Sudah menjadi kebiasaan bagi setiap umat untuk merayakan tahun baru menurut keyakinan masing-masing. Begitu pula umat lslam merayakan tahun baru lslam yang jatuh setiap tanggal 1 Muharram yang pada tahun ini bertepatan pada hari Sabtu, 30 Juli 2022. Namun dalam realita, justru masih ada beberapa dari umat lslam sendiri yang kurang atau bahkan tidak mengetahui kapan datangnya tahun baru lslam. Tidak sepatutnya perihal tersebut terjadi di kalangan umat lslam. Umat Islam seharusnya lebih tahu kapan datangnya tahun baru lslam, sehingga bisa ikut serta memeriahkannya.
Realita yang kita lihat saat ini justru berbeda. Bagaimana mungkin tahun baru agama sendiri lupa, hal tersebut yang seharusnya menjadi sorotan bagi umat islam. Coba kita lihat umat yang lain, salah satunya umat Kristiani. Bagi pemeluk agama Kristiani, tahun baru menjadi suatu hal yang sangat berharga. Perayaan itu dimulai saat malam hari setiap tanggal 25 Desember sampai pada awal tahun baru di bulan Januari. Mereka terlihat begitu antusias dalam menyambut tahun baru. Terlepas dari itu, justru ada beberapa dari umat Islam yang ikut memeriahkan bahkan merayakan tahun baru Kristiani. Perayaan itu terlihat begitu meriah bahkan berlanjut hingga awal tahun baru di bulan Januari. Berbeda dengan tahun baru umat lslam.
Padahal dibalik itu, ada banyak makna yang tersimpan dalam tahun baru umat lslam. Ada beberapa peristiwa pada zaman dahulu yang melatarbelakangi adanya tahun baru bagi umat lslam atau biasa disebut dengan bulan Muharram. Bulan Muharram adalah termasuk satu dari empat bulan yang paling dimuliakan oleh Allah SWT atau disebut sebagai ‘bulan haram’ (al asyhurul harum) dalam Islam.
Hal ini sebagaimana tercantum dalam QS. at-Taubah ayat 36:
انَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Allah SWT memberikan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada, berupa keistimewaan dan kemuliaan. Perbuatan baik, seperti memperbanyak salat sunah, berzikir, bersedekah, dan lain sebagainya, yang dikerjakan pada empat bulan haram tersebut akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah SWT. Oleh karena itu pada bulan haram tersebut umat islam dilarang untuk melakukan perbuatan haram seperti maksiat dan sangat dianjurkan untuk mengerjakan perbuatan yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
Berbeda dengan tahun Masehi yang dibuat berdasarkan kelahiran Nabi Musa ‘alaihissalam, tahun Islam atau biasa dikenal dengan tahun Hijriah, dibuat berdasarkan hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah menuju Madinah yang sudah dijelaskan dalam al-Qur’an. Mengingat ini merupakan Tahun Baru Islam yang juga menandakan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada 622 M. Maka dari itu, hijrah memiliki makna penting bagi umat Muslim yang kemudian melahirkan agama Islam. Setelah peristiwa tersebut, Islam mengalami perkembangan pesat dengan penyebaran yang semakin luas. Melihat peristiwa hijrah tersebut, maka dipandang perlu sebagai umat islam untuk bisa memaknai hijrah dengan baik dan benar.
Tahun Baru Islam juga memiliki arti semangat perjuangan yang kental, tak kenal putus asa dan dipenuhi dengan rasa optimis, yaitu semangat hijrah dari hal buruk menuju hal yang lebih baik lagi. Seperti halnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang seakan tak kenal lelah dalam menyebarkan ajaran Islam. Selain itu, di tahun yang baru ini tentunya setiap manusia ingin tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Maka dari itu, Tahun Baru Islam ini juga bisa dijadikan momen untuk introspeksi diri atau muhasabah yang diharapkan dapat meningkatkan kepribadian kita menjadi lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya.
Sebagaimana seperti yang sudah dijelaskan, bahwa memaknai tahun baru Islam dapat dijadikan sebagai pembelajaran ilmu agama, terkhusus bagi umat lslam sendiri. Selain itu dapat digunakan untuk memperbanyak ibadah kita kepada Allah SWT karena waktu yang ada semakin sedikit. Jangan sampai momentum penting seperti ini terlupakan oleh kita sebagai umat islam yang nantinya akan menjadi generasi dalam membantu Nabi Muhammad menjalankan visinya dalam menegakkan agama islam.





