Tekad Sekolah Alam Planet NUFO Lakukan Reintegrasi Sains & Teknologi dengan Islam

Planet NUFO
Baladena.ID

Sains (ilmu pengetahuan) dan teknologi sesungguhnya adalah bagian integral dalam Islam. Namun, disebabkan oleh pandangan yang tidak utuh kepada Islam, kemudian muncul pandangan tentang ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Ilmu dunia dianggap tidak penting, bahkan dianggap menghalangi capaian untuk kebaikan akhirat. Padahal, sejatinya dunia, sebagaimana bahkan dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. adalah ladang bagi akhirat (mazra’at al-akhirah). Al-Qur’an juga secara tegas menyatakan perlunya kebaikan dunia dan akhirat dalam sebuah ungkapan doa “Wahai Tuhan kami, mohon Engkau berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat…” (al-Baqarah: 201).

Paradigma pemisahan antara sainstek dan Islam makin menguat setelah melihat Barat (Eropa) menganut sekulerisme dan berhasil menghela kemajuan material. Ajaran gereja bahkan dianggap sebagai penghambat kemajuan karena kebenaran ajaran Tuhan telah bercampur baur dengan berbagai mitos yang dibuat-buat. Tidak sedikit ilmuan alam yang menemukan temuan-temuan baru dianggap sebagai penganut aliran sesat. Sebut saja di antaranya Galileo Galilei.

Sejarah Islam mencatat bahwa puncak peradaban Islam yang di dalamnya terdapat puncak kemajuan sains dan teknologi yang terjadi di era kepemimpinan al-Ma’mun tercapai karena sinergisitas antara kekuasaan dengan ilmuan. Penguasanya adalah juga pecinta ilmu yang menjadikan al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad sebagai sumber inspirasi utama. Sejarah capaian keilmuan yang menghasilkan puncak peradaban dunia inilah yang mesti diulang oleh umat Islam. Sebab, sejatinya masih sangat banyak inspirasi sainstek di dalam Islam yang harus diwujudkan dalam kehidupan sekarang dan di masa depan.

Bacaan Lainnya
Planet NUFO Sediakan Beasiswa Penuh untuk 70 Yatim Piatu
Sekolah Alam Planet NUFO/Istimewa

Karena itulah, Sekolah Alam Planet NUFO yang terdapat di kawasan Pilanggowok, Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang memantapkan tekad untuk mengambil peran reintegrasi tersebut. Jalan yang ditempuh sangat jelas dengan menguatkan motivasi agar seluruh murid yang ada di dalamnya menghafalkan al-Qur’an dengan terlebih dahulu memahami arti literalnya.

“Hanya dengan memahami arti literalnya, melakukan perenungan atau tadabbur menjadi mungkin. Dan lebih dari itu, menghafalkan al-Qur’an dengan artinya membuat jadi ringan. Tanpa arti, menghafalkan al-Qur’an jadi beban sepanjang kehidupan. Dengan arti, hafalan al-Qur’an jadi sumber banyak sekali inspirasi”, kata Dr. Mohammad Nasih, M.Si. al-Hafidh, salah satu pendiri Sekolah Alam Planet NUFO.

“Kami bertekad melahirkan SDM berkualitas muslim intelektual profesional. Ketiganya harus ada dalam satu diri. Kualitas muslim hanya akan mungkin jika ajaran al-Qur’an dipahami dan dibuktikan dalam implementasi. Kualitas intelektual didapatkan dengan cara melakukan kajian terus menerus pada inspirasi ilmu pengetahuannya. Dan kualitas profesional didapatkan dengan cara SDM itu menguasai teknologi untuk membuat berbagai kemudahan dalam hidup”, imbuh doktor dan pengajar di Pascasarjana Ilmu Politik UI itu.

Tahlilan, Perjuangan Literasi Al-Qur'an, dan Tradisi
Tampak sebagian kecil Sanja Sekolah Alam Planet Nufo sedang melakukan sebuah pembelajaran dengan sistem mentoring sebaya

Tak heran jika aktivitas di dalam sekolah alam Planet NUFO dimulai dengan mempelajari bahasa Arab. Setiap muridnya, bahkan yang baru kelas 1 SD telah hafal dengan sangat lancar tashrif atau sharaf yang biasanya di pesantren dianggap sebagai momok.

Di NUFO, pelajaran ini dijadikan bagaikan nyanyian yang menyenangkan, bahkan diiringi dengan gitar, sehingga membuat mereka mendapatkan kemudahan. Setelah pikiran mereka memadai, i’rab al-Qur’an diberikan dengan praktek secara langsung menerjemahkan dimulai dari ayat-ayat dengan susunan kata yang sederhana. Yang menjadi pilihan adalah QS. al-Qashash, karena berisi cerita yang sederhana, mudah dipahami, dan sekaligus menarik bagi anak-anak.

Bahasa dan matematika menjadi dua sisi mata uang yang sangat ditekankan. Logika (manthiq) dipraktikkan dimulai dengan berbahasa secara baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Kedudukan kata sebagai subjek, predikat, objek dan lain sebagainya harus jelas dan tepat. Sebab, dari bahasa tutur inilah sesungguhnya nampak struktur pikiran. Bahasa yang rusak adalah cermin pikiran yang tidak runtut. Pelajaran matematika juga tidak lagi menjadi momok karena diajarkan dengan praktek langsung di lapangan yang memudahkan anak-anak melakukan imajinasi. Sebagai jalan untuk menguasai teknologi, para murid sekolah menengah atas diberi kesempatan luas untuk menguasai multi media.

Anda ingin tahu lebih lengkap tentang Sekolah Alam yang unik ini? Silakan datang saja ke sebelah timur Desa Mlagen.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *