Tilik dan Eksistensi Perempuan Islam

Tilik merupakan film bergendre komedi yang telah mampu menyulap masyarakat. Film pendek yang berdurasi kurang lebih 32 menit dengan sutradara Wahyu Agung Prasetyo ini telah mampu membuat berbagai kalangan menjadi terpingkal-pingkal. Ekspresi yang disampaikan ibu-ibu julid (judes lidah) telah mampu membuat suasana film serasa benar-benar hidup.

Banyak yang menganggap film ini seperti tidak ada rekayasa. Kata-kata yang dilontarkan oleh Bu Tejo, salah satu pemain film pendek ini ketika syuting merupakan kata-kata yang natural yang dapat keluar begitu saja tanpa persiapan. Begitulah kurang lebih ungkapan seorang pemain perempuan berwatak keras kepala namun peduli ini. Mungkin, inilah yang membuat sebagian netizen memberi kesimpulan terhadap film ini dengan label “ketika emak-emak lebih natural dibanding artis-artis FTV.”

Proses penggambaran kehidupan ibu-ibu desa oleh sutradara ternyata mengantarkan dirinya, para pemain, dan semua kalangan yang terlibat di dalamnya kepada pintu keberhasilan. Hal ini terbukti ketika film tentang kehidupan emak-emak ini mampu meraih penghargaan Piala Maya 2018 dalam kategori Film Cerita Pendek Terpilih.

Eksistensi tindakan gibah yang dilakukan oleh ibu-ibu di tengah masyarakat merupakan hal yang wajar dan dapat dimaklumi oleh berbagai kalangan. Muhammad Syahrur pernah menuturkan bahwa an-Nisa yang bermakna perempuan berasal dari akar kata anasa yang bermakna alat mutakhir. Jika mengacu pada hal yang demikian, maka dapat dianalisis bahwa kegiatan menuturkan berita-berita dari suatu tempat ke tempat yang lain adalah bagian dari kewajaran bagi perempuan.

Hal ini dikukuhkan lagi oleh berbagai data. Menurut penelitian, dalam sehari saja, perempuan dapat berbicara 20 ribu kata. Berbeda halnya dengan laki-laki yang hanya dapat berbicara sebanyak 7.000 kata. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang menyatakan bahwa kadar protein FOXP2 pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Protein inilah yang menyebabkan perempuan lebih banyak berbicara dibanding laki-laki.

Namun, dengan adanya film tersebut, sisi negatif perempuan digambarkan sangat mencolok. Dalam pandangan islam, fitnah dan gibah merupakan perbuatan yang tercela. Eksistensi muslimah yang salihah serasa berada di ambang jurang. Apalagi para perempuan yang berstatus ibu-ibu yang menjadi pemain film tersebut semuanya adalah muslimah yang memakai kerudung yang menjadi bukti eksistensi muslimah sempurna.

Ilustrasi tersebut sepertinya tak cocok tergambarkan dalam film tersebut. Apalagi jika mengingat berbagai hadits Rasul yang berisi larangan perbuatan gibah dan fitnah yang sangat ditekankan Rasulullah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya perempuan itu rajin shalat, rajin sedekah, rajin puasa. Namun dia suka menyakiti tetangga dengan lisannya.” Nabi pun berkomentar, “Dia di neraka.” Para sahabat bertanya lagi, “Ada perempuan yang dikenal jarang berpuasa sunah, jarang melaksanakan shalat sunat, dan dia hanya bersedekah dengan potongan keju. Namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah menjawab, “Dia ahli surga.”

Sungguh hal tersebut merupakan bentuk perbuatan buruk dan mengantarkan kerugian bagi semua orang terlebih perempuan. Namun, film yang sukses dengan 2,4 juta views ini diharapkan tidak serta merta mengisyaratkan bahwa perbuatan tersebut adalah suatu hal yang wajar. Diharapkan film ini mampu memperjelas krpada kaum muslimah agar menghindari perbuatan buruk tersebut.

Sebagai muslimah yang berpendidikan, ada baiknya kita tidak sibuk dengan berbagai kabar yang beredar di berbagai kalangan terutama media yang beredar. Tabayyun serta iffah wajib dilakukan agar tidak terjadi hal-hal buruk lainnya. Hal ini berdasarkan pepatah “karena mulut, badan binasa”. Wa Allahu a’lam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *