Anugerah

Episode: 1

Di kala itu saat matahari telah meninggalkan langit tenggelam indah di ujung barat meninggalkan kenangan yang tak terlupakan. Digantikan oleh bulan dan bintang yang bersinar bak petunjuk untuk menuju senuah jalan yang memamng harus kau tempuh.

Saat itu, aku sedang duduk di samping jendela kamar, sembari menikmati musik yang menghiasi sore. Cakrawala indah menghias sore yang bagiku penuh sebuah memori, tentang orang yang telah meninggalkanku pergi. Semua berawal di sore hari beberapa tahun lalu, semua terasa biasa, hingga seseorang menemuiku dengan perlahan-lahan sambil sedikit tersipu malu. Ia mulai memberanikan diri untuk berbicara dan ia bertanya

“Hai apakah kau orang baru di sini?”

Bacaan Lainnya

“Yah..tentu, aku orang baru di sini. Salam kenal, namaku Akha.”

“Ooo… salam kenal, namaku Ramadhita Aisya. Panggil saja aku Aisya.”

Hari itu pertemuan pertama kami yang begitu indah bersamaan dengan tenggelamnya mentari di ufuk barat.

Pagi yang cerah, bersamaan dengan cahaya hangatnya yang membuat suasana menjadi begitu tenang dan hangat. Saat aku berjalan di antara kebun-kebun yang basah dan masih begitu gelap aku menuju kedepan pintu perumahan untuk menunggu angkutan umum yang akan mengantarkanku ke sekolah pagi itu. Sebuah cahaya motor terlihat menerangi jalan yang gelap melewati kebun-kebun yang basah nan gelap itu.

Tak kusangka, ia adalah Aisya dan kedua orangtuanya. Ia dan ibunya hendak mengunakan angkutan umum sama sepertiku untuk menuju kantor dan sekolah, dan jalur yang kugunakan memang sejalur dengan yang Aisya gunakan, jadi kami menggunakan jalur yang sama.

Sekitar 30 menit kami menunggu akhirnya sebuah bis umum yang kami cari dan kami tunggu pun tiba di hadapan kami, dari arah selatan menuju arah utara. Penjaga pintu atau khenek mengetuk jendela menggunakan uang koin yang menandai bahwa ada penumpang yang akan naik. Akhirnya, kami pun berada di dalam bis yang tak terlalu ramai seperti biasanya.

Setelah sekitar 20 menit kutempuh, akhirnya aku sampai di pertigaan sekolah. Saat aku hendak membayar tarif, ternyata Ibu Aisya telah membayarkanku karena ia kenal denganku. Aku yang sedikit merasa tidak enak berterima kasih kepada Ibu Aisya.

Aku turun dari bus umum tepat pukul 06.40, segera bergegas menuju sekolahku. Aku termasuk orang yang datang sangat awal, bahkan pintu kelas saja belum dibuka. Itulah yang kusuka dari berangkat pagi.

Setelah waktu menunjukan pukul 07.30, kelas mulai ramai, sebentar lagi guru kelas akan tiba dan semua bergegas untuk duduk rapi di tempat masing-masing. Guru kelas yang kami cintai dan kami sayangi, yaitu Ibu Etik, wali kelas kami dari kelas 5 hingga kelas 6 ini. Kami sudah sangat nyaman denagn Ibu Etik yang memiliki hati yang lembut dan tak mudah marah.

“Assalamualaikum anak-anak,” sambut Bu Etik yang ramah, senyumnya membawa kehangatan di kelas kami.

“Waalaikumsalam, Bu,” jawab kami serentak, membuat hati Bu Etik senang.

Pagi itu, kami mulai dengan pelajaran tema dan Bahasa Indonesia hingga menjelang siang.

Waktu menunjukan pukul 02.15, kami bergegas untuk pulang. Hari itu terasa sangat cepat, canda tawa dan keasyikan di kelas tadi memang membuat sekolah terasa sangat menyenangkan. Tak lama kemudian, Pak Faris atau sopir antar jemputku datang dan memintaku untuk bergegas naik ke mobil jemputan. Beberapa temanku yang satu mobil denganku juga telah menungguku. Jika sudah lengkap, maka kami akan berangkat jika belum maka kami harus menunggu atau mencari agar lengkap anggotanya.

Sesampainya di rumah tepat pukul 15.00, aku pun bergegas untuk shalat ashar dan main. Kami berdua sudah berjanji akan bertemu lagi di sore itu. Aku menunggu kehadiranya yang muncul dari arah timur dan di wajahnya terpantul cahaya indah mentari sore bak anugerah yang indah di sore hari. Walaupun kami baru berkenalan tapi kami sudah saling mengenal satu sama lain dan sudah sangat akrab. Sore itu, kami jalan-jalan berdua menikmati sore yang tak akan muncul lama dan akan tergantikan oleh dinginnya malam yang indah.

Di kala sang mentari mulai memudar meninggalkan permukaan, saat itu lah kami berpisah dan akan melanjutkan cerita dan jalan-jalan berdua di hari yang akan datang.

Setelah beberapa bulan mengenal sosok Aisya, aku mulai mencintainya. Bahkan hal ini juga dirasakan oleh Aisya. Tak kusangka, kita mencintai satu sama lain dan kami merahasiakan rasa ini satu sama lain. Aku berencana mengungkapkannya saat kita saling menikmati malam yang indah.

***

Malam itu adalah malam Ahad yang sangat terang, dipenuhi cahaya matahari yang dipantulkan oleh bulan dan taburan gemintang yang berkedip-kedip. Aku yang tengah menikmati kesendirian di dalam kamar, di atas kursi yang nyaman bersama secangkir kopi, meratapi langit yang begitu memesona, membanyangkan wajahnya yang sedari tadi terus memenuhi kepala, pada akhirnya dikagetkan dengan sebuah kilatan ingatan yang membuat kuterdiam selama beberapa saat.

Aku melihat seperti ada surat di atas meja kayu berwarna putih dan bertuliskan “teruslah memperjuangkannya dan jangan pernah berhenti mencintai walapun banyak tragedi yang akan terjadi!” Hal itu membuatku sangat kebingungan. Aku merasa akan ada sebuah tragedi yang akan menimpa dunia ini.

Pagi yang berbeda datang dengan sangat cerah nan indah di ufuk timur. Kumulai pagi ini dengan secangkir kopi yang selalu menemaniku. Ingatan itu masih menghantui pikiranku. Aku mencoba menelusuri dan memaknai maksud dari kata-kata itu.

Tak lama kemudian, banyak sumber berita yang memprediksi akan datang badai terbesar abad ini, semua penduduk diharapkan untuk bersiap menghadapinya. Kilatan ingatan itu muncul Kembali dalam kepalaku, namun bedanya yang kulihat hanyalah sebuah tempat yang telah hacur lebur seperti habis diterjang sesuatu yang besar. Aku pun mulai menyadari bahwa itu adalah masa depan yang akan terjadi, dengan yakin aku mulai bersiap dan mengajak keluarganya untuk mengikutinya namun, tak banyak yang mau mengikutinya.

Saat siang hari aku telah berencana dengan Aisya untuk bertemu di tempat seperti biasa. Aku pun menceritakan semua dan menjelasan apa yang terjadi. Aku begitu senang ketika Aisya mempercayainya dan Aisya mulai mempersiapkan diri. Saat sore tiba, hal itu terjadi. Ketika aku dan Aisya tengah mencari jejak tentang ingatan itu, langit seketika menjadi gelap dan bergemuruh kilatan, rintik hujan mulai turun. Kami berdua pun bergegas kembali dan mengambil barang-barang yang perlu dibawa tak sempat mengajak orang karena rata-rata masyarakat lebih memilih diam di rumah dan mencoba mempertahankan bangunan yang sebentar lagi akan hancur seperti ingatan yang kulihat sebelumnya.

Hanya bermodalkan barang dan sepeda, aku dan Aisya hanyalah salah dua orang yang berada di luar rumah, para penduduk lebih memilih untuk menetap di rumah dan mengunci semua pintu dengan rapat. Aku mencoba mengayuh sepeda, bersama Aisya yang kubonceng mencoba menuju bukit tertinggi. Jalanan dan daerah setempat sangatlah sepi, hampir seperti tak ada kehidupan di dalamnya. Aisya merasa tak percaya bahwa itu benar terjadi adanya.

Ingatan itu muncul di kepalaku lagi dan yang kulihat adalah bukit di ujung barat kota, tak terlalu jauh dari tempat kami berada. Aku dengan sepenuh tenaga mengayuh sepeda, berusaha menghindari kejaran badai yang sedari tadi mengejar mereka di belakang. Akhirnya, pintu masuk bukit mulai terlihat, aku bergegas naik ke bukit. Di sana terdapat sebuah rumah yang terbuat dari kayu jati, entah sejak kapan rumah itu berada di sana. Tanpa pikir panjang, aku dan Aisya bergegas masuk kedalam seperti yang ia lihat tadi.

Badai mengamuk di luar, hebatnya rumah jati itu sangat kuat menghadapi terjangan badai walaupun beberapa genteng terbang terbawa oleh angin. Ingatan itu muncul lagi di kepalanya, sekarang ia melihat apa yang akan terjadi kedepanya.

Hampir satu jam badai berlangsung, itu membuatku tertidur pulas bersama Aisya. Tiba-tiba, tetesan air menerpa wajahku, membuat kuterbangun dari tidur pulasku. Aku menyadari sesuatu bahwa badai telah berhenti. Suara keras badai dan gemuruh langit sudah tak terdengar aku mencoba membangunkan Aisya yang tertidur di sampingku. Kami pun memutuskan untuk keluar melihat keadaan. Saat kami keluar, kami tak percaya. Terlihat dari atas bukit hampir tak ada bangunan yang berdiri, hanya tersisa puing-puing reruntuhan. Aisya menangis tak percaya, ia menanyakan tentang rumahnya dan keluarganya kepadaku. Namun aku tak bisa menjawab, dengan nekat kami berdua pun memutuskan untuk turun dan kembali ke rumah kami.

Jalanan penuh air keruh, puing-puing bangunan berserakan di mana-mana. Hampir tak percaya melihat kejadian ini. Sesampainya di rumah, hanya tersisa puing-puing, kami bersedih akan kejadian ini, dan kami pun memutuskan untuk mencari bantuan dari kota luar yang tak terkena badai ini.

***

 

Oleh: Raktaa RajendraSanja Pecandu Pena Baru, Siswa Kelas VII SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) asal Temanggung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *