Pandemi Covid-19 telah mewabah di setiap negara di dunia, sehingga mempengaruhi semua bidang kehidupan masyarakat. Di Indonesia, hampir seluruh sektor terkena dampak Pandemi Covid-19, terutama sektor ekonomi yang menjadi fokus masyarakat. Selain itu, Pandemi Covid-19 di Indonesia telah menyebabkan perlambatan di sektor ekonomi. Sektor Utama Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan bagian terpenting dari sektor ekonomi merasakan dampaknya. Hal ini mengkhawatirkan semua pihak karena telah menyebabkan kemunduran yang signifikan bagi sektor UMKM.

UMKM sangat terdampak dimasa Pandemi Covid-19, banyak dari para UMKM mengalami penurunan penjualan yang sangat drastis, Kelangkaan bahan baku yang mengakibatkan harga bahan produksi menjadi tinggi dan beban kerja yang menakibatkan pekerja harus di-PHK. Di masa Pandemi, Kebiasaan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan cenderung berkurang. Hal ini karena terdapat beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk memutus persebaran virus corona, diantaranya adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Salah satu UMKM yang terdampak adalah Usaha Telur Asin yang menjadi salah satu Makanan Khas daerah Brebes. Para produsen Telur Asin di Kabupaten Brebes mengalami kemrosotan yang sangat tajam, pasalnya tingkat daya beli masyarakat sangat menurun dimasa Pandemi Covid-19. Telur Asin biasanya dijadilan hidangan pelengkap bagi masyarakat Brebes dan sekitarnya dalam setiap acara tertentu seperti khitan, pernikahan, mitoni dan acara lainnya. Selain itu, Telur Asin juga sangat banyak diminati oleh masyarakat sebagai oleh-oleh Khas Brebes khususnya bagi para pengunjung atau wisatawan Brebes.

Baca Juga  Menyongsong Ekonomi Syari'ah 2045

Namun, dimasa Pandemi Covid-19 para produsen Telur Asin memilih memproduksi dalam jumlah sedikit. Beberapa faktor penyebabnya adalah Kebijakan Pembatasan Sosial atau Pembatasan kegiatan masyarakat yang di keluarkan oleh Pemerintah sehingga tidak boleh menggelar acara seperti khitanan, pernikahan, mitoni dan sebagainya, situasi jalan pantura juga menjadi sepi pengendara akibat larangan mudik tahun 2021 serta daya beli masyarakat yang menurut akibat pendapatan masyarakat dimasa Pandemi Covid-19 yang juga menurun.

Faktor lainnya adalah biaya bahan produksi naik sedangkan daya beli masyarakat menurun, sehingga terpaksa banyak karyawan yang harus di-PHK untuk mengurangi biaya produksi yang tinggi. Dan Permasalahan Permodalan juga dialami oleh Para Produsen Telur Asin, pasalnya tak jarang dari mereka yang mengalami kerugian karena tidak mengetahui akan adanya Pandemi Covid-19 yang akhirnya membuat Telur Asin yang sudah di Produksi tidak laku di Pasaran sehingga menjadi busuk.

Untuk memulihkan perekonomian nasional dimasa Pandemi Covid-19, Pemerintah pun mengeluarkan Kebijakan Strategis untuk Para UMKM termasuk Usaha Telur Asin diantaranya adalah Bantuan Presiden (Banpres) Produktif Usaha Mikro atau biasa disebut BPUM untuk membantu permodalan para UMKM agar tetap bertahan dimasa Pandemi Covid-19, Kebijakan restrukturisasi pinjaman untuk meringankan dalam membayar angsuran pokok, perpanjangan waktu angsuran, pengurangan tingkat margin/suku bunga dan penambahan fasilitas pembiayaan/ kredit dsb, insentif pajak dan masih banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mempertahankan dan memulihkan perekonomian Indonesia.

Pandemi Covid-19 memang sangat menurunkan daya beli masyarakat khususnya pembelian Telur Asin karena adanya kebijakan pembatasan sosial sehingga para UMKM Telur Asin harus mengalihkan pemasaran secara digital. Kini perlu bagi para UMKM Telur Asin untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi sehingga dimasa pembatasan sosial dapat melakukan transaksi jual beli dengan memanfaatkan platform digital dan Media Sosial. Dengan memanfaatkan Platform digital dan Media Sosial, para pelaku UMKM Telur Asin dapat memasarkan produknya dengan jangkauan yang lebih luas, sehingga konsumen atau pelanggan yang didapatkan lebih banyak dan tentu ini akan menambah pendapatan dimasa Pandemi Covid-19 atau dimasa New Normal ini.

Baca Juga  Prematurial Deindustrialisasi

Selain dari sisi Pemasaran secara digital, dimasa Pemulihan Ekonomi ini juga para UMKM Telur Asin harus giat untuk melakukan inovasi-inovasi produk Telur Asin agar dapat bersaing di kancah Nasional bahkan Internasional melalui Platform Digital maupun Media Sosial. Inovasi Telur Asin sangat diperlukan untuk menambah nilai daya beli masyarakat terhadap Telur Asin yang biasanya hanya sebagai hidangan pelengkap acara khitan, pernikahan dan sebagainya. Inovasi tersebut bisa dengan membuat Telur Asin aneka rasa, Kerupuk Telur Asin dan sebagianya.

Di masa Pemulihan Ekonomi ini sangat diperlukan peran dari UMKM untuk bertahan dan berkembang kembali. Hal ini tak akan bisa tanpa adanya kontribusi dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari Pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementrian Koperasi dan UMKM, Para Praktisi dan Para Akademisi serta para pelaku UMKM untuk bersama-sama turut serta bertanggung jawab memulihkan dan menumbuhkan kembali Perekonomian Nasional. Membangun Kembali Bangsa Indonesia khususnya dalam sektor Ekonomi dengan mengikuti perkembangan zaman yaitu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada.

Oleh: Rohmatul Janah

Sumber:

Arianto, Bambang. Pengembangan UMKM Digital di Masa Pandemi Covid-19. Atrabis: Jurnal Administrasi Bisnis (E-Journal), 2020, 6.2: 233-247.

https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/2939/dukungan-pemerintah-bagi-umkm-agar-pulih-di-masa-pandemi diakses pada 14 November 2021

https://balatkop-umkm.jatengprov.go.id/blog/2020/07/pendampingan-terhadap-ukm-di-kab-brebes diakses pada 14 November 2021

https://halosemarang.id/keluh-produsen-telur-asin-di-masa-pandemi-covid-19 diakses pada 14 November 2021

 

 

 

Pola Hidup Sehat pada Aktivitas Padat

Previous article

KKN RDR 77 UIN Walisongo adakan Kolaborasi Donor Darah dengan PMI dan Pesantren

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Ekonomi