Tercenung dalam renungan sendu
Bersimpang siur, majemuk, penuh dalam pikirku
Kalut, yang sejatinya adalah hampa yang menyamar
Tentang manusia, euforia cinta, dan rasa sabar
Terkadang, cinta manusia itu patut diperdebatkan
Hadirnya hangat menyantunkan, atau malah klise merenyuhkan
Baik, ciamik, mustahil menjelma pelik?
Atau buram, suram, mencekam, dan berisik?
Aku, manusia yang tak ubahnya sepetak bilik usang
Kelabu, tiada warna “cinta” yang menghiasi
Sepasang jendela ringkih, diterobos sorai romansa orang
Yang kan berlanjut pada dengki yang mengisi hati
Sangat mulus jalan cinta mereka, rasanya
Tiada tabir, tersingkap penuh sebagaimana mestinya
Manakala cerita mereka membekas dalam benakku
Lihatlah! Bergilir derai pilu itu, semua tertuju padaku
Memang, gemerlapnya cinta terasa tatkala remaja
Menggila, bermula ketika indra mata saling bersua
Renjana bak mendekap erat hingga relung hati
Secawan, senampan, semisi, bahkan terus sehati
Aku, manusia yang tak menahu akan hakikat dari cinta
Membuat asumsi pribadi, tentang kedamaian kata “cinta”
Cukup menilik sedikit, empat mata itu amat ciamik
Dan mereka saling berpegang tangan, benar-benar resik
Sudahlah, kadung berapa tahun kubersitegap dengan petuah Ayah
“Ada anak Ayah yang pacaran? Ayah usir dari rumah!”
Lantas jalan apa yang perlu jiwa dan ragaku merasa
Untuk menyelaraskan arti dari cinta nan semenjana?
Kendatipun sekadar meraba tangannya
Kendatipun sebatas menilik parasnya
Kendatipun sebatas mengangankan rupa
Semuanya dinilai haram, dosa, berujung neraka?
Sakit, saat mengetahui secercah puing realita
Pedih, kala mengecap hukum “cinta” dalam agama
Kalutku membungkam diri dalam asrama
Waktu “Pelangi Cinta” tersibak lebar di depan mata
Konon, cinta sesama manusia itu adalah buta
Sebelum ijab dilangitkan, semua rupa menjadi zina
Hanya cinta kepada-Nya, yang paling mulia
Lantas, apa daya yang absah bagi khalayak remaja?
Kala untaian frasa menjawab, aku mendengarkan
Mustahil Islam melarang selagi itu baik dan aman
Remaja, semua yang didekapnya hanya keingin tahuan
Tiada naluri berkonsisten, selalu diacuhkan oleh rasa bosan
Alangkah absahnya, remaja menghimpun ilmu dahulu
Perihal cita, cinta, dan komitmen pada-Nya
Hei, sadarlah! Cintamu kini, hanya keindahan semu
Alangkah absahnya, meluruskan langkah menuju ridla-Nya
Hei sadarlah! Berapa banyak cinta yang tersia-siakan?
Perihal makan, minum, cara berpakaian, dan berpikiran
Dipermasalahkan, menjadi alasan untuk memutuskan hubungan
Berujung pedih, mengakhiri kehidupan yang mesti berjalan
Bersyukurlah, teman!
Engkau berada dalam naungan yang siaga dan mapan
Memberimu proteksi, afeksi, serta krusialnya keimanan
Sehingga jauh sekali masa depanmu dari keterpurukan
Mengapa enggan mengkaji diri?
Mengapa tak usah membenah hati?
Melejit tinggikan nama, doa, dan upaya
Kelak, “dia” kan bersyukur tuk menjadi yang engkau punya
Oleh: Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang Rembang, Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo







