Pandemi Covid-19 telah memengaruhi kehidupan ekonomi di tatanan rumah tangga, di mana 50% di antaranya mengalami kesulitan keuangan. Keterbatasan lapangan pekerjaan karena kegiatan bisnis yang lesu akibat dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), menyebabkan berkurangnya pemasukan rumah tangga, di saat harga berbagai kebutuhan sehari-hari justeru meningkat.

Terganggunya perekonomian rumah tangga juga menyebabkan gangguan sosial dan kesehatan terhadap anggota keluarga seperti ibu dan anak dalam rumah tangga. Bahkan pandemi Covid-19 menyebabkan potensi kerawanan pangan terhadap anak meningkat. Selain itu, dampak psikologis juga diderita orang tua dan anak karena mengalami tekanan sosial dalam menjalani kehidupan di masa pandemi.

Selain itu, akses untuk mendapatkan layanan dasar sosial juga semakin sulit di masa pandemi Covid-19 ini. Masyarakat kesulitan untuk memperoleh pangan berkualitas untuk gizi yang layak, layanan kesehatan, dan pendidikan bagi anak.

Dampak pandemi Covid-19 menciptakan berbagai perubahan di sejumlah sektor dalam skala negara hingga rumah tangga. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang menyeluruh agar mampu mengatasi permasalahan di setiap kelompok masyarakat. Artinya, pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada negara, tetapi juga secara langsung berdampak pada unit terkecil dari negera yaitu rumah tangga.

Kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 berdampak pada harmonisasi kehidupan rumah tangga. Pandemi Covid-19 berdampak cukup signifikan terhadap angka percereraian, atau setidaknya rumah tangga diambang kehancuran.

Perlu analisa lebih mendalam terkait dampak ekonomi-sosial pandemi pada pendapatan dan pengeluaran rumah tangga di Indonesia, sehingga pemetaan masalah menjadi jelas dan lebih mudah diatasi.

Baca Juga  Refleksi Hari Santri: Santri dan Tidur Pagi

Dampak ekonomi-sosial pada rumah tangga akibat pandemi Covid-19 rentan pada kelompok anak-anak, perempuan dan disabilitas.

Ada survei yang menunjukan dampak pandemi Covid-19 terhadap kehidupan rumah tangga. Survei dengan melibatkan lebih dari 12.000 keluarga di 34 provinsi dan 247 kabupaten selama periode Oktober-Desember 2020.

Hasilnya menunjukkan bahwa 3 dari 4 rumah tangga mengalami penurunan pendapatan atau sebesar 75 persen kehilangan pekerjaan selama pandemi. Sementara itu, 1 dari 2 rumah tangga di Indonesia tidak memiliki tabungan untuk bertahan hidup karena sektor pendapatan bisnis rumah tangga 90 persen mengalami kemunduran di tahun 2020.

Masalah kesehatan dan nutrisi, 11,7 persen anak Indonesia mengalami permasalahan kerawanan pangan. 2.1 juta anak Indonesia mengalami kesulitan ekonomi yang membuat 7,15 persen anak Indonesia terpaksa putus sekolah. Hal ini ditandai dengan menurunnya kemampuan belajar 3 dari 4 anak akibat 57% anak tidak memiliki akses internet dan perangkat untuk mengakses internet.

Pembelajaran jarak jauh tidak hanya menyulitkan untuk anak Indonesia tetapi untuk perempuan yang memegang peran ganda sebagai tenaga pendidik sekaligus ibu rumah tangga. 71,5 persen perempuan di Indonesia mendampingi anaknya dalam pembelajaran jarah jauh mengalami tekanan mental dan siklus sosial.

Karena itu, para pemangku kepentingan diharapkan mampu menerapkan kebijakan yang komperhensif untuk mengatasi beragamnya dampak pandemi yang dialami masyarakat.

*Dikutip dari berbagai sumber.

Oleh: Noviana Tri Hapsari, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

 

Pemuda Desa Rembitan Gelar Aksi Galang Dana Jilid 2 untuk Palestina

Previous article

Ngeri! Ini Penampakan Mikroba Jika Tak Ganti Masker Lebih dari 6 Jam

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan