Wanita dan Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Islam

Penulis: Aisya, Mahasiswi IAIN SAS Babel, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam

Wanita , satu kata yang memiliki banyak sinonim,seorang insan yang melahirkan sebuah peradaban dan bisa dipastikan, semua orang pasti akan setuju jika ada yang menyebutkan “ yang melahirkan peradaban tak pantas untuk dilecehkan” namun sayang beribu sayang kalimat tersebut hanya sebatas kalimat ,tak berlaku bagi para oknum bejat yang meninggikan hasrat dibandingkan dengan sebuah kehormatan pada insan yang melahirkan peradaban tersebut. Miris , aneh , bejat ,namun sayang hal tersebut nyata adanya.

Maraknya kasus pelecehan, kekerasan , pemerkosaan yang brutal dan membabibuta kadang membuat diri ini tersadar bahwa hak asasi manusia dan norma agama masih belum bisa dikatakan ditegakkan dengan setegak tegaknya. Yang lebih mirisnya lagi terkadang tak sedikit yang melakukan hal menyimpang tersebut berasal dari kalangan yang membawa nama suatu instansi , sangat amat disayangkan , sudah pasti instansinya yang sangat amat disayangkan karena ketidak tanggung jawaban oknum yang berasal dari dalamnya .

Seperti yang kita ketahui , viralnya berita tentang pelecehan terhadap Wanita yang sangat mengecewakan ,dimulai dari kasus bunuh diri seorang Wanita dengan inisial NW disamping makam ayahandanya yang diketahui usut punya usut kronologis hal tersebut bisa terjadi karena NW merupakan korban kekerasan seksual dan dipaksa aborsi 2 kali oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan pangkat Bripda tersebut. Begitu memilukan Ketika mendengar kronologinya ternyata karena kekerasan seksual dan lebih menyayat hati Ketika terungkap korban dengan inisial NW tersebut dipaksa melakukan aborsi selama 2 kali , hilang sudah citra hak asasi manusia rasanya.

Ternyata tak berakhir hanya sampai disitu ,belakangan ini juga terdengar oleh telinga rasanya tentang kekerasan kekerasan seksual ,lagi-lagi topik itu lagi yang terdengar ,tak habis pikirnya kali ini ternyata korban dari kekerasan tersebut lebih banyak lagi dan lebih mengagetkan Ketika identitas oknumnya terungkap sebagai seorang ustadz ,pasti terlintas dalam benak kita semua “katanya ustadz ,paham agama ,tapi kok tingkahnya begitu” pasti tak sedikit yang terbesit dalam hatinya atas kalimat tersebut. Dan permasalahan kali ini pasti sangat banyak mengundang konflik. Mulai dari hak asasi manusia,kekerasan seksual,pencemaran nama baik suatu instansi,bahkan sampai kepada pembahasan tentang agama. Sangat tidak berperikemanusiaan Ketika Wanita yang sudah dilecehkan bahkan hingga tumbuh janin dan melahirkan kemudian anak tersebut di beri label sebagai yatim piatu untuk mendapatkan belas kasihan ,untuk dijadikan sumber uang.

Mungkin masih banyak lagi kasus-kasus serupa lainnya yang hanya hanya tak tersuarakan ,dari 2 kasus diatas tentunya selain merugikan korban dan menimbulkan rasa trauma yang mendalam terhadap korban sudah pasti membuat

nama instansi yang berhubungan dengan oknum tersebut menjadi tercemar ,ibaratkan sebelanga susu yang diteteskan tinta hitam kedalamnya , walaupun hanya satu tetes akan tetapi sudah pasti mencemarkan. Mulai dari kasus NW yang merusak citra Kepolisian karena perilaku oknum yang berasal dari dalamnya , disusul oleh kasus 12 santri yang dicabuli oleh ustadznya sendiri yang sudah pasti merusak citra pesantren walaupun terkuak pada akhirnya kejadian tersebut terjadi di sebuah boarding school yang terletak dibandung , akan tetapi berita yang sejak awal rilis hingga marak dan memuncak tertulis dari sebuah pesantren ,maka nama pesantren bak tercemar habis-habisan dan sudah pasti membuat para orang tua resah akan anak-anaknya yang sedang dititipkan untuk menimbah ilmu disana ,dan pasti akan memberikan perspektif buruk masyarakat terhadap instansi tersebut.

Lagi dan lagi kali ini islam Kembali menjadi sasaran empuk sebagai wadah hujatan atas perilaku oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut, tanpa kita sadari terkadang perilaku seseorang bisa merusak dan memberikan dampak buruk untuk banyak orang ,bahkan suatu instansi juga bisa dirugikan jika seorang oknum berasal dari Lembaga atau instansi tersebut, memang kita tidak berhak untuk menjudge instansi tersebut akan tetapi asumsi-asumsi yang dihasilkan karena kekesalan dan kemuakkan bisa menimbulkan perspektif buruk baik tentang orang yang setara dengan oknum atau dengan kata lain ,jika seorang oknum berasal dari kalangan ustadz maka gelar ustadz secara tidak langsung akan ikut kena imbasnya walaupun seperti yang kita ketahui tidak semua ustadz begitu atau bisa jadi juga minim.

Padahal islam sangat mengajarkan kasih sayang , saling menghormati ,dan terutama dalam hal menjaga kehormatan Wanita, sehingga rosulullah sangat bekerja keras dan berupaya keras untuk menaikkan derajat Wanita pada saat jaman jahiliyah dulu namun na’as nya seakan akan effort untuk menjaga kehormatan Wanita seakan-akan pupus hilang antah berantah entah kemana.

Jika diingat Kembali akan sejarah silamnya atau masalalu tentang Wanita maka sungguh sangat menyedihkan karena sebelum islam, kondisi perempuan sungguh memprihatinkan dan mengecewakan. Mereka layaknya sebuah barang yang boleh diperdagangkan atau diperjual belikan sesuka hati. Keberadaan mereka hanya sebagai pencuci mata dan pemuas hawa nafsu laki-laki. Konon Yunani yang terkenal dengan peradabannya masih menganggap itu perempuan sebagai bahan kesenangan belaka, bahkan romawi sekalipun membolehkan seorang ayah atau suai menjual anak perempuan atau istrinya. Sedangkan masyarakat Arab memberikan hak atas anak untuk mewarisi istri ayahnya , perempuan tidak memiliki hak apapun terhadap dirinya , tidak mendapat hak waris bahkan tidak berhak memiliki harta benda. Ahli waris bisa menggauli mantan istri ayahnya ,dan mereka bisa menikahkannya dengan siapa saja tanpa harus menyerahkan mahar.

Pada masa itu, perempuan harus mencari suami sendiri dengan cara melacurkan dirinya memasangkan bendera di atas rumahnya sebagai tanda bahwa dia siap untuk dilacur. Di sisi lain, jika seseorang laki-laki menikahi perempuan, ternyata dalam perkembangannya sang suami ada perasaan kurang suka, dia bebas menahan,memboikot dan membuat suasana supaya istrinya tidak merasa nyaman di sampingnya, tidak pula menceraikannya dan tidak pula menggaulinya. Suami akan melepaskan dan menceraikan istri jika sudah membayar tebusan yang sudah ditentukan suami.

Begitulah gambaran atau ilustrasi tentang perempuan sebelum islam , perempuan dianggap hina sehingga harus dimusnahkan sebagaimana ungkapan yang tertulis dan tertera didalam al-Qur`an, “dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan,hitamlah bahkan merah padam mukanya ,dan akan sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya kedalam tanah hidup-hidup, ketahuilah , alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (Q.S An-Nahl:58)

Dan Islam mengangkat derajat perempuan bahkan kedudukannya setara dengan laki-laki, tak ada yang lebih mulia antara yang satu dengan yang lain kecuali hanya ketakwaannya. Wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki sebagaimana ungkapan Alquran “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik laki-laki maupun perempuan” (Q.S. Ali Imran: 93).

Maka dari itu ,sudah selayaknya baik dari kalangan Wanita dan pria untuk saling menghormati dan saling memuhasabah diri,karena jika diingat islam juga memerintahkan para Wanita untuk menutup aurat dan laki-laki untuk menundukkan pandangannya dengan tujuan tak lain dan tak bukan ialah untuk menghindari hal yang tidak diinginkan tersebut. Sangat miris jika lagi dan lagi berita yang viral beritanya selalu tentang pencabulan dan pemerkosaan. Maka sudah seharusnya kita sebagai Wanita menjaga diri kita dengan amat elok dan semoga para kaum adam atau laki-laki juga menjunjung tinggi hak untuk perempuan dan begitupun sebaliknya ,akan sangat indah bukan?. Apabila saling menjaga dan menghormati.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *