Salah Memahami Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

Salah Memahami Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

Ungkapan “al-jannatu tahta aqdaam al-ummahaat, surga di bawah telapak kaki ibu” sangat terkenal. Terutama di kalangan pada orang tua, utamanya lagi para ibu, untuk menunjukkan otoritasnya di hadapan anak.

Ungkapan tersebut terasa sangat “bertuah” karena disandarkan kepada Nabi Muhammad melalu jalur periwayatan Imam Ahmad. Lepas dari banyaknya kritik tentang validitas hadits tersebut, substansi ajaran hadits di atas sangatlah penting.

Namun, sayangnya, mayoritas memahami pesan hadits tersebut secara keliru. Hadits tersebut dianggap sebagai perintah kepada anak untuk berbakti kepada orang tua, utamanya ibu. Bahwa berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban anak, sudah banyak teks al-Qur’an maupun hadits yang menyatakannya. Dan hadits ini sesungguhnya justru sebaliknya, merupakan pesan kepada para ibu agar menjadi contoh yang terbaik.

Keteladanan ibu itulah yang akan mengantarkan ke surga, dan juga sebaliknya ke neraka. Ibu yang baik, yang menjalankan kebiasaan hidup sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, akan menghasilkan jalan hidup menuju surga. Itulah yang kemudian dinyatakan dalam ungkapan puitis bahwa surga di bawah telapak kaki ibu. Tentu saja, karena itu, jika kaki seorang ibu diangkat dan diperiksa, tidak akan ada surga di sana.

Bacaan Lainnya

Islam memang melihat peran penting seorang ibu. Ini ditekankan dalam ungkapan lain bahwa perempuan adalah madrasah yang pertama dan juga yang utama. Ibu merupakan guru yang akan dicontoh oleh anak sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan.

Jika seorang perempuan menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan efektif, maka anak akan tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang baik. Dalam konteks ini, cara berperilaku bahkan cara berpikir seorang ibu akan dijiplak oleh anak.

Cara berperilku seorang ibu akan ditiru karena anak mudah mencerapnya dalam aktivitas sehari-hari. Cara berpikir seorang ibu juga akan ditangkap oleh seorang anak melalui kata-kata yang keluar dari mulutnya. Jika seorang ibu membiasakan berkata-kata yang logis dan juga lembut, maka anak akan juga menirunya.

Terlebih lagi jika ibu memperhatikan sejak ini perkataan anaknya dan melakukan koreksi apabila terjadi kesalahan dengan cara yang baik, maka anak akan memiliki kemampuan bernalar yang baik yang ditunjukkan dalam berkata-kata yang runtut dan jelas subjek, predikat, dan objeknya.

Dari sini nampak sekali bahwa ibu bisa menjadi penentu awal bagi anak. Sebab, jika dibandingkan dengan bapak, intensitasnya bisa dikatakan tidak sebanding. Intensitas kebersamaan seorang ibu terutama terjadi pada saat menyusui yang bahkan dilanjutkan dalam kebersamaan dalam tidur.

Dalam kebersamaan itulah, seorang ibu bisa melakukan internalisasi nilai-nilai yang diinginkan. Karena faktor fisiologis perempuan yang berbeda dengan laki-laki, seorang bapak memiliki keterbatasan untuk melakukan apa yang dilakukan ibu.

Dalam konteks itulah, ibu menjadi penentu anak akan masuk ke surga atau sebaliknya ke neraka. Jejak-jejak kakinyalah yang akan diikuti oleh anaknya. Jika langkahnya salah, anak akan terjerumus ke neraka. Jika benar, maka anak menuju ke surga. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh: Dr. Abu Hokma.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *