi dirinya sendiri; dia sempat tak percaya atas apa yang dialaminya barusan. Rasanya seperti mimpi.
Tak Menyangka
Satu Minggu sejak kelas menulis itu telah berlalu. Dia tidak berharap sama sekali tulisannya akan dimuat di media mana pun, bahkan terpikirkan pun tidak. Dia sadar, tulisannya tidaklah sebagus tulisan teman-temannya yang setiap hari menulis, atau setidaknya setiap seminggu sekali tulisanhya dimuat di beberapa surat kabar. Lima hari berlalu lagi. Ketika dia mengecek media yang tulisan teman-temannya biasanya dimuat di sana, tiba-tiba dia melihat ada tulisan yang ditulisnya ketika kelas menulis waktu itu terpampang di sana.
Sontak saja hal itu membuatnya tak percaya. Dia tak habis pikir; tulisannya yang menurutnya (karena bukan seorang penulis handal seperti teman-temannya) sama sekali tidak layak muat, ternyata dimuat juga oleh redaktur. Sejenak dia merenung, “Perasaan tulisanku tidak bagus-agus amat. pun hanya dua halaman, tapi kok dimuat ya? Apa mungkin ini adalah bentuk motivasi yang diberikan redaktur itu kepadaku agar aku lebih giat dalam menulis?”
“Mungkin saja begitu. Sebab, aku rasa tulisanku ini sebenarnya tidak layak muat. Mungkin saja itu merupakan sebuah bentuk sindiran kepadaku karena aku adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menulis di sini, lebih tepatnya paling jarang, sekaligus merupakan sebuah motivasi agar aku lebih giat lagi dalam menulis.” Setelah itu, dia teringat dengan perkataan Imam al-Ghazali bahwa “Kalau engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama’ besar, maka jadilah penulis.”
Dia merenung, “Aku bukan anak raja yang mempunyai kekuasaan dan kerajaan, bukan pula anak seorang ulama’ besar yang terkemuka. Aku hanyalah anak orang biasa, orang kampung, bukan siapa-siapa. Jadi, aku harus jadi penulis, betapa pun caranya, meski aku harus tidak tidur sehari semalam demi menghasilkan satu tulisan. Itu adalah satu-satunya jalan yang bisa aku tempuh, mengingat aku bukanlah anak siapa-siapa. Setidaknya dengan begitu, aku akan bisa meningkatkan kemampuan dan kualitasku. Lebih-lebih aku akan dapat mengangkat derajat dan membuat bangga orang tuaku kelak.”
Sontak, dia langsung bangkit, semangatnya membara. ”Baiklah. Kalau memang itu yang diinginkan redaktur itu, dan itu merupakan satu-satunya jalan yang bisa aku tempuh, mulai sekarang aku akan jadi seorang penulis. Aku akan belajar menulis. Aku akan lebih giat lagi dalam menulis. Redaktur itu sangat menghargaiku. Aku tidak akan menyia-nyiakan penghargaan darinya. Aku akan jadi penulis. Imam al-Ghazali benar, aku harus menulis. Aku harus jadi penulis. Menulis itu juga penting. Menulis adalah kebutuhan setiap orang. Bahkan, aku juga pernah membaca bahwa menulis adalah cara untuk mengikat pengetahuan,” sambil mengepalkan tangan.
Setelah itu, dia langsung mengambil laptopnya. Dia mulai menulis, menggerakkan jemarinya, menulis. Sejak saat itu, setiap hari, dia rajin menulis: artikel, opini, cerpen, puisi, dan karya-karya tulis lainnya. Dia mulai suka menulis. Seminggu setelah itu, ada sekitar delapan tulisan yang dihasilkannya. Tiga di antaranya sudah dimuat di media: dua di media online dan satu lagi di media cetak.
Waktu berjalan satu bulan. Tulisannya yang berhasil dimuat sudah ada sekitar sepuluh tulisan, baik di media cetak maupun online. Tiga bulan setelahnya, total tulisannya yang dimuat hampir mendekati angka tiga puluh. Lima bulan kemudian, sudah ada sekitar seratus lebih tulisannya yang berhasil di muat, baik dalam bentuk artikel, opini, cerpen, puisi dan lainnya. Dua puluh di antaranya dimuat di dalam surat kabar nasional. Kini, dia telah menjadi pelanggan pengirim karya tulis setiap seminggu sekali di media online nasional. Dia benar-benar telah menjadi seorang penulis yang handal.
Oleh: Rojul al-Munir, Ahl Daar al-Qolam







