Umat Islam akhirnya merayakan hari kemenangan setelah satu bulan lamanya berpuasa menahan diri dari segala bentuk godaan. Hari Raya Idul Fitri tak lain dijadikan sebagai momen saling memaafkan. Di Indonesia, perayaan ini ditandai dengan silaturahim kepada orangtua, keluarga, dan kerabat.

Mengenai silaturahim, Imam Qurtubi mencontohkan tentang bagaimana cara-cara melakukan silaturahim. Di antaranya ialah dengan saling menasehati, berlaku adil, dan menunaikan hak-hak wajib dan sunnah.“Penyambung silaturahim bukanlah orang yang membalas kebaikan orang lain padanya, melainkan dia adalah orang yang menyambungkan hubungan yang telah putus” (HR. Bukhari).

Sebab, dalam kehidupan, khususnya dalam berinteraksi sosial, seringkali terjadi khilaf dan salam paham yang kemudian menjadikan persaudaraan tak lagi harmonis. Dua insan yang memiliki hubungan persaudaraan dan saling menyayangi akhirnya menjadi jauh. Nah, untuk menyikapi ataupun menangani hal tersebut, maka perlu mencari jalan keluar. Manusia adalah makhluk sosial (madaniyun bi ath-thab’i) yang tidak bisa hidup berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.

Maka, silaturahim menjadi sarana untuk menjalin hubungan persaudaraan dan pertemanan yang renggang. Dengan pendekatan persaudaraan kasih sayang antarsesama, maka terhapuslah kesalahan dan kesalahpahaman yang pernah diperbuat. Sebab, silaturahim juga termasuk cara yang paling efektif untuk menumbuhkan rasa cinta dan interaksi sosial antar umat. Tak lain akan memperkuat nilai persaudaraan dan rasa kasih sayang sesama manusia yang nantinya akan terjalin.

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa saja yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk,” (QS. Ar-Ra’d:21)

Baca Juga  Pandemi, Kriminalitas dan Penegakan Hukumnya

Kegembiraan benar-benar dirasakan disaat lebaran. Namun, meskipun begitu, tetap ada batasan yang harus dipatuhi. Seperti tidak menodai Perayaan Idul Fitri dengan perilaku tercela, seperti minuman keras, dan hiburan yang mengandung maksiat lainnnya. Karena yang terpenting adalah bagaimana wujud nyata dari Hari Raya Idul Fitri, yakni kembali fitrah atau kembali suci sebagaimana bayi yang baru lahir.

Akan tetapi, kita harus menunjukkan rasa syukur dengan datangnya bulan Syawwal, yang sebelumnya Ramadan kita dilatih. Dengan harapan akan tetap terus dilakukan amalan-amalan setelah berakhirnya Ramadan. Mengingat ibadah puasa yang dikerjakan itu merupakan upaya penyucian diri, dan momentum untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Sehingga, silaturahim dapat menjadikan kuatnya keimanan dan ketaqwaan seorang hamba.

Silaturahim dalam konteks bernegara diwujudkan sebagai upaya untuk meningkatkan persatuan dengan semangat ukhuwah yang telah lama dibangun. Memaknai silaturahim dengan membangun ukhuwah bersama keluarga, saudara, dan masyarakat. Karena sesungguhnya, mempererat hubungan persaudaraan ialah bagian dari unsur kekuatan umat sejak zaman Rasulullah hingga kini.

Dalam suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, disebutkan: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya sagala apa ynag ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.” Petikan hadits tersebut menunjukkan betapa pentingnya ukhuwah, bahkan oleh Rasulullah, dikaitkan dengan kesempurnaan iman seseorang.

Pebedaan yang ada tidaklah menjadikan umat berselisih, dalam hal ini begitu pentingnya silaturahim yang menjadi bagian dari konsep Haqqul Muslim alal Muslim, yakni dengan silaturahim. Makna sebenarnya dari silaturahim yang terlupakan, yaitu dengan saling menguatkan iman, saling mengingatkan dalam kebenaran, dan saling meneguhkan dalam satu ikatan ukhuwah islamiyah(Ahmad Luthfi:2013).

Baca Juga  Surat Kecil untuk Covid-19

Majunya teknologi memungkinkan manusia melakukan apapun tanpa adanya batas waktu dan jarak. Namun tetaplah digunakan dengan sebaik-baiknya, sarana telekomunikasi yang canggih sangat membantu manusia, termasuk silaturahim. Fasilitas yang ada saat ini begitu memudahkan kita untuk bersilaturahim kepada sanak saudara, tetangga, dan kerabat.

Jangan sampai semangat kita memudar hanya karena belum bisa bertemu secara langsung dengan mereka. Bukankah dengan tidak mudik ke kampung halaman merupakan upaya kita memutus penyebaran covid yang makin parah? Silaturahim harus tetap ada, jangan sampai putus. Menjalankan silaturahim, berarti semakin menguatkan ikatan tali persaudaraan antar sesama. Sehingga Ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Ikhsan Hidayat
Peneliti Muda di Pon Pes Dar al-Qolam Semarang.

    Memaknai Idul Fitri dan Silaturahmi

    Previous article

    Novel Baswedan: Perjuangan Antikorupsi Seperti Dimusuhi di Negeri Sendiri

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Gagasan