Tidak Seperti Mie Instan: Ilmu Butuh Usaha dan Proses

Sebagai seorang yang sudah dianugerahi akal sehat dan sudah sepantasnya akal tersebut tetap terus diasah. Allah menciptakan manusia dimuka bumi ini dibekali dengan ilmu pengetahuan yang dulu sudah diberikan kepada Nabi Adam. Sebagaimana dalam firmanNya:
قَالَ يٰٓـاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡهُمۡ بِاَسۡمَآٮِٕهِمۡ‌ۚ فَلَمَّآ اَنۡۢبَاَهُمۡ بِاَسۡمَآٮِٕهِمۡۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُل لَّـكُمۡ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ غَيۡبَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِۙ وَاَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَمَا كُنۡتُمۡ تَكۡتُمُوۡنَ.

  1. Artinya:
    Dia (Allah) berfirman,”wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama nama itu!” setelah dia(Adam) menyebutkan nama Namanya, Dia berfirman”Bukankan telah Aku katakana kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?” Q.S. al-Baqarah:33.
    Dengan bekal ilmu pengetahuan yang sudah Allah berikan kepada manusia, setidaknya manusia akan lebih bersyukur untuk terus memperkembangkan ilmu yang dimilikinya. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk mengembangkan ilmu tersebut.
    Bahkan seorang muslim dianjurkan untuk menuntut ilmu. Dalam hal ini tidak ada batasan dalam menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu tidak mengenal usia maupun waktu. Dalam nadzom kitab Alala terdapat enam syarat. Salah satu diantaranya adalah طُوْلِ زَمَانٍ atau masa yang lama.
    Waktu merupakan hal yang penting diterapkan Ketika manusia menuntut ilmu. Karena ilmu didunia ini sangat banyak dan perlu adanya waktu yang lama untuk menekuninya.
    Ketekunan dan kerajinan, serta kesabaran harus terus dijalani, tanpa mengenal batas usia. Perlu kita ketahui bahwa banyak Ulama yang bertahun tahun berada dalam lingkaran Pendidikan. Baik itu Pendidikan agama maupun umum.
    Kesuksesan terwujud melalui proses yang Panjang. Begitulah yang seharusnya dijadikan patokan oleh manusia. Sebagai seorang yang masih diberi kesehatan dan kelebihan akal, sudah seharusnya memanfaatkan waktu itu.
    Sekali lagi, bahwa usia bukan menjadi suatu penghalang dalam mengasah dan menambah wawasan. Dalam ungkapan terdapat kalimat yang berarti”mencari ilmu mulai dari buaian sampai ke liang lahat” hal tersebut nampak jelas bahwa ilmu memang benar benar ada dan tertanam pada diri kita semenjak masih didalam buaian.
    Dikembangkan atau tidaknya,ilmu itu, tergantung pada manusianya. Jika manusia itu menyadari akan kekuarangannya dalam bidang keilmuan maka sudah seyogyanya akan terus mencari dan mengasah ilmu yang dimiliki. Namun, jika dalam diri manusia itu sudah tidak ada ghirah atu semangat, maka mengembangkan apalagi menekuni ilmu sudah mulai menjadi suatu yang membosankan.
    Ilmu tidak akan datang dengan sendirinya, jika kita hanya duduk manis tidak mau mengembala kesana kesisni. Maka dari itu, pengembaraan dan proses dari mencari ilmu tersebut sangat diperlukan dan dibutuhkan. Allah akan memberi ilmu kepada siapa aja yang mau berusaha untuk mencarinya, dan hukum sunnahtullah Allah masih berlaku. Jika kita mau berusaha, pasti kita akan mendapatkannya dengan syarat melalui proses yang bisa dibilang cukup memakan waktu yang lama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *