Surat Balasan

Lalu lalang mahasiswa tak pernah habis memadati kehidupan kampus. Sejak pagi hari hingga malam mulai menyelimuti bumi, masih saja ada yang beraktivitas di kompleks yang penuh dengan gedung-gedung itu. Begitulah kampus, tak pernah “sunyi” dari keramaian yang dibuat oleh mahasiswa.

Sama seperti pagi ini, pukul 06.45, mahasiswa dari berbagai jurusan saling berpapasan di jalan-jalan kampus. Terkadang mereka saling sapa, bertegur satu sama lain, dan saling tanya jam masuk kuliah. Sudah tentu, yang berada di kampus saat ini adalah mereka yang masuk kuliah pada pukul 07.00 pagi. Namun, tak dapat dimungkiri, mahasiswa yang masuk kelas selain pukul 07.00 juga sudah berada di kampus. Mereka datang lebih awal, karena ada beberapa keperluan, tapi ada juga yang hanya ingin sekedar bersantai di kampus. Najmi adalah salah satunya.

Ia datang lebih awal, karena ingin menghabiskan novel yang membuatnya penasaran dengan jalan cerita yang disajikan. Sudah hampir seminggu, Najmi masih sibuk dengan novel yang sedang ia pegang. Bukan karena ia lambat dalam membaca, namun tidak banyak waktu yang bisa ia sisihkan untuk sekedar membaca novel itu. Kampus menjadi tempat ia bisa menyisihkan waktu untuk membaca habis jalan cerita yang ada di dalamnya.

***

Bacaan Lainnya

Lima menit sebelum pukul 07.00 tepat, sebuah notifikasi chat masuk dan membuat ponsel Najmi bergetar. “lagi dimana?”, tanya salah satu kontak dengan pesan singkat tersajikan dilayar ponselnya.

“Sudut perpustakaan,” jawab Najmi singkat.

Dia kembali fokus pada bacaannya. Sekarang, ia sampai pada episode adegan action, membuatnya semakin hanyut dalam cerita. Deretan kata yang tertulis dalam novel sangatlah menggambarkan suasana pertarungan. Penulis novel yang menggunakan sudut pandang orang pertama, membuat pembaca seolah-olah adalah orang yang sedang bertarung.

Mata Najmi masih terpaku pada buku bersampul hijau dengan ketebalan setara 440 halaman, hingga ia dikagetkan oleh suara seorang perempuan yang tiba-tiba sudah tegap di depannya, barulah ia menghentikan bacaannya.

“Buku apa itu?”

“Bukan apa-apa, ini hanya novel,” jawab Najmi setelah beberapa saat terdiam ketika melihat paras gadis yang tiba-tiba berdiri di depannya. Gadis itu tampak cantik dengan balutan gamis maroon dan jilbab mocca.

“Ooo iya, silahkan duduk,” ucap Najmi sambil menggeser badannya, memberikan tempat duduk kepada gadis itu.

“Saya nggak lama kok, cuma mau memberikan ini saja,” jawab gadis itu sembari mengulurkan sebuah surat. “Saya tahu orang yang diam-diam memasukkan surat ke dalam tas saya adalah kamu,” tambah gadis itu.

Najmi tertegun. Ia tak bisa mengelak.  Apalah daya, terlalu sulit untuk berbohong kepada wanita cerdas. Najmi hanya bisa menerima surat yang disodorkan padanya.

Belum sempat Najmi mengatakan sesuatu, gadis itu sudah mengucapkan kata pamit. Katanya, harinya akan sibuk. Najmi hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis itu. “Datang dengan mengagetkan, pergi dengan mengherankan. Dasar, perempuan unik,” ledek Najmi pada gadis itu yang mulai berjalan, menjauh darinya dan hilang di kelokan jalan.

***

Malam yang tenang. Hanya ada suara binatang nocturnal yang saling bersahutan. Najmi masih terjaga dari tidurnya. Ia melanjutkan bacaannya yang hampir selesai. Tinggal beberapa bab lagi novel itu akan berhasil ia tamatkan.

Sejenak, ia mengucek matanya yang sudah cukup lelah, karena sedari tadi terus menatap barisan kata pada setiap lembaran novel. Sambil duduk bersandar di salah satu tiang beranda rumah, Najmi menatap langit. Hanya ada bulan dengan ukuran setengah lingkaran dan taburan bintang yang tak begitu terang.

Tiba-tiba, Najmi mengingat kejadian di sudut perpustakaan tadi pagi. Dia segera mengambil surat—yang  diberikan oleh perempuan yang dia sebut Lail—dari dalam ranselnya. Surat itu memiliki ukuran yang sama dengan yang dia berikan kepada Lail.

Baru saja Najmi membaca baris pertama dari isi surat itu, ia sudah tertawa dengan sapaan yang digunakan Lail untuknya. “Esok?,” tanyanya keheranan. Bukan karena ia tidak tahu siapa Esok itu, hanya saja dari sini ia menyimpulkan bahwa Lail menggunakan sapaan itu, karena menyangka Najmi mengambil sapaan untuknya dari novel “Hujan” karya Tere Liye. Padahal, itu hampir-hampir tak pernah terpikirkan oleh Najmi.

Najmi baru sadar sapaan yang dia gunakan ternyata ada hubungannya dengan tokoh dalam novel “Hujan” setelah ia sampai dipertengahan surat yang ia tulis untuk Lail sepekan lalu. Setelah dia pikir-pikir, tak salah juga ia menggunakan sapaan itu.

Sampai di paragraf kedua, Najmi semakin tahu bahwa Lail sangat menyukai karya-karya Tere Liye. Empat paragraph setelahnya, menjawab pertanyaan Najmi di surat sebelumnya. Padahal, ia tak pernah berharap suratnya akan dibalas. Apalagi, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan di surat sebelumnya. Namun, membuat gadis itu diam untuk sesuatu yang hendak dilakukannya, rasanya mustahil. Mau bagaimana lagi, sekarang surat balasan sudah ada di tangannya. Tak ada pilihan lain selain membacanya.

Paragraph lima membuat Najmi berhadapan dengan sebuah pertanyaan yang sangat menuntut jawaban. Ia hanya bisa menghela napas panjang. Kali ini, Lail makin mengusik kehidupannya, bertanya tentang alasan. “Tak semudah itu untuk menjawabnya. Hari-hari itu adalah hari yang berat, Lail,” keluh Najmi setelah membaca bait yang kesekian itu.

Najmi kembali membaca secarik surat itu. Tak lama kemudian, Ia membatin. Untuk kesekian kalinya, Lail melarangnya berjanji dan memintanya agar tak terlalu banyak mengucapkan kata maaf.

Sebenarnya, janji itu tulus dari hatinya, walaupun terkadang ia lalai. Ia sadar dia hanyalah lelaki sederhana yang terlanjur kagum pada Lail. Ia hanya ingin menjadi bintang yang menghiasi malam, tak mengharap apa-apa dari Lail. Namun, sepertinya Lail tidak suka jika diperlakukan seperti itu.

***

Tentang maaf, Najmi teringat puisi yang pernah Lail tulis di postingannya.

Pergilah, aku tak akan menahanmu lagi
Sekarang kuserahkan semua padamu
Jika kamu tetap mau membersamaiku
Hingga nanti kita sama-sama bertemu dengan orang baru,
Aku juga akan selalu setia membersamaimu
Namun, jika kamu ingin pergi
Silahkan saja
Urusan luka biar menjadi urusanku
Kamu tak perlu risau

Setelah membaca puisi itu, Najmi tergerak untuk membalasnya. Ia merasa itu ditujukan padanya. Namun, Najmi tak langsung membalasnya. Ia memerlukan beberapa menit untuk merangkai kalimat dan menyusunnya dalam rima yang sesuai. Najmi memang tak pandai membuat puisi sehingga susunan kata yang ia buat hanya mengikuti pola penulisan yang Lail gunakanan.

Maaf
Hanya itu yang bisa kuucap
Sekarang kuserahkan padamu
Jika kamu belum bisa memafkanku
hingga kita tak saling bertemu
Aku akan selalu menunggu saat itu
Namun, jika luka yang kugores tak pernah sembuh
Yakinlah, selalu ada ria setelah lara
Urusan hati biarlah Dia yang menata
Sebab, rencana-Nya tak terduga namun indah

Balasan itu ia kirimkan kepada Lail setelah hampir setengah jam. Selama itu waktu yang ia butuhkan untuk merangkai kata. Peristiwa itu terjadi sekitar dua bulan lalu. Tepatnya, beberapa hari setelah kejadian pilu. Najmi berpikir mungkin dari sinilah Lail sudah melarangnya untuk berkata maaf. Entah apa yang membuat gadis itu tak suka jika kata itu dilontarkan untuknya.

***

Pukul 23.00, malam semakin larut. Anginnya menegur setiap orang yang masih terjaga, dengan terpaan hawa dingin. Begitu pun dengan kantuk, ia menjentik orang-orang yang telah lelah dengan aktivitasnya. Najmi tak tahan lagi berada di luar, juga matanya semaki layu. Ia masuk ke kamar dan ingin segera merobohkan badannya di atas kasur. Tapi sebelum itu, ia meraih buku merah dari meja belajarnya, membuka halaman kosong dan membubuhkan beberapa kalimat.

Kursi belajarku, 7 September 2020

Hari ini, aku mendapatkan surat dari seseorang yang kusapa Lail. Di suratnya, dia meminta jawaban. Entah kapan aku akan menjawabnya. Yang pasti, itu harus kujawab.

Aku bertanya bulan, bagaimana jika gadis itu tak kuberi tahu? Kata bulan, dia tak suka tahu, dia suka tempe—Haduh… dasar, Bulan. Sepertinya bulan sedang ingin bercanda, karena bintang yang bersamanya tak bersinar terang, membuatnya sepi dan ingin berkelakar.

Kubertanya pada bintang. Bintang tak menjawab. Akhirnya, kuputuskan untuk menitipkan pesan pada langit bahwa aku akan memberi tahu alasannya ketika bertemu nanti. Tapi, aku tak tahu kapan pertemuan itu akan terjadi. Yang pasti aku tak akan ingkar janji.

***

Najmi tak mampu lagi menahan kantuk yang menyerangnya. Tubuhya terlalu lelah dan matanya terlalu sayu untuk tetap bertahan, terjaga di malam hari. Ia menutup bukunya. Lalu, berjalan ke ranjang dan menjatuhkan diri di atas kasur. Tak butuh waktu lama, Najmi sudah berlayar ke pulau kapuk.

 

Rasha Akhtar, Pengagum Cinta dalam Pena

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *