Di kabupaten Blora, tradisi sedekah bumi biasa disebut “Gasdeso”. Sedekah bumi merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan setelah panen raya sebagai wujud rasa syukur masyarakat kepada yang Maha memberi rezeki. Tradisi ini dipatuhi dan dijalankan oleh seluruh desa di Kabupaten Blora. Waktu pelaksanaannya berbeda-beda tergantung pada kapan desa tersebut mengalami panen raya. Demikian halnya tradisi ini berlangsung di desa penulis, Desa Sumberejo, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora.
Sekitar tahun 80-an, masyarakat di Desa Sumberejo sehari sebelum acara dimulai, melakukan bakar-bakar kemenyan. Prosesi ini dipercaya untuk menghormati arwah leluhur sekaligus meminta izin untuk mengadakan sedekah bumi.
Di desa ini, sedekah bumi dilangsungkan di sendang atau sumur tua dan di dekat pohon beringin tua dengan membawa tumpengan disertai sesajen. Tumpengan ini untuk kondangan -doa bersama untuk mengucap syukur atas panen raya serta memohon keselamatan desa yang dipimpin oleh modin atau sesepuh untuk kemudian makan bersama terhadap tumpengan yang dibawa. Sedangkan sesajen dimaksudkan untuk mendoakan arwah leluhur.
Namun seiring berjalannya waktu, muncul beberapa perubahan atas serangkaia prosesi sedekah bumi. Ada pergeseran perspektif ketika masyarakat menyikapi kemenyan dan sajen dalam sedekah bumi. Bahkan ada yang menilai kedua hal ini musyrik. Sehingga menyebabkan konflik berupa cekcok antar warga terkait sedekah bumi. Lalu, penyelesaian konflik dilakukan dengan akulturasi budaya keislaman tanpa menghilangkan tujuan utama berupa ucap syukur atas panen raya.
Akulturasi tersebut berupa tempat pelaksanaan kondangan yang semula di sumur tua/sendang/pohon beringin dipindah di balai desa. Sedekah bumi tetap melakukan bacaan doa yang dipimpin oleh modin, sesepuh desa ataupun kepala desa. Sedangkan pembakaran kemenyan diganti menjadi bersih-bersih desa sehari sebelum sedekah bumi digelar. Warga biasanya membersihkan selokan-selokan, membabat rumput liar, dan sebagainya.
Pada upacara tradisi gasdeso ini, sederhana saja peristiwa atau kegiatan yang dilakukan. Ketika tiba waktunya masyarakat sekitar merayakan dengan membuat tumpeng dan jajanan khas daerah dan berkumpul menjadi satu di tempat sesepuh kampung, balai desa, sumur, waduk, makam sesepuh dan tempat-tempat yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat untuk menggelar acara sedekah bumi.
Setelah itu, masyarakat membawa tumpeng dan jajanan khas daerah ke tempat yang telah disepakati untuk didoakan oleh seorang pemuka agama atau sesepuh setempat. Usai didoakan, tumpeng atau jajanan kembali diserahkan kepada masyarakat yang membawanya. Lantas dimakan ramai-ramai oleh masyarakat yang merayakan sedekah bumi. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang membawa nasi tumpeng dan jajanan untuk dibawa pulang dan dimakan bersama sanak keluarganya.
Adatnya, sebelum upacara sedekah bumi dilaksanakan, warga biasanya mengirim makanan lengkap dengan jajanan khas sedekah bumi -seperti yang digunakan dalam kondangan- kepada sanak saudara di luar desa. Jajanan khas sedekah bumi ialah pasung, bugis, tape, ada juga dumbeg –biasanya oleh masyarakat di kota Blora bagian timur-.
Pasung sendiri memiliki ciri khas yaitu berbentuk kerucut yang dilapisi daun pisang, dan terbuat dari tepung beras. Bugis berasal dari tepung ketan, di tengahnya dilapisi parutan kelapa dan gula jawa yang sudah disangrai untuk kemudian dikukus. Sedangkan tape terbuat dari beras ketan yang dicampur ragi dan didiamkan selama 2-3 hari. Dumbeg juga memiliki ciri khas yaitu bentuknya mengerucut dengan lilitan janur kelapa yang disusun melingkar. Dumbeg terbuat dari tepung tapioka dan tepung ketan yang dicampur dengan gula aren dan santan untuk kemudian dikukus dan biasanya bagian atas dilapisi potongan kelapa.
Kearifan yang begitu khas ketika biasanya banyak kerabat atau teman dari luar desa datang berkunjung saat sedekah bumi, mulai dari anak SMP, SMA, Kuliah, hingga rekan kerja. Mereka bersuka cita meramaikan desa, menikmati hiburan –tontonan yang digelar sebagai rangkaian dari sedekah bumi seperti barongan, ketoprak, tayub, wayang kulit, dangdut, dll. – sembari menyantap jajanan atau makanan yang sudah disediakan.
Untuk meramaikan sedekah bumi, para pemuda melalui karang taruna berinisiatif mengadakan perlombaan mulai dari pertandingan voli -dengan mengundang tim dari luar desa- dan terkadang juga panjat pinang (biasa disebut masyarakat Blora dengan jambean).
Kira-kira seperti itulah kearifan yang ada di kota Blora. Sederhana dan menggembirakan. Bermula dari rasa syukur, sedekah bumi atau gasdeso menyebarkan suka cita kepada masyarakat yang melestarikannya. Jajanan, kesenian, upacara adat sampai kebiasaan berbagi makanan dalam sedekah bumi ini telah menjadi jati diri masyarakat Desa Sumberejo (dalam artikel ini) serta masyarakat Blora pada umumnya.
*Oleh: Yuana.







