Kala senja tiba, Supeno sedang duduk di pinggir embung. Ia arahkan pandangan ke kiri, sesosok hitam panjang mamatuk di bagian telinganya. Ia merasakan aroma darah yang mengalir hingga ke leher.
Ada seorang warga yang mengungkap kejadian waktu silam, beliau bernama Bapak Mardi.
Ndek kae iku tau ono musibah sing nimpa warga kene (Buluroto). Iku gara-garane sajen sing digowo pas ritual ono sing kurang. Ono rong(2) warga sing entuk musibah, iku Pak Supeno wong Pojok karo Pak Agus wong Karangnongko.
Menurut Pak Mardi, Supeno mengalami musibah berupa gigitan ular yang tidak kasat mata (ghaib) dibagian telinganya. Sedangkan, Pak Agus mengalami stres, tetapi alhamdulillah sekarang sudah sembuh setelah melakukan berbagai pengobatan, baik medis maupun non-medis. Dari kejadian tersebut, ada beberapa warga yang menyimpulkan bahwa danyang desa marah dikarenakan sesajennya kurang.
Selain itu, ada juga warga yang berpendapat bahwa musibah yang melanda dua warga tersebut memang sudah Qadarullah. Walaupun para warga memiliki pemikiran yang berbeda-beda, kejadiaan waktu silam dijadikan mereka sebuah pembelajaran agar untuk ritual selanjutnya lebih teliti lagi dalam menyiapkan sesaji. Hal tersebut dilakukan agar kejadian waktu silam tidak terulang kembali.
Ketika hendak panen padi, warga desa Buluroto harus melakukan tradisi nanggap wayang. Dalam bahasa Indonesia, nanggap wayang artinya mengadakan pagelaran wayang. Wayang yang digunakan adalah wayang kelompok Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong)..
Ritual nanggap wayang dilakukan dalam dua waktu selama sehari, yaitu siang (ba’da dzuhur) dan malam hari (pukul 10 malam WIB). Yang harus dibawa ketika melakukan ritual siang hari antara lain wayang (Punakawan), ambeng, dan sesaji. Wayang tersebut didalangi oleh salah seorang warga Buluroto sendiri. Lalu, ambeng yang dibawa berupa nasi yang dilengkapi dengan sayur dan lauk hasil bumi.
Selain itu, sesaji yang dibawa untuk ritual tersebut ditujukan untuk danyang desa Buluroto. Salah seorang warga mengungkap, danyang tersebut berupa ular besar. Sesaji yang dibawa berupa ingkung ayam (dipanggang) dan cok bakal. Cok bakal ini terdiri dari bunga kenanga, satu butir telur ayam kampung mentah, satu linting rokok, dan uang receh lima ratusan. Sedangkan, pada malam hari itu merupakan puncak acaranya, yaitu pertunjukan wayang di halaman rumah Pak Lurah yang didalangi oleh Pak Damin.
Tata cara pelaksanaan ritual nanggap wayang pada siang hari adalah dengan mengarak wayang yang dipimpin oleh dalang, lalu warga yang membawa ambeng maupun sesaji berada dibelakangnya. Warga yang mengikuti tradisi tersebut mulai dari orang tua sampai anak kecil. Dalang yang memimpin pengarakan wayang di sawah bengkok sambil mengibaskan wayang tersebut ke padi milik Lurah.
Setelah mengelilingi sawah, pada warga berdoa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa, kemudian memakan ambeng bersama-sama. Tujuan dilakukannya ritual ini adalah untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala musibah. Selain itu, tujuannya adalah untuk mempererat tali silaturahim diantara para warga dan sebagai simbol rasa syukur kepada Allah SWT.
Warga desa Buluroto bisa dibilang sebagai orang-orang yang masih memegang erat tradisi dan budaya yang telah diusung oleh leluhur-leluhur sebelumnya. Maka dari itu, warga Buluroto, baik yang tua maupun muda harus mau dan bisa meneruskan, menjaga, dan melestarikan tradisi nanggap wayang. Tradisi tersebut masih dilestarikan sampai sekaang dikarenakan ada suatu musibah yang pernah melanda warga Buluroto.
Nilai-nilai Pendidikan Islam yang Terkandung di Dalam Tradisi Nanggap Wayang
Pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah anak didik melalui ajaran Islam. Pendidikan Islam didasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nilai-nilai pendidikan Islam adalah suatu seperangkat keyakinan dalam diri manusia sesuai dengan norma ataun ajaran Islam. Nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi Nanggap Wayang antara lain:
- Keimanan
Dalam pendidikan Islam tentunya diajarkan suatu keimanan/keyakinan, tentunya keyakinan atas kekuasaan dan keesaan Allah SWT. Seperti halnya tradisi nanggap wayang. Tradisi tersebut mengajak para warga untuk berkeyakinan kepada Allah SWT, bahwa hanya kepada-Nya lah para warga meminta keselamatan agar dijauhkan dari segala bentuk musibah. Hal tersebut terbukti bahwa pada pelaksanaan tradisi tersebut dilakukan doa bersama yang diperuntukkan kepada Allah SWT.
- Perwujudan Rasa Syukur
Tradisi nanggap wayang merupakan bentuk rasa syukur para warga Buluroto kepada Allah SWT karena telah memberikan rezeki berupa hasil bumi kepada seluruh warga. Oleh karena itu, pada pelaksanaanya para warga membawa ambeng yang terdapat lauk hasil bumi dan memakannya secara bersama-sama.
- Sosial Kemasyarakatan
Tradisi nanggap wayang mengandung nilai sosial kemasyrakatan, karena tradisi tersebut dilakukan atas dasar untuk menyambung tali silaturahim antar warga. dan dilakukannya dengan kerja sama antar warga desa Buluroto. Selain itu, para warga juga bekerja sama untuk selalu menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.
Keterangan di atas menunjukkan bahwa tradisi nanggap wayang selaras dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Maka dari itu, para warga dalam melaksanakan tradisi tersebut harus tetap berpegang teguh terhadap keyakinannya kepada Allah SWT.
Pada tradisi nanggap wayang juga terdapat ritual yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan Islam, yaitu memberikan sesaji kepada danyang desa. Dengan membawa sesaji yang sesuai disyaratkan, para warga beranggapan bahwa danyang tidak akan mengangggu mereka.





