Seni Berdamai dengan Masa Silam

*Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi.

Masa lalu, oh masa lalu. Suka dukanya tersimpan rapi lalam dalam ruang memori. Melepas segala hal yang teringgalkan oleh waktu. Kesenangan di masa remaja, keceriaan di masa kecil, nyatanya begitu cepat saya lalui. Seperti kemerin sore semua kejadian-kejadian dan momentum paling mengharu biru itu berlangsung. Pahit manisnya, telah saya alami. Sebuah kemustahilan untuk mengulang. Sebuah ketidakmungkinan untuk menjalani ragam persitiwa itu di masa sekarang. Getir hidup, lika-liku hidup, warna-warni hidup, di masa itu, semuanya seakan memudar. Dihempas oleh kedahasyatan waktu yang tidak pernah kenal kompromi. Usia kian berkurang.

Semua harus menerima fakta bahwa segala sesuatunya telah berubah. Tidak seperti sedia kala. Adakah obat, vitamin, atau ramuan apapun yang bisa saya teguk untuk menghapus atau bahkan mereset ulang semua yang telah saya lalui? Adalah tips-tips ampuh untuk membuat saya benar-benar melupakan segala yang terlewati? Pastinya jawabannya adalah Tidak adak. Itu semacam pertanyaan retoris yang saya sendiri sebenarnya telah mengetahui jawabannya.

Kita sepenuhnya tidak bsia mengubur masa silam itu. Sebab, sewaktu-waktu, tanpa kita sadari, secara tidak disengaj, lintasan ingatan itu berkelebat dalam pikiran. Membuat kita bernostalgia sejenak. Seolah memutar kembali berbagai momentum yang barangkali membuat nestapa untuk kembali dikenang. Atau mungkin membuat hati berdebat-debar sekaligus berbunga-bunga mengingat segala hal yang manis di kala itu. Tapi, kita harus sadar betul, bahwa itu semua telah terjadi. Kita berada di hari ini. Hari di mana kita bisa melakukan banyak hal berdasarkan pertimbangan-pertimbangan terentu. Berdasarkan kalkulasi-kalkulasi tertentu terkait masa depan yang sebenarnya sukar ditebak. Tapi bagaimanapun juga, masa lalu yang telah menjadi cerita itu adalah pelajaran berharga dalam hidup kita.

Bagaimanun juga, kita sukar membantah bahwa yang namanya pengalaman itu adalah guru terbaik kita. Tidak ada gunya melontarkan sumpah serapah terkait kesalahan-kesalahan atau kekhilafan-kekhilafan kita di masa lalu. Tidak ada manfaatnya menyimpan api amarah atau dendam kusumat kepada orang-orang yang mungkin telah melukai  hati kita. Sebab, jika demikian, hati dan pikiran kita akan semakin gusar. Jika demikian, perasaan kita selaku dihantui penyesalan yang tak berkesudahan. Padahal, kita sendiri sudah melalui fase-fase tersebut. Persoalannya mungkin kita belum sepenuhnya memafaatkan manusia-manusia yang acapkali membuat kita kecewa.

Lagi-lagi, saya tegaskan bahwa catatan ini menjadi ikhtiar bagi saya pribadi terutama untuk betul-betul berdamai dengan masa lalu. Benar-benar menjadikan masa silam sebagai kaca benggala untuk melangkah ke depannya. Belajar dari kesalahan-kesalahan di waktu itu agar tidak jatuh di lobang yang sama. Saya pikir dengan menjadi insan yang senantiasa introspeksi diri terhadap masa lalunya, saya akan bisa berpikir dan melangkah dengan arif dan bijaksana. Tidak gampang menyalahkan orang lain. Tidak mudah menyimpan rasa iri dan dengki terhadap nikmat yang diperoleh orang lain.

Lagi pula, hidup ini adalah perjalanan. Alam dunia bukan akhir dari pengembaraan hidup kita. Artinya, sudah semestinya kita semua fokus membenahi diri daripada terus-menerus meratapi masa lalu yang tidak mungkin diulang apalagi diubah. Alangkah lebih bijaksananya segera berkemas-kemas mengumpulkan bekal amal kebaikan untuk mengarungi perjalanan selanjutnya di alam akhirat. Yang berlalu biarlah berlalu. Masa depan pun masih penuh tanda tanya dan teka-teki. Dan hari ini adalah milik kita. Detik ini adalah kesempatan kita untuk mewarani hidup dengan kebaikan-kebaikan. Entah itu dengna memperbanyak zikir, sholawat, sholat sunnah, dan semacamnya. Bisa juga dengan mengembangan diri lewat membaca, menulis, ikut kajian ilmu, dan lain sebagainya.

Intinya, selagi Tuhan menitipkan nikmat sehat dan waktu luang, harusnya kita beranjak untuk tidak menyia-nyiakannya. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran dan alarm pengingat bagi kita terkait kesemberonoan dalam menjalani hidup. Termasuk mungkin ragam kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, secara sengaja atau tidak sengaja, harus dimintakan ampun kepada Tuhan yang Maha Pengampun, kepada Tuhan yang kasih sayangnya kepada kita ibarat lautan tak bertepi. Dan sudah semestinya kita mengakui betul kesalahan-kesalahan kita, bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, dan bersimpuh di hadapan-nya dengan penuh penyesalan.

Berdamai dengan masa lalu juga mengandung artian kita merelakan kepergian orang-orang yang selama ini kita pikir akan selalu menemani hari-hari kita. Orang-orang dalam hidup kita itu datang silih berganti. Kawan-kawan kita, yang dulunya sangat karib dengan kita, bisa jadi sekarang menjadi sangat asing yang kita sendiri kadang teramat canggung untuk sekadar melontarkarkan tegur sapa. Ya, di dunia ini semua berubah. Bahkan, fisik kita pun berubah dari waktu ke waktu. Dan juga pola pikir kita, bisa jadi tidak sama persis dengan pola pikir ketika masih duduk di bangku SD/SMP.

Adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak bahwa perubahan itu terjadi di segala lini kehidupan. Detik demi detik waktu terus bergulir. Hari ini, adalah kesempatan kita untuk menjeput masa depan. Hari ini, merupakan momentum kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Al-Khalik. Dan yang terakhir, berdamailah dngan masa lalu dengan berupaya semaksimal mungkin menjadi manusia terbaik versi Allah dan Rasulullah. Menjadi insan yang selalu meningaktkan iman dan takwa kepada Al-Malik.  Dan memungkasi tulisan ini, mari kita jadikan masa lalu kita sebagai batu loncatan untuk naik derajat di dunia dan akhirat.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *