Kenangan dari Hiroshima

Ini pagi yang kesekian di Hiroshima, semua orang mulai bersiap-siap memulai hari. Toko-toko mulai dibuka, pemiliknya berdoa semoga tokonya ramai dan banyak yang beli. Para pekerja kantoran sudah berangkat dengan pakaian rapi dan wangi siap bekerja. Termasuk rumah satu ini, seorang gadis terlihat sedang berkemas-kemas. Sesekali memastikan tidak ada yang terselip, kemudian menjinjing bawaannya masuk ke mobil.

“Ya ampun, Haruka. Bukankah Mama sudah bilang? Bawalah sedikit saja, kita hanya menginap beberapa hari di sana” seorang wanita, terlihat ke luar mengamati bawaan anaknya yang seperti mau pindah rumah. Gadis yang dipanggil Haruka itu menoleh,”Tidak apalah, Ma, kan liburan, santaiii” kata Haruka, sambil tersenyum. ”Yang santai itu kamu, Haruka. Sudah cepat bantu Mama”. Kata-kata mama membuat Haruka cepat masuk kembali.

Hari ini memang spesial buat Haruka, setelah berhari-hari hanya bisa di rumah tanpa ke luar sama sekali. Mama mengajaknya pergi. Ayah Haruka bekerja di luar negeri, Mama bekerja sebagai florist. Kali ini Mama yang mendapat pekerjaan di luar kota, khawatir dengan Haruka sekaligus kasihan karena rumah hampir selalu sepi, Mama mengajaknya ikut. Tentu saja Haruka senang diajak pergi, malah berkali-kali terbangun saat tidur, mengira sudah waktunya berangkat.

Akhirnya setelah semua siap, Haruka dan mamanya pun pergi. Sebenarnya dari tadi Haruka hendak bertanya mereka mau kemana? Tapi berkali-kali batal karena mamanya fokus menyetir, nanti juga tahu sendiri saat sampai. Beberapa jam kemudian,”Haruka, ayo bangun, kita sudah sampai” mama menggoyang-goyang bahu Haruka. “Sudah sampai dimana, Ma?” tanya Haruka sambil menguap. ”Museum Anak Perdamaian,” kata mama sambil berjalan. Haruka berjalan di belakangnya, masih dengan sisa kantuk.

Bacaan Lainnya

“Nah, Haruka, ini Pak Suzuki, orang yang mengundang Mama,” kata Mama, orang yang dipanggil mama hanya mengangguk singkat. Sebentar kemudian Mama sudah asyik bicara ini itu dengan Pak Suzuki, sementara Pak Suzuki hanya mengangguk, sesekali menjelaskan sambil membawa mereka mengelilingi museum itu. Sebenarnya Haruka merasa museum itu aneh sekali, hanya ada sebuah lapangan luas yang dialasi batu bata abu abu. Penasaran, Haruka minta izin jalan-jalan. Mama mengizinkan, asal jangan jauh-jauh.

Haruka berjalan-jalan tak tentu arah. Tiba-tiba saja dia sudah ada di depan sebuah patung berbentuk seorang anak perempuan yang merentangkan tangan. “Ini siapa ya?” tanya Haruka. ”Sadako Sasaki, seorang anak korban bom atom”. Sebuah suara membuat Haruka berbalik, dilihatnya seorang gadis seusianya sedang berdiri di belakangnya. “Kamu tahu?” tanya Haruka. Gadis itu mengangguk, lalu melanjutkan, ”Patung ini dibuat untuk mengenang Sadako dan anak-anak korban bom atom yang dulu terjadi,” Haruka hanya mengangguk mendengarnya, ”Ngomong ngomong, namaku Yumi Saito” katanya sambil menjulurkan tangannya.” “Namaku Haruka Ito,” kata Haruka menyambutnya lalu menjabat tangannya. ”Oh iya, terus kenapa di tangannya ada Bangau kertas?” tanya Haruka sambil menunjuk ke puncak patung. ”Sebelum meninggal  karena leukemia pada usia 10 tahun Sadako sempat membuat 1000 Bangau kertas, karena percaya dia akan sembuh jika membuatnya”. Yumi berhenti dan mengeluarkan Bangau kertas dari tas yang dibawanya, lalu menaruhnya di bawah patung. ”Maka, untuk menghormatinya banyak orang yang menaruh Burung bangau kertas di sini, nanti kertasnya akan diuntai dengan benang panjang atau jadi pesan perdamaian” lanjut Yumi.

“Oh seperti itu ya?” tanya Haruka, menunjuk ke arah lorong penuh benda-benda kertas. Yumi mengangguk, “Koleksi museum ini ribuan dan terus bertambah. Coba lihat ini!” Tepat di bawah patung terdapat lempeng marmer hitam yang bertuliskan, “Ini adalah tangisan kami, ini adalah doa kami, untuk perdamaian seluruh dunia”. Haruka termenung, hingga, ”Kau mau kutemani jalan-jalan?” tawar Yumi. Haruka langsung mengangguk”. “Kita mau ke mana?” tanya Haruka saat mereka berjalan. ”Ini dia” kata Yumi saat mereka sampai di sebuah gazebo berbentuk kubah yang di dalamnya ada sebuh genta. “Apa ini? hanya sebuah genta kan?” tanya Haruka. ”Coba kamu lihat baik-baik, Haruka”. ”Oh iya ada peta dunia ya di sini?” Haruka menunjuk peta dunia yang terukir di genta. “Yumi pun membunyikan genta itu. Gemanya memantul di dalam gazebo”. “Coba lihat prasasti itu!” sunyi sebentar sebelum Yumi melanjutkan, ”Genta ini sebagai simbol perdamaian, dan semoga suaranya bisa bergema di tiap hati manusia dan senjata nuklir juga perang berhenti”. ”Sudah hampir sore Yumi, sebaiknya aku pulang, nanti mama khawatir. Besok temui aku di Taman Museum perdamaian, oke?” kata Haruka setelah hening beberapa menit. ”Baiklah. Mari aku antar” tiba tiba Yumi berhenti ”Ada apa?” tanya Haruka. Mereka berhenti tepat di depan sebuah jam berbentuk bom. ”Setiap pukul 08.45 jam ini akan berbunyi, untuk mengenang ketika bom atom jatuh. Jam ini berisi doa dan ajakan perdamaian untuk seluruh dunia”.

Setelah berdiri sejenak di sana Yumi berjalan lagi. Menyadari hal itu, Haruka segera menyusul. Sesampainya Haruka di museum tadi Mama Haruka sudah menunggu. Setelah berpamitan, mereka segera meluncur ke Hotel Yoshida. Mama menyadari bahwa Haruka lebih pendiam dari biasanya mencoba membuka percakapan, “Apa saja yang kamu lihat di sana?” “Seru ma! Ternyata banyak yang belum kuketahui, untung aku bertemu Yumi” “Yumi itu siapa Haruka?” “Dia yang menemani Haruka jalan-jalan, Ma. Dia tahu semua tentang tempat yang kita kunjungi” saat itu Haruka mengira pengetahuan Yumi paling karena dia baca buku.

Setelah percakapan singkat itu, Haruka dan mamanya masih berbicara apa saja yang terlintas hingga mobil memasuki lahan parkir Hotel Yoshida. Keesokan harinya, di Taman Museum Perdamaian lagi-lagi Haruka heran yang ada di depannya ini. Padahal di dalam museum tadi bagus banget, lah ini? sebuah tungku terbuka dengan api di dalamya, apa istimewanya? Yumi pun datang, dan segera mengajaknya jalan. ”Sebenarnya di Museum ini apa yang istimewa, sih?” tanya Haruka. ”Api di tempat ini akan terus menyala hingga semua senjata nuklir di bumi musnah” jawab Yumi, yang lagi lagi membuat Haruka terdiam beberapa saat.

“Hei, kita jadi jalan tidak?” Haruka pun terlonjak dan segera menyusul ketika menyadari Yumi sudah berjalan duluan. Setelah berjalan beberapa lama, mereka sampai di sebuah gerbang setinggi 5 meter dan lebar 2 meter. ”Coba baca tulisannya!” “Apa ini? Vrede, la pace, paz? apakah ini mantra?” “Bukan! Ini adalah tulisan damai dalam 49 bahasa, semua tertulis di sini”.

“Sebelum pulang aku ingin mengenalkanmu pada seseorang, Haruka” kata Yumi di dalam bus yang mereka tumpangi. Mereka berhenti tepat di depan sebuah panti jompo. Setelah masuk, Yumi bertanya pada petugas jaga. “Kelihatannya Yumi sering ke sini”, pikir Haruka saat melihat petugas dan beberapa orang tua yang riang menyapa Yumi. Sesekali Yumi mengenalkan Haruka, yang tersenyum kaku. “Nah, Haruka, kau pasti heran kan dari mana aku tahu semua sejarah tempat yang kita kunjungi?”  tanya Yumi saat mereka duduk di sofa. Haruka mengangguk “Nah, aku sering ke sini,  karena beberapa dari mereka adalah hibakusha”.

Haruka pun terkejut, hibakusha adalah para survivor bom atom, para saksi kerusakan bom atom.” Kau pasti tahu kalau para hibakusha dijauhi dan mengalami tekanan sosial kan? Nah panti ini, atas dasar kasihan, mau menampung beberapa dari mereka” “Kau pasti terkejut kan? aku saja baru tahu beberapa minggu lalu, saat aku mengunjungi nenekku di sini” kata Yumi, seolah yang dia ucapkan tadi hanya soal santai saja. “Ssssst. Oh iya nenekku pun sebenarnya hibakusha. Ini rahasia ya” Haruka terdiam seketika dia tak menyangka ternyata Yumi mendapat pengetahuannya dari neneknya, saksi langsung letusan bom atom. ”Kenapa baru sekarang memberitahuku?” “Aku tidak ingin kamu menjauhiku, kamu satu-satunya teman yang kutemui yang tidak mengejek atau mengambil keuntungan dariku”. Haruka pun teringat bahwa para hibakusha dijauhi atau mengalami tekanan dari orang di sekitarnya. “Kamu masih mau berteman denganku, kan?” “Ya. Tentu, Yumi,” kata Haruka.

***

Beberapa hari kemudian Haruka pulang, setelah bertukar nomor telepon dan alamat rumah. Mereka sempat saling memberi kenang- kenangan. Yumi dapat gantungan kunci dari Haruka, dibeli terburu buru dari toko suvenir. Haruka dapat fotonya dan Yumi yang dipigura-buatan sendiri, bagian belakangnya bertuliskan Untuk Teman Pertamaku.

Oleh: Garneta Annandi Y.M*, Sanja (Santri Remaja) Kelas IX SMP Alam Planet NUFO Rembang

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *