Kisah para sahabat Nabi selalu menarik untuk dikaji karena mengandung hikmah yang luar biasa. Dari merekalah, umat Islam saat ini belajar keteladanan, perjuangan dan lain sebagainya. Umar bin Khattab merupakan salah satu dari sekian banyak sahabat Nabi yang perlu diulik kisahnya.
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Q.S Yunus [10] : 62
Para wali Allah ﷻ memiliki keistimewaan diantaranya diberikan mu’jizat atau yang sering disebut sebagai karomah. Keistimewaan itu berupa keajaiban yang tidak bisa dinalar logika sedang mereka tidak pernah mempelajarinya. Di antara wali Allah ﷻ yang memiliki karomah adalah Sahabat Nabi Muhammad, Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu.
Suatu hari, Umar bin al-Khattab berkhutbah Jumat di atas mimbar Masjid Nabawi. Ia naik ke mimbar kemudian berucap lantang, “Wahai Sariyah , larilah ke gunung. Wahai Sariyah larilah ke gunung…”
Ia adalah Sariyah bin Zanim bin Abdullah bin Jabir bin Muhammiyah bin Kinanah ad-Duali. Di masa jahiliyah, Sa’diyah senang menyepi di gua. Kecepatan larinya sangat luar biasa. Saking cepatnya, orang-orang menggambarkan kecepatannya dengan ungkapan, “mampu mendahului kuda” (Ibnu Hajar, al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, 3/5).
Sebuah Kisah
Tidak diketahui pasti kapan Sariyah memeluk Islam. Namun ia termasuk sahabat yang terakhir menjadi seorang muslim. Hal tersebut diketahui ketika namanya tidak termaktub dalam pasukan Badar, Uhud, dan Khandaq. Diperkirakan ia memeluk Islam sebelum penaklukkan Kota Mekah.
Sariyah dikenal sebagai seorang yang sangat pemberani. Ia juga seorang yang cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Umar mempercayainya untuk memimpin pasukan menghadapi negara adidaya Persia. Dan melalui dirinya, dua kota penting Persia berhasil ditaklukkan.
Kemudian Umar melanjutkan khutbahnya hingga selesai.
Beberapa waktu kemudian, datang surat dari Sariyah bin Zanim kepada Umar bin al-Khattab di Madinah. Surat tersebut mengabarkan, “Sesungguhnya Allah telah memberikan kemenangan kepada kami pada hari Jumat, pada waktu demikian”.
Waktu yang termaktub dalam surat tersebut adalah saat ketika Umar berbicara di atas mimbar.
Sariyah berkata, “Aku mendengar suara (yang menyeru) ‘Wahai Sariyah , larilah ke gunung. Wahai Sariyah, larilah ke gunung…’. Aku dan pasukan pun naik ke atas gunung. Sebelumnya kami berada di lembah, dalam keadaan terkepung musuh. Akhirnya Allah memberi kami kemenangan.”
Sahabat kemudian bertanya kepada Umar, “Ucapan macam apa itu?” tanyanya. “Demi Allah, aku tidak memikirnya dalam-dalam. Suatu kalimat datang begitu saja di lisanku”, jawab Umar (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, 20/25).
Jarak antara Kota Madinah dan wilayah Syam begitu jauh. Bagaimana bisa Sariyah bin Zanim mendengar suara Umar? Itulah yang dinamakan karomah. Hal tersebut adalah buah dari keimanan yang ditanam oleh Rasulullah ﷺ pada diri para sahabatnya.
Syaikh al-Albani mengomentari kisah ini “Kisah ini shahih dan valid. Itu adalah sebuah karomah dari Allah untuk Umar. Dengannya Allah menyelamatkan pasukan kaum muslimin dari kekalahan yang membuat mereka ditawan atau dibantai. Akan tetapi ia tidak seperti apa yang diklaim oleh sebagian orang berupa pengetahuan terhadap yang ghaib, tetapi ia hanyalah ilham dalam terminologi syari’at atau telepati dalam istilah sekarang yang tidak ma’shum, ia bisa benar sebagaimana dalam kisah ini dan bisa juga salah, dan inilah yang umumnya yang terjadi pada kebanyakan manusia.”
Dari kisah ini kita mendapatkan pelajaran yang sangat berharga berupa keistimewaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa. Umar adalah satu dari sekian banyak wali Allah yang diperlihatkan karomahnya. Pengetahuan akan hal hal yang tak terlihat juga bisa disebut sebagai karomah. Banyak sekali rahasia di dunia ini yang perlu dipecahkan. Cara memecahkannya adalah mendapat pengetahuan dari Allah atas keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Wallahu a’lamu bi al-shawwab




