Akhir akhir ini, semua pemberitaan di koran, radio, televisi, dan media-media lainnya tidak lain adalah pemberitaan tentang virus corona. Virus yang bukan termasuk makhluk hidup, tetapi kedatangannya mampu menjadikan ramai seluruh makhluk hidup, termasuk manusia. Bukan hanya di Indonesia, beberapa negara di belahan bumi pun merasakannya.
Merebaknya virus corona membuat aktivitas di semua sektor terhambat, tak terkecuali di bidang pendidikan. Berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah mulai dikeluarkan, salah satunya adalah menghimbau agar semua masyarakat meminimalisir terjadinya kontak sosial dengan orang lain secara langsung. Tak dapat dipungkiri bahwasannya himbauan tersebut membuat semua orang yang terlibat harus mencari cara dan solusi yang terbaik.
Dalam bidang pendidikan, agar proses pembelajaran tetap berjalan, pilihan untuk melakukan metode pembelajaran jarak jauh menjadi sebuah pilihan yang tidak terelakkan. Metode ini dapat menjadi cara dan solusi agar seorang pengajar dengan peserta didik tetap bisa melakukan kegiatan belajar mengajar selama himbauan pembatasan fisik ini masih harus dijalankan. Hal inilah yang membuat banyaknya Ibu yang menjadi pengajar dadakan bagi anak-anak mereka. Yang paling susah adalah jika anak-anak mereka masih berada di tingkat pendidikan yang paling bawah, yaitu di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar.
Dengan umur anak-anak mereka yang masih harus didampingi dan diawasi secara keseluruhan, maka mau tidak mau si Ibu harus terjun langsung menggantikan peran guru-guru di sekolah. Pada dasarnya, seorang Ibu adalah pendidik utama bagi anak-anaknya, guru sebagai pentransfer ilmu dan pengganti orang tua ketika anak-anak di sekolah. Meskipun memang peran seorang guru juga sangat berpengaruh dalam kegiatan belajar seorang anak, tetapi tetap saja, kompleksitas pendidikan ada pada seorang Ibu.
Saya bukan mahasiswi yang belajar di bidang tarbiyah/ pendidikan, terlihat aneh memang jika saya menulis hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Tetapi saya pernah merasakan menjadi guru bantu di salah satu lembaga pendidikan anak usia dini selama 2 bulan, yang pada saat itu untuk mengisi waktu luang ketika masa libur kuliah. Dalam kurun waktu 2 bulan itu, setidaknya saya belajar dan sedikit mengetahui bagaimana problematika seorang guru dalam menghadapi berbagai macam tipe anak. Dari berbagai macam tipe anak-anak tersebut, ternyata seorang guru juga harus menyiapkan berbagai cara dalam mendidik mereka.
Setiap anak mempunyai tipe berbeda. Artinya, setiap Ibu dari mereka juga mempunyai tipe yang berbeda-beda. Ada Ibu yang punya tipe googling, belum mengajarkan apa-apa sudah menyerah, meminta anaknya untuk mencarinya di google. Ada Ibu yang tipenya tidak mau ribet, Ibunya yang mengerjakan pekerjaan anaknya karena si Ibu tidak sabar dan takut jika merusak keharmonisan relasi antara Ibu dan anak. Ada Ibu yang pantang menyerah, semua usaha dilakukan agar anaknya faham. Ada juga tipe Ibu yang aman damai, karena dulunya seorang yang kutu buku, dan tak bosan mencari ilmu.
Dari beragam fenomena yang terjadi seperti yang disebutkan di atas, seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa menjadi perempuan memang tidak semudah yang selama ini kita bayangkan. Bahwa ada setumpuk tugas dan amanah yang diletakkan. Bahwa ada sejumlah kewajiban yang harus ditunaikan. Termasuk dalam hal pendidikan dan pengajaran, menjadi bagian yang tidak boleh ditinggalkan.
Dari beragam fenomena yang terjadi seperti yang disebutkan di atas, seharusnya menjadi temparan bagi kita. Tentang persepsi orang-orang yang selama ini menganggap bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena pada akhirnya juga tugas utamanya mengurus anak. Memang benar, bahwa peran utama seorang perempuan adalah menjadi mar’atus sholihah, zaujatul muthi’ah, dan madrasatul ula. Sekarang coba persepsi itu dibalik, bukankah karena peran itu yang seharusnya menjadikan perempuan lebih mendekat kepada ilmu ? karena tidak mungkin perihal menjadi seorang pendidik, menjadi seorang pengajar, itu bisa beramal tanpa berilmu.
Mendidik generasi bukan hal mudah dan biasa. Butuh bekal yang tidak ala kadarnya. Bagaimana mungkin akan lahir generasi terbaik jika ikhtiar itu tidak bermula dari kita ? coba kita lihat sejarah lagi, bagaimana Ibu dari Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel di usia yang masih belia itu setiap hari turut serta mengajar putranya. Tidak heran jika perannya mampu mencetak pemimpin dengan kontribusi seluas dunia. Keikutsertaan Ibu dari Muhammad Al Fatih tentunya butuh bekal untuk menemani terjal dan lika-liku anaknya dalam menuntut ilmu.
Jadi, persepsi yang mengatakan bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan karena hanya akan berkutat pada urusan rumah tangga adalah tidak benar. Dengan adanya tugas mulia itulah yang seharusnya membuat kita sadar bahwa kita harus mempersiapkannya dengan sebaik-baik bekal. Kalau kata Mba Dewi, penulis buku Awe-Inspiring Us, ‘’Karena mendidik anak bukan perkara sederhana, maka perlu Ibu yang berilmu untuk membesarkannya. Karena mencetak generasi Rabbani adalah sebuah cita-cita, maka perlu Ibu yang luar biasa untuk mendidik generasi terbaik umat dan bangsa’’.
Pada intinya, sebagai seorang perempuan haruslah seseorang yang haus akan pengetahuan, terus belajar, dan mendekat pada keilmuan. Karena hal itu yang Insya Allah akan membuatnya tunduk pada ketaatan dan ketaqwaan.
Oleh: Ida Kholifah, Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, Sekretaris Bidang Tabligh IMM Sayf Battar







