Semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan dari Allah. Salah satu ciptaan-Nya adalah manusia yang diciptakan dengan jenis kelamin berbeda-beda dan memiliki peran sesuai dengan proporsinya masing-masing. Sebenarnya antara laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan antara keduanya adalah ketaqwaan kepada Allah.
Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13
عَلِيمٌ خَبِيرٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa di sisi Allah, manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai derajat yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaannya, yakni sejauhmana istiqamah mengimani dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring dengan perkembangan zaman, perempuan terus berkembang dan berubah. Hal ini bisa terjadi karena akulturasi budaya ataupun faktor lainnya. Sesuai dengan perkataan Seorang wartawan asal Sumatera Barat yang bernama Siti Ruhana.
“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kebutuhannya. Yang harus berubah adalah wanita yang harus mendapatkan pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan memiliki ilmu pengetahuan.”
Perempuan semakin terlihat aktif dalam berbagai kehidupan. Ketika perempuan berperan di ranah publik, dia tidak boleh melupakan ranah domestik yang harus dikelola. Dalam upaya meningkatkan pemberdayaan perempuan secara ekonomi tidak hanya memberikan pekerjaan dan pendapatan bagi perempuan. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong perempuan untuk aktif di dunia pekerjaan, dengan cara menyediakan fasilitas, sarana pendukung, dan menjadi support system.
Menjaga perempuan sama dengan menjaga negara. Perempuan juga harus memberikan contoh yang positif ketika bertindak. Sesuai dengan salah satu syair Arab yang berbunyi “Perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuannya baik (berakhalakul karimah) maka negaranya baik dan bila perempuannya rusak (mazmumah) maka rusaklah negaranya.”
Perempuan adalah salah satu tanda keindahan dan keelokan yang kuat dengan kasih sayang dan kelembutan hatinya. Perempuan bisa bergerak di ranah publik maupun di ranah domestik. Tetapi, banyak yang masih menganggap bahwa perempuan tidak bisa melakukan kedua hal tersebut.
Meski belum mencapai tingkat representatif yang memadai, kita sudah melihat perempuan Indonesia tampil sebagai anggota legislatif, menteri, kepala daerah, bahkan, presiden. Peran perempuan sebenarnya tidak hanya membangun diri dan keluarganya, tetapi juga membangun umat dan negara. Negara akan kuat jika ada perempuan kuat di dalamnya. Oleh sebab itu, tidak ada kata lain perempuan harus diberi peluang seluas-luasnya untuk terlibat dalam pembangunan masyarakat, ekonomi, dan negara.
Menurut ulama besar di Turki yang bernama Hocaeffendi, perempuan dan laki-laki tidak bisa dibandingkan antara satu sama lain ibarat udara oksigen dan nitrogen. Kita tidak bisa menyatakan keunggulan elemen kimia yang satu dengan yang lain. Sudah seharusnya laki-laki dan perempuan saling bersinergi untuk menciptakan suatu generasi yang mampu merubah dunia menjadi lebih baik dengan kasih sayang dan cinta yang tercermin dari orang tua.
Dalam ajaran Islam pun menggali sistem yang sangat mengapresiasi posisi perempuan, Islam tidak hanya lantang dalam menyeruakan mengenai kehormatan dan kelembutan perempuan tertapi menerima tempat yang sama dengan laki-laki yaitu sama sebagai makhluk ciptaan Allah dan hak hukum.





