Multikulturalisme: Manusia dan Kesetaraan

Multikulturalisme merupakan kebudayaan. Multi yang berarti banyak, kultur yang berarti budaya, dan isme yang berarti paham atau aliran. Dari ketiga kata itu terkandung akan martabat manusia yang hidup dalam kelompoknya dengan kebudayannya masing-masing yang unik. Oleh sebab itu, setiap maanusia merasa dihormati. Multikulturlisme adalah sebuah ideologi dan alat untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaaannya, maka konsep kebudayaan harus dilihat dalam prespektif fungsinya bagi kehidupan manusia.

Dewasa ini, multikulturalisme sering dianggap sebagai sesuatu yang sulit untuk dijalankan. Sebab, dalam memahami multikulturalisme dan menjalaninya memang harus dengan kesabaran dan menghilangkan rasa egois agar tidak terjadi problem. Namun, jika dipahami lebih teliti lagi, pendapat itu akan salah aprah. Padahal, multikulturalisme memang sebuah relasi pluralitas yang di dalamnya terdapat problem. Dalam multikulturalisme jelas memperkaya pluralisme, meskipun tidak bisa disamakan dengannya.

Paradigma pembangunan tentang multikulturalisme semakin beragam dan semakin menjdi potensi yang dimiliki oleh bangsa. Konflik etnis, perlakuan diskriminatif, kesalahpahaman, marjinalisasi, kekerasan fisik, dan kesenjangan sosial dari kelompok yang memiliki anggapan bahwa budayanyalah yaang lebih baik dari budaya lain merupakan hasil dari pengabaian keragaman kebudayaan di lingkungan.

Islam memandang multikulturalisme sebagai sebuah keniscayaan. Sehingga keragaman kebudayaan dan perbedaan tidak akan menjadi sebuah konflik atau masalah dalam lingkungan dan bangsa. Sedangkan dalam pandangan taswuf, keragaman ini adalah bentuk ajaran ma’rifat yang menjadi salh satu tingkat maqamat. Mengenal diri sendiri dapat mengenalkan terhadap hakikat kebenaraan. Semua dapat diwujudkan melalui diri sendiri yang selalu bersinergi dengan baik dan ikhlas sehingga dapat memunculkan sikap menerima segla bentuk keragaman yaitu dengan memiliki rasa toleran dengan sesama ciptaan Tuhan.

Bacaan Lainnya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujuraat: 113)

Ayat di atas merupakan salah satu ayat yang menjelaskan bahwa perbedaan dan keragaman yang ada di kehidupan memang adalah fitrah dan sunnatullah atau sesuatu yang dikehendki Allah. Semua manusia di hadapan Allah itu setara dan yang membedakan hanya ketakwaannya kepada Allah.

Untuk lebih memahami ayat di atas, bisa dihubungkan dengan Q.S al-Kafirun: 6 yang menjelaskan tentang toleransi. Islam sangat menghargai perbedaan bergama dalam kehidupan multikultural, sehingga selalu menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (al Kaafiruun: 6)

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia itu memiliki dua kesetaraan menurut pandangan tasawuf. Pertama, manusia sebagai makhluk Allah. Sebagai makhluk Allah yang memiliki aqal dan ketakwaan yang membedakan dengan makhluk lain, manusia ini diciptakan dalam sebaik-baik bentuk serta bertanggung jawab sebaagai khalifah. Namun, manusia tetap setara dengan makhluk-makhluk Tuhan lainnya seperti hewan, tumbuhan, dan alam. Kedua, manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial yang diciptakan secara berbangsa-bangsa, bersuku-suku, manusia tidak dapat dinilai dari bentuk fisik, suku, dan keturunan. Sebab, kehidupan manusia di dunia hanya digunakan sebagai usaha dan ikhtiar. Oleh sebab itu, manusia sebagai makhluk sosial harus saling menghargai dan bekerja sama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *