Diantara ayat Alquran yang berbicara tentang khalîfah adalah QS al-Baqarah [2]: 30. Para mufassir sepakat bahwa yang dimaksud dengan khalîfah dalam surat ini adalah Adam AS. Namun yang menjadi persoalan dan menuai berbagai pendapat adalah mengenai khalîfah bagi siapakah Adam itu?
Pertama, khalîfah bagi jin atau banû al-jân.
Ini pendapat Wahbah Zuhaili dan al-Qurtubi. Argumentasinya, jauh sebelum manusia diciptakan, hamparan bumi dihuni oleh banû al-jân. Namun karena mereka banyak melakukan kerusakan, Allah mengutus para malaikat untuk mengusir dan menyingkirkan mereka. Setelah mereka diusir oleh malaikat ke pesisir dan gunung, Adam AS diciptakan untuk menggantikan kedudukan dan posisi mereka.[1]
Kedua, khalîfah bagi malaikat.
Hal ini berangkat dari kondisi bahwa setelah malaikat berhasil menyingkirkan jin, maka malaikat kemudian menjadi penghuni di muka bumi. Sehingga yang digantikan Adam AS adalah malaikat, bukan banû al-jân atau jin. Demikian pendapat al-Syaukani, al-Nasafi, dan al-Wahidi.[2]
Ketiga, bagi sesama manusia.
Artinya, Nabi Adam beserta anak cucunya disebut sebagai khalifah karena mereka menjadi kaum yang sebagian mereka menggantikan sebagian yang lain, generasi dengan generasi lain. Diantara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Katsir.[3] Pendapat ini ada dasarnya dalam Alquran, seperti dalam firman-Nya:
وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ
Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS al-Anam [6]: 165).[4]
Keempat, menjadi khalîfah bagi Allah di bumi dalam rangka untuk menegakkan hukum-hukum-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya.
Oleh karena itu, status khalifah bukan saja disandang oleh Nabi Adam AS, namun juga seluruh nabi. Adapun dalilnya adalah sebagaimana firman Allah Swt:
يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ .
Artinya: “Hai Dawud, sesungguhnya kami menjadikan khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. (QS Shad [38]: 26).[5]
__________________________
[1] Al-Thabari, Jamî al-Bayân fî Tawil Alquran, vol. 1, 237; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 1, hlm. 138 dalam Rokhmat S. Labib, Tafsir Ayat Pilihan …, hlm. 78.
[2] Al-Syaukani, fath al-Qadir, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), hlm. 77; al-Nasafi, Madârik a-lTanzîl wal Haqâiq al-Tawîl, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001), hlm. 33; al-Wahidi, al-Wasîth, vol. 1, hlm. 113 dalam Rokhmat S. Labib, Tafsir Ayat Pilihan …, hlm. 78.
[3] Ibnu Katsir, Tafsîr Alquran al-Adzîm, vol. 1, hlm. 90; al-Qasimi, Mahâsin al-Tawîl, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), hlm. 284 dalam Rokhmat S. Labib, Tafsir Ayat Pilihan …, hlm. 78.
[4] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya: Juz 1-30 (Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), hlm. 202.
[5] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya: Juz 1-30 (Jakarta: PT Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), hlm. 651.








Kita lihat dulu surat al anbiya ayat 30.
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖوَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖأَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Allah S.W.T menjelaskan disini bahwa langit dan bumi pada mulanya adalah dalam kesatuan yaitu yg ada saat itu hanya langit dan bumi(yg kita tinggal saat ini).
Makhluk yg hidup saat itu hanya malaikat dan jin(iblis) lantas berfirmanlah Allah S.W.T :
وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ
30. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
lantas diciptakanlah Adam(makhlukcerdas) dari tanah dari bumi saat itu yg masih dlm bentuk kesatuan dengan langit.
para malaikat bimbang karena makhluk adam yg diciptakan dari tanah akan membuat kerusakan di muka bumi karena makhluk ini memiliki hawa nafsu dan pasti merusak.
Dan iblis juga menganggap adam makhluk rendah maka ia menyombonkan diri lantas di usir (keluar)dari kesatuan langit dan bumi.
Bumi saat itu dikatakan “surga” karena adam/hawa mendapat segala yg diinginkan mereka tanpa berusaha.
surat taha 119.
وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ
dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya”.
bumi saat itu udaranya sangat enak mereka tidak ditimpa panas matahari ,tidak seperti kita sekarang ini.
kesatuan langit dan bumi dpt dilihat pada ayat berikutnya: surat fushilat ayat 11.
ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.
Setelah Adam dan hawa melanggar perintah Allah S.W.T maka dipisahkanlah bumi dari langit saat itu.
Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”
maka dipisahkanlah bumi dari langit dahulu dengan arti maka berpisahlah kehidupan adam dahulu bersama Allah S.W.T dan para malaikat pada saat bumi dan langit masih dalam bentuk kesatuan
setelah bumi dipisahkan maka mataharilah sebagai penerang bumi kita dan kehidupan pun berubah,drastis manusia musti berusaha untuk meneruskan khidupan dalam sengatan cahaya matahari yg menyebabkan kita juga makin tua dan rontok.
Sebagai orang yg beriman tidak pantas mengikuti orang-orang yg tidak beriman.
Bag bang yg di tujukan pada surat al anbiya ayat 30 itu adalah kesesatan yg nyata.
jgn percaya mereka tetapi percayalah pada Allah dan alquran saja.
wassalamualaikum wr.wb,
ustadz sayyid habib yahya