Tahun Baru Bukan Peristiwa Sakral

Baladena.ID

Oleh: Dr. AI Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Tahun baru segera tiba. Pergantian dari tahun 2019 ke tahun 202. Tahun penanggalan Masehi yang berdasarkan perjalanan matahi. Selain itu, ada penggalan Hijriyah bagi Umat Islam yang berdasarkan perhitungan bulan.

Sistem penanggalan hakikatnya netral. Kalaupun ada pembedaan dalam ”memiliki ataupun merayakannya” sebenarnya dilatari peristiwa sejarah permulaannya saja. Memang ada kesan, bahwa tahun baru Masehi adalah milik umat Nasrani, dan tahun baru Hijriyah milik orang Islam. Padahal, keduanya absah untuk digunakan oleh siapa saja tanpa harus membeda-bedakannya.

Baik matahari maupun bulan, sama-sama milik Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa. Matahari dan bulan diciptakan untuk kehidupan manusia. Tidak boleh ada umat yang merasa lebih berhak memilikinya ketimbang yang lain. Jika ada umat yang memberi perhatian yang lebih pada pergantian tahun, seperti umat Islam pada tahun baru Hijriah 1 Muharram, dan umat Kristiani pada 1 Januari tidaklah berarti hanya hak mereka. Setiap orang berhak untuk menyikapi dan merayakan pergantian tahun.

Bacaan Lainnya

Perbedaan keduanya hanyalah secara fungsional. Peredaran musim seperti musim hujan, kemarau, apabila menganut peredaran rembulan tidak cocok. Sebab musim beredar mengikuti perjalanan matahari, bukan rembulan. Siklus tahunan rembulan adalah sebelas hari lebih pendek daripada siklus tahunan matahari. Peredaran musim dalam kelender rembulan hanya terjadi selama tigapuluh tahun, sehingga kurang cocok untuk jadwal pertanian.

Kalender rembulan justru cocok untuk hitungan beribadah, seperti puasa dan haji. Dengan mengikuti peredaran rembulan, ibadah puasa dan haji, akan beredar ke seluruh musim, suatu saat jatuh pada musim panas, dan pada saat yang lain akan jatuh pada musim dingin. Tampaklah pesan keadilan dalam perhitungan rembulan. Sedangkan perhitungan matahari cocok untuk kebutuhan-kebutuhan praktis duniawi, seperti transaksi bisnis, administrasi perkantoran dan lain sebagainya.

Lalu apa sebaiknya yang perlu dilakukan dalam menyambut pergantian tahun? Apakah perlu menyambutnya dengan berhura-hura? Begadang semalam suntuk di diskotik atau hotel mewah dengan beragam kemaksiatan; atau sekadar menghabiskan malam dengan membunyikan terompet sepanjang jalan, atau menyulut kembang api?

Pergantian tahun sebenarnya bukanlah peristiwa sakral. Angka-angka tahun hanyalah cara manusia menghitung waktu yang telah dipergunakan. Pesta menyambut tahun baru adalah tradisi ciptaan manusia semata. Bisa saja pesta tahun baru diselenggarakan sebatas ekspresi kegembiraan. Sebaliknya, bisa jadi malah mengarah pada pemborosan dan kesia-siaan.

Ada hal yang lebih penting untuk dilakukan dalam memasuki tahun baru, yakni denga introspeksi (bermuhasabah). Dengan introspeksi diri dapat memberikan makna dalam perjalanan waktu yang datang dan pergi tanpa diminta. Allah Swt. Berfirman dalam surat al-Asr; “Demi Masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling bertausiah (memberi nasihat) dalam kebenaran, san saling bertausiah dalam kesabaran.” (Q.S. al-‘Asyr: 1-3).

Surat al-‘Asyr merupakan panduan bagaimana menggunakan modal waktu untuk kebaikan hidup. Surat tersebut berdimensi komitmen keimanan kepada Allah Swt., komitmen keimanan akan melahirkan komitmen sosial dan kepedulian terhadap sesama yang dilambangkan dengan amal saleh.

Hakikat amal saleh adalah bagaimana kita mampu mengeluarkan energi positif, yang selanjutnya energi positif tersebut akan mempengaruhi orang lain untuk berbuat kebaikan pada orang lain. Kebaikan yang dilakukan diharapkan akan memotivasi orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama, dan itulah komitmen untuk saling nasehat-menasehati sebagai sebagai solidaritas sosial.

Secara keseluruhan, surat al-Asyar mengandung isyarat agar manusia melakukan “perenungan” terhadap amal perbuatan yang telah dikerjakan dan mempersiapkan segalanya untuk masa depan melalui instrospeksi. Introspeksi atau muhasabah bukan sekadar mengingat catatan peristiwa-peristiwa penting selama setahun yang telah lewat. Lebih dari itu, introspeksi berarti menghitung kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan selaku individu sekaligus sebagai anggota masyarakat untuk bertekad memperbaikinya.

Secara personal, apabila mau introspeksi sungguh banyak salah dan dosa yang telah terus  diperbuat oleh manusia setiap hari. Apakah rizki yang diperoleh halal, atau haram? Apakah sudah berlaku jujur kepada diri sendiri, kepada keluarga atau teman? Apakah sudah mengulurkan tangan di saat orang lain membutuhkan bantuan? Apakah hidupnya sudah bermanfaat bagi orang lain? Bagi yang memiliki otoritas kekuasaan, apakah kebijakan yang dilakukan sudah mensejahterakan atau justru tambah menyengsarakan? Apakah problem-problem lain sudah dapat diatasi atau justru menambah problem sosial baru?

Kemauan untuk instropeksi diri sendiri menjadi sangat penting mengingat sudah menjadi sifat manusia untuk menutupi kekurangan yang ada pada dirinya sehingga ia enggan menerima kritik dan saran. Introspeksi di tahun baru menjadi sebuah kebutuhan apabila ada orientasi bahwa tahun-tahun mendatang haruslah menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *