Seiring berjalannya waktu, banyak sekali tatanan masyarakat yang sudah beralih dari yang serba sederhana dan konvensional menjadi Modern, praktis, nan canggih. Pakaian yang awalnya berupa dedaunan, dikreasikan menjadi penutup tubuh. Informasi yang sulit diterima dengan cepat, menjadi mudah tersebar di belahan bumi dengan hitungan detik saja. Bahkan kegiatan-kegiatan perorangan bisa beralih dengan yang serba cepat & tanggap. Papan, sandang, pangan, semua telah terfasilitasi dengan baik dan cepat.
Toko-toko belanja online, grab, pemesanan tiket transportasi, semua telah siap menjadi fasilitator untuk kehidupan manusia.
Misal yang sering dekat pada setiap orang adalah handphone. Benda satu ini bisa disebut dengan kamus berjalan. Semua informasi, tempat lokasi, tanya kabar dengan orang yang sedang berhubungan jarak jauh, akan terjawab dengan sendirinya. Bergeser sedikit, dari ketiga manfaat ini, ternyata bisa ditemukan disalah satu sistem dalam handphone dengan menggunakan aplikasi WhatsApp.
Aplikasi ini memang baru muncul beberapa tahun silam, tetapi ketertarikan masyarakat sangat tinggi dibanding dengan aplikasi informasi yang lain. Cara yang mudah dan simpel dengan kuota data yang minim menjadikan aplikasi ini digemari oleh mayoritas masyarakat jika dibanding dengan Instagram atau Facebook yang memakan biaya yang banyak.
Berbeda dengan pesan SMS yang dahulu hny bisa digunakan untuk mengirim pesan, WhatsApp lebih banyak memberikan fasilitas yang lebih banyak. Lebih seringnya para pengguna WhatsApp menceritakan apa yang sedang dilakukan pada saat itu, kemudian di upload pada story WhatsApp.
Telah menjadi budaya para pengguna WhatsApp yang sering membeberkan apa-apa yang telah mereka lakukan dan temukan disetiap aktivitasnya. Mulai dari hal-hal kecil yang berupa kata-kata sampai informasi yang sedang terkini. waktu 30 detik yang diberikan dalam setiap penayangan story WhatsApp, tidak membuat mereka geram karena waktu yang diberikan sangat singkat.
Lalu bisa apakah kita dengan benda tersebut? Apa yang harus dilakukan seseorang pada pengupload-an story WhatsApp yang telah membudaya hingga saat ini?
Memikirkan adalah salah satu pertama seseorang untuk mengetahui apakah budaya tersebut sudah benar atau memberikan dampak pada dirinya. Melihat menimbang, memperhatikan, dan memutuskan adalah cara terbaik untuk melanjutkan atau berhenti dari budaya tersebut.
Tidak ada kata salah dalam membuat story WhatsApp hingga membudaya, tapi benar atau tidak/ kurang tepat dalam pengupload-an tersebut. Memberikan kisah diri pribadi berarti bisa diartikan sebagai membagikan kabar seseorang sekaligus bagaimana keadaan di tempat tersebut. Memberikan informasi terkini yang sedang gencar-gencarnya di masyarakat, dll. Anehnya yang sering dilakukan oleh beberapa orang karena story WhatsApp bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja adalah, dimanfaatkan untuk bahan sindiran pada orang yang sedang dituju.
Sebenarnya tidak ada masalahnya upload story wa di media sosial manapun, tetapi cara yang dilakukannya itu yang salah. Yang awalnya hanya bertujuan memberikan informasi dan kegiatan-kegiatan yang sedang terjadi, tetapi karena ada yang berusaha melencengkan tujuan tersebut akhirnya menjadikan acuan apda orang lain untuk mengikuti budaya yang tidak sehat.
Usaha kita adalah bagaimana menempatkan posisi-posisi tersebut sesuai porsi masing-masing. Bukan menjadikan usaha upload story untuk memberikan balasan kepada seseorang secara tidak sehat karena ada faktor pribadi yang seseorang tersebut tidak bisa bertindak secara sehat.
Oleh: Hanik As’adah, Mahasiswi UIN Walisongo Semarang jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir





