Ibu

Sempat tebersit dalam pikiranku, bagaimana caranya membalas kebaikan seorang ibu? Banyak sekali kebaikan dan pengorbanan yang dilakukannya. Mungkin jika dihitung-hitung tak akan mampu kita membalas seluruh kebaikan yang dilakukan oleh seorang ibu. Kasih ibu kepadaku tak terhingga sepanjang masa. Dia berkorban tanpa mengharap suatu imbalan. Ibu adalah orang yang paling banyak berpartisipasi dalam hidupku. Dari mulai melahirkanku, merawat, mengajari ilmu tentang kehidupan sehari-hari dan masih banyak sekali partisipasi ibuku dalam kehidupanku ini.

Banyak sekali kenangan dan ceritaku bersama ibu. Ibu adalah orang paling penyabar, tekun, pekerja keras dan masih banyak lagi sifat yang dimilikinya. Walau terkadang ibu juga marah padaku karena terkadang aku bermalas-malasan. Mungkin jika tidak begitu aku tak akan sadar. Tapi kadang, aku juga terbawa emosi jika ibuku sedang emosi.

Pernah suatu kali aku bahkan sampai membalas bentakan ibuku karena saat itu aku juga dalam keadaan emosi. Tapi setelah itu ada rasa  penyesalan. Dalam benakku akupun tersadar bahwa ibuku marah karena ulahku juga. Bahkan rasa penyesalan itu masih terasa hingga kini. Saat itu aku belum sempat meminta maaf pada ibuku karena gengsi. Sampai pada lebaran tahun lalu aku membulatkan tekadku dan menghilangkan rasa gengsiku, akupun memutuskan untuk meminta maaf pada ibu.

Ibu juga meminta maaf dan memaafkanku. Walaupun sudah meminta maaf masih ada rasa bersalah di lubuk hatiku. Rasanya penyesalan ini tak akan bisa hilang dari hidupku. Karena rasa penyesalan ini aku pun sadar dan berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulanginya kembali. Karena kejadian itu juga, aku pun tersadar bahwa menjadi seorang ibu itu tidak mudah dan banyak sekali lika-liku kehidupan yang dialaminya, juga ia memikul tanggung jawab yang lebih besar dari pada seorang ayah.

Sedih dan senang dilaluinya dengan tabah tanpa keluh kesah. Pokoknya, ibu adalah orang terbaik dalam hidupku ini. Sampai-sampai, ada hadits yang mengumpamakan surga ada di telapak kaki ibu. Itu menandakan bahwa tempat yang setinggi surga saja ada di tempat paling bawah pada tubuh seorang ibu. Jadi, filosofinya adalah tak perlu kita mencari ilmu yang sangat tinggi demi mendapatkan akhirat, jika ibumu saja tak kau rawat. Ibu yang telah mendidikmu sampai pintar dengan penuh perjuangan kau tinggalkan pada saat kau mencapai kesuksesan. Jangan sampai itu terjadi pada diri kita, tanamkan pada hati kita untuk selalu mengingat ibu bagaimanapun keadaan kita. Di saat sedang jatuh ataupun bangkit. Supaya kita mendapat ridanya di dunia dan akhirat. Karena menurutku, sebenarnya kunci kesuksesan dunia-akhirat adalah ilmu yang bermanfaat dan rida ibu.

Ibuku adalah orang paling istimewa dalam kisah hidupku. Tapi, ibu memang hebat, bisa menerima apapun kondisi yang dia alami, kapanpun itu. Tanpa banyak mengeluh. Mungkin terkadang ia juga merasa capek dengan rutinitas sehari-harinya. Dari mulai fajar menyingsing sampai larut malam, walau ibuku sering tidur paling cepat. Munkin karena capek berlebih.

Rutinitas sehari-hari ibuku juga sangat banyak, dari mulai pagi, ibuku selau bangun lebih dulu daripada yang lain. Setelah ia terbangun biasanya ibu langsung mandi dan memasak sarapan pagi, setelah itu ia membangunkan kami semua, lalu kita sarapan sambari menunggu kami sarapan biasanya ia menyetrika baju sekolahku dan adikku. Dilanjut dengan mengantarku dan adikku ke sekolah. Sembari pulang ke rumah, biasanya ibuku belanja untuk makan siang. Dan masih banyak lagi rutinitas ibuku. Hebatnya lagi dia bisa menjalankan rutinitasnya tanpa bosan dan banyak mengeluh.

Kita takkan bisa membalas kebaikan seorang ibu. Tapi ibuku pernah berkata,

“Belajarlah dengan sunguh-sungguh, jadilah orang yang jujur, disiplin, mudah beradaptasi di manapun, bagaimanapun keadanmu. Selalu mendoakan Ibu dan Ayah, jadilah penghafal Qur’an, menjadi orang sukses dunia akhirat, banggakan Ibu dan Ayah. Itu saja sudah cukup membuat Ibu bahagia.”

Aku selalu mengingat semua pesan ibuku. Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk megapai impianku dan bisa membanggakan kedua orangtuaku.

Bagiku, itu adalah motivasi yang menambah ambisiku untuk berkompetisi menjadi orang terbaik diantara yang baik. Akan kutunjukan pada kedua orangtuaku bahwa aku bisa mengapai impian mereka kelak. Aku pun akan selalu berusaha sekeras-kerasnya untuk menggapai impianku.

Sekarang aku sedang mondok. Pondokku ini berbeda dari yang lain. Di sini tidak ada hari libur. Jadi, liburan kali ini digunakan untuk sesuatu yang lebih produktif.

Di momen Hari Ibu ini, rasanya ingin aku meminta maaf pada ibuku dan mengucapkan selamat hari ibu. Sekarang aku sedang di pondok. Pondokku ini berbeda dari pondok pada umumnya. Di sini tidak ada hari libur, karena Planet Nufo menganggap libur itu membuat kita menjadi kurang produktif. Maka dari itu, di pondokku ini, hari libur ditiadakan dan digunakan untuk meng-upgrade diri supaya lebih baik lagi. Jadi, pada saat yang lain berleha-leha, kita tetap belajar sehigga membuat kemampuan kita meningkat. Walau ada tenaga ekstra yang dikeluarkan, tapi setidaknya itu tidak sia-sia.

Liburan kali ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan yang masih kurang di bidang tahfiz, tahsin, imla’, juga literasi. Alhamdulillah, kemampuan imlaku sudah bagus, jadi sekarang aku berada di kelas tahsin dan aku memiliki sebuah target, yaitu naik ke kelas tahfiz dan menghafalkan surah Al-Kahf secepatnya.

Berhubung sebentar lagi tanggal 22 di Bulan Desember, hari itu bertepatan dengan Hari Ibu. Jadi aku mengucapkan SELAMAT HARI IBU teruntuk ibuku dan seluruh ibu yang telah mengorbankan waktu untuk mendidik dan merawat anak mereka dengan sepenuh hati.  Aku juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada ibuku dan juga meminta maaf yang sebesar-besarnya atas setiap tindakan yang kurang berkenan di hati ibu. Cukup sekian, terima kasih.

 

Oleh: Jalu Sri Raksaka Suwarnadwipa, Siswa Kelas 7 SMP Alam Nurul Furqon, Anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) Komisariat Planet Nufo

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *