Siha nampak begitu ceria dan sumringah saat berangkat ke kampus. Ia membayangkan bisa bertemu dengan teman-temannya setelah melewati libur panjang semesteran. Ia ingin segera sampai di kelas. Sesampai di depan kelas, langsung seketika mood yang dibangun Siha sedari perjalanan berubah. Tak disangka, kabar buruk dalam chat singkat menggores hati Siha bahkan sampai Menyayat-menyayat hatinya. Hari pertama masuk bangku perkuliahan di Semester tiga, ia tidak bisa belajar bersama dan bertatap muka lagi dengan Sizi, sosok yang menurutnya pendiam dan aneh. Melalui pesan chat yang masuk saat Siha mendorong pintu kelas.
Sizi: “Siha, selamat pagiJ”
Siha: “Pagi, kog belum masuk kelas?”
Sizi: “Maafkan aku yaa…sebelumnya aku ingin mengasih tau hal ini, tapi…”
Siha: “Ada apa?”
Sizi: “Mulai hari, aku akan berpisah dulu dengan kalian”
Siha: “?”
Sizi: “Aku sengaja belum mengabari teman-teman. Aku akan belajar di negeri orang, doakan aku ya…”
Siha: “Maksudmu?”
Sizi: “Alhamdulillah, aku lolos seleksi beasiswa dari kemenag untuk kuliah S-1 di Al-Azhar.”
Siha: “Alhamdulillah.” (selang beberapa menit membaca pesan, diam termenung dan mencubit pipinya)
Siha langsung menonaktifkan hpnya. Ia memaksa dirinya untuk ikut senang, tapi ia tetap tidak merasakan kesenangan atas diterimanya Sizi (bukan iri), ia merasa kesal, sedih, kecewa atas sikap Sizi yang seperti itu, yang menurutnya kurang terbuka. Siha merasa keberadaannya sebagai seorang teman tidak dianggap.
***
(Siha membayangkan dalam imajinasinya saat perjumpaannya dulu.)
Pertama kali masuk gerbang samping, suara hingar-bingar sorakan kumpulan remaja merasuk telinga, sebut saja mereka mahasiswa. Lebih kurang jarak satu meter, Siha disapa oleh senior dengan tampang sok jagoan dan sok berilmu. Siha meolongo terkejut, seketika ia menjadi sorotan pusat perhatian semua sekumpulan remaja di lapangan kampus. Siha gugup dan malu, tapi ia berusaha menutupi rasa gugupnya itu. Ia tetap jalan santai seperti orang yang tidak punya salah. Ia menyelinap masuk di barisan paling belakang.
Tiba-tiba ada sosok seorang perempuan dengan suara cempreng menyapanya sambil menyodorkan tangannya untuk kenalan. Siha membals balik isyarat tangan perempuan itu. Siha memperkenalkan dirinya begitupun perempuan itu. Sebut saja Simol, gadis kelahiran Tangerang yang memiliki tingkat ke-PD-an super. Mereka langsung berteman akrab dengan baik. Keduanya memiliki sifat mudah berbaur.
Siha menjongokkan kepala ke depan dan melihati sosok cowok yang berdiri tepat di samping kiri Simol. Cowok yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan mereka. Dengan reflek, Simol memperkenalkan Sizi, si cowok yang di sampingnya kepada Siha. Ia hanya tersenyum dingin melihat Siha. Sebut saja Sizi, ia adalah teman seperantauan Simol. Siha merasa agak aneh terhadap Sizi. Ia tampak seperti orang pendiam, berbeda dari teman-teman yang lain.
Ketika hari kedua ospek, dibentuklah kelomok-kelompok kecil yang beranggotakan sepuluh orang tiap anggota kelompok. Tanpa disengaja, Siha, Simol, dan Sizi ternyata satu kelompok. Kelompok Siha seringkali menjadi sorotan karena terkenal paling rame dan susah diatur. Hanya Sizi lah yang nampak agak aneh dalam kelompok itu. Ia tampak pendiam dan susah diajak kompromi untuk berbuat onar. Sizi tampak menyebalkan.
Siha yang mulanya tidak punya teman sama sekali dan susah beradaptasi mulai menemukan teman baru yang dirasa klop seide dan sepemikiran. Seringkali ia melakukan aktivitasnya di kampus bersama Simol dan Sizi yang meski agak pendiam.
(Ia mengingat ketika pertemuannya dengan Sizi saat diuji oleh Pak Seed.)
Di pertengahan semester pertama, Siha ada kumpul perwalian dosen. Di ruangan pojok sudut kampus di situlah ruangan Pak Seed. Ternyata, setelah masuk ruangan, ia melihat di situ ada Sizi juga, ia baru tahu kalau satu perwalian dosen dengan Sizi. Di pertemuan pertama Pak Seed hanya meminta anak-anak perwaliannya untuk memperkenalkan diri. Siha menyimpan rasa penasaran terhadap Sizi yang begitu pendiam. Ketika diwawancarai Pak Seed menggunakan Bahasa Arab, Inggris, dan Mandarin ia begitu lancar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Pak Seed. Tak hanya itu, Ketika di tes hafalan alquran dan sambung ayat oleh Pak Seed, ternyata Sizi juga lancar dan suaranya begitu merdu. Siha seperti bukan melihat Sizi yang sebelumnya. Rasa penasarannya terhadap Sizi semakin menjadi-jadi. “Menarik”, sempat terlintas dalam pikiran Siha.
“Siapa sebenarnya Sizi ini? Orang itu pendiam, tapi…” gumam dalam hatinya.
***
Siha baru ngeh dengan singkat percakapannya dengan Sizi dan juga Simol melalui telepon seluler sepekan sebelum keberangkatannya ke negeri sebrang. Kala itu, muka Sizi nampak agak berbeda dari biasnya yang terlihat ceria, ia terlihat agak sedikit pendiam seperti baru pertama kali bertemu dulu.
“Simooolll…Sihaaa…kita bikin agenda rujakan yukkk!”, Seru Sizi via video call.
“Tumbennn…”, sahut Simol dan Siha serentak.
“Ayoolahhh…kali ini aja”, rengek Sizi seperti anak kecil.
“Kapan? Hahahah…maap yee, Ane orang sibuk”, celetuk Simol yang cempreng sambil ketawa.
“Besok siang, gimana?”
“Wahhh…telat dong. Ane udah pesan tiket pesawat. Besok pagi, Ane terbang ke Surabaya untuk menghadiri acara pernikahan sepupu.”
Begitupan Siha, ia tak diberi izin oleh orang tuanya untuk balik lagi ke kota karena sore itu ia baru saja menginjakkan kaki di rumah melepas rindu bersama orang tua. Meskipun begitu, Sizi tetap berusaha tersenyum memakluminya, tapi respon raut muka Sizi agak sedikit kecewa. Ia sengaja tak memberi tahu rencananya untuk berpisah dari mereka.
***
Simol dan Siha benar-benar kesal dengan keputusan Sizi. Mereka masih bingung bertanya-tanya. Kenapa Sizi harus menutupi semua itu? Namun, Seminggu setelah memasuki perkuliahan semester tiga, tiba-tiba ada sosok seorang laki-laki yang datang menghampiri Siha dan Simol saat duduk di kantin. Orang itu tak lain adalah sepupu Sizi yang merupakan senior mereka. Ia menyampaikan pesan Sizi kepada Simol dan Siha, bahwa Sizi tidak bermaksud membuat mereka kecewa dengan keputusannya. Mulanya, Sizi memang sudah mendapat beasiswa untuk kuliah S-1 di Sudan,tapi ia tak mengambilnya. Nah, sekarang tawaran beasiswa menghampiri Sizi lagi. Ia lolos seleksi beasiswa kemenag yang didaftarinya setengah tahun lalu. Kuliah di negeri piramid itu sudah menjadi impiannya sejak kecil. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Laki-laki itu membenarkan sosok Sizi yang pendiam dan paling tidak bisa membuat seseorang sakit hati. Sebelum berangkat, Sizi menyampaikan kegelisahannya untuk berpisah meninggalkan Simol dan Siha. Ungkapan yang disampaikan sepupu Sizi itu mengetuk hati Siha dan Simol untuk merelakan, mensupport, dan mendoakan agar apa yang diimpikan Sizi dapat tercapai. Hampir setiap hari, komunikasi antara Siha, Simol, dan Sizi tidak terputus.
Siha yang dulu paling sering bersuudzon terhadap Sizi merasa benar-benar kehilangan seorang teman yang paling sabar. Siha paling merasa bersalah karena pernah berpikir aneh-aneh tentang Sizi dan menduga-duga kalau Sizi itu hanya sok-sok pendiam. Hujan tak kunjung reda. Sepulang kuliah, ia nekat menerobos hujan. Ia terus meradang menerjang jejatuhan air sambil menyusuri jalan. Ia tak meraskan cucuran air matanya yang sedari tadi mengalir tiada henti. Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Dalam benaknya muncul bayangan Sizi dan Simol menemaninya berjalan melewati jalan yang sering ia lewati bersama saat hendak ke taman Teropong. Imajinasinya semakin menjadi-jadi, Siha mengingat kebersamaan mereka yang sering menghabiskan waktu bersama di perpus dan seharian berdiskusi di sana tanpa kenal bosan. Kadangkala kalau kelas sepi mata kuliah, mereka seakan-akan terpaku di sana. Mereka menetap dari pintu di buka hingga lonceng tanda peringatan semua karyawan dan pengunjung disuruh meninggalkan ruangan dibunyikan, bahkan bunyi lonceng itu tak mereka hiraukan sama sekali karena saking asiknya. Bisa dibilang mereka termasuk pengunjung yang bandel. Ketika pintu belum dibuka, mereka selalu menggriseni penjaga perpus untuk segera membuka, tapi mereka ini paling akhir keluar dari perpus.
Siha dan Simol baru menyadari kalau Sizi lah satu-satunya orang yang baik dan tanpa pamrih dalam menolong seseorang. Sizi yang sering memimpin diskusi di kelas kini sudah tiada lagi. Siha, Simol, dan Sizi adalah sosok yang paling berperan dan bisa menghidupkan suasana kelas. Mereka bisa saling bersinergi. Masing-masing memiliki keahlian di bidang yang berbeda dan bisa saling melengkapi. Siha dan Simol yang di kala diskusi terlihat aktif seketika menjadi sosok yang pendiam. Suasana kelas seakan-akan mati. Tiada yang bisa menghidupkan kelas layaknya ketika masih ada kehadiran Sizi. Meskipun ia tampak pendiam, tapi otaknya berisi bahkan dosen pun teragum-kagum ketika melihat ia presentasi dan menyampaikan gagasannya. Hampir setiap kali dosen masuk kelas pasti menanyakan keberadaan Sizi. Siha dan Simol yang bisanya selalu bersama menjadi sorotan dosen. Sebagian dosen iba terhadap mereka. Akselerasinya menurun, mereka tampak tak bersemangat dalam mengikuti perkuliahan.
Oleh: El-Fath







