Santri dan Marxisme

Seorang santri telah terbiasa disuguhi kitab-kitab klasik dalam mendalami ilmu pengetahuan agama. Basic pendidikan pesantren adalah kitab kuning yang berbahasa arab. Institusi pendidikan yang tidak mempelajari kitab kuning belumlah bisa disebut sebagai institusi pesantren. Sebab, kitab kuning merupakan tonggak terkuat bagi keberlangsungan pesantren. Namun apakah keliru apabila ada seorang santri yang belajar ilmu-ilmu yang lain tidak berpusat pada ilmu-ilmu agama semata. Misalnya saja, belajar tentang filsafat, logika dan kebahasaan.

Mempelajari ilmu itu tak terbatas pada disiplin ilmu tertemu. Belajar berbagai macam ilmu sebuah keharusan asal membawa pada sebuah kemaslahatan. Belajar matematika, fisika, biologi dan ilmu-ilmu keIPSan itu pun juga diperbolehkan. Namun mengapa sebagai orang mempermasalahkan belajar filsafat?. Bukankah dengan belajar filsafat seseorang memiliki pemikiran yang mendalam dan universal?. Saya agak geli mendengar orang “yang” mengharmkan filsafat, dan menganggap filsafat sebuah ilmu yang bertentangan dengan agama, terutama islam.

Bahkan ada yang mengira bahwa orang yang belajar filsafat akan menghambat pada pekerjaannya. Mereka menilai para filosof tidak taktis, dan tidak cepat berbuat. Ini kekeliruan yang sama sekali tidak mendasar. Dasar utama yang ada pada pikirannya adalah persipsi yang tak karuan. Padahal seorang yang memiliki pikiran filosofis dan tidak gegabah dalam melakukan apapan.

Kalau dikaitkan dengan santri, tidak ada yang perlu dipersolkan seorang santri yang mempelajari pemikiran karl marx seorang pemikir Jerman tersebut. Justru ada kesamaan dari sikap karl marx yaitu sama-sama membela kaum tertindas dari kezaliman, kediktatoran dan perbuatan-perbuatan seorang tirani. Nabi-nabi kita pun di utus untuk melawan semua bentuk penindasan. Tidak ada satu pun nabi yang mendukung bentuk kezaliman. Perlawanan demi perlawanan di alami oleh seorang nabi dalam membela kaum-kaum yang diperlakukan tidak manusiawi. Sebut saja Nabi Muhammad SAW, ia seorang pejuang yang rela mempertaruhkan nyawanya demi membela kaum-kaum yang termarginalkan. Apa bedanya dengan Karl Marx?.

Bacaan Lainnya

Mungkin marx satu sisi berbeda dengan Nabi Muhammad tapi sisi yang lain juga sama, yaitu bergerak memperjuangkan nasib rakyat kecil dari segala macam ketidak adilan. Nilai-nilai yang diperjuangkan keduanya adalah menciptakan kebahagian untuk dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.

Saya tidak menyamakan seorang Nabi Muhammad dengan Karl Marx sebab itu tidak mungkin terjadi. Tetapi keduanya mempunyai andil dalam memperjuangkan rakyat tertindas pada zamannya.

Oleh sebab itu, santri belajar teori-teori yang digelontorkan oleh Karl Marx tidaklah sebuah dosa dan kekeliruan besar. Bahkan jika tidak belajar teori marx tidak akan dapat menambah wawasan pengetahuan untuk menjadi seorang pejuang yang benar-benar merakyat. Tanpa mengesampingkan belajar sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mengarungi etape-etape perjuangan melawan segala ketidakberesan.

Akhir-akhir ini seiring dengan perkembangan zaman tak menutup dari perkembangan budaya, dan akses pengetahuan bisa diperoleh melalui banyaknya fasilitas, dan bahkan akses untuk belajar filsafat karl marx pun sangat muda di dapat. Dan itu tidak salah asalkan seorang santri tetap taat pada agamanya meskipun ia menjadi seorang marxisme. Wallahu’alam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *