Generasi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris Generation yang berarti sekumpulan orang yang lahir dan hidup pada waktu yang hampir bersamaan dan dianggap kolektif. Kupperscmidt berpendapat bahwa generasi merupakan sekumpulan orang yang memiliki kesamaan tahun lahir, umur, lokasi, dan pengalaman historis. Dari pengertian tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebuah generasi dikelompokkan pada rentang umur. Hampir semua ilmuan bersepakat dalam rentang umur atau jarak dari satu generasi dengan generasi berikutnya sekitar 20 sampai 30 tahun.
Ada banyak generasi yang dikemukakan oleh para ilmuan, di antaranya generasi perang klasik yang hidup pada tahun 1600-1800 M, generasi milenial yang lahir pada tahun 1981 sampai 1995 M, generasi Z yang lahir dari 1996-2010, dan yang terbaru adalah generasi Alpha yang lahir dari 2011 sampai 2025.
Karakteristik tiap generasi berbeda-beda sesuai dengan tuntutan zaman. Pada umumnya perbedaan antar generasi dilatar belakangi oleh teknologi informasi yang berkembang pada saat itu, Seperti contoh generasi milenial, yaitu generasi yang lahir pada masa-masa awal teknologi informasi berkembang. Pada masa itu teknologi informasi hanya digunakan sebagai alat penunjang pekerjaan Sedangkan bagi generasi Z dianggap kebutuhan pokok. Generasi Z sangat dekat dengan teknologi dalam kesibukan sehari-hari bahkan teknologi telah menjadi gaya hidup yang sulit dipisahkan dari generasi Z. Generasi Z juga tidak lepas dari media sosial seperti Facebook, Instagram dan lain-lain. Generasi Z cenderung lebih berhati-hati dan lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Mereka sadar betul akan akibat dari penggunaan media sosial yang salah.
Generasi Z merupakan generasi yang mampu berpikir secara teknologis untuk saat ini. Sebab kehidupan generasi Z saat ini menuntut mereka untuk melakukan berbagai hal lewat teknologi seperti mengirim tugas lewat E-mail, wawancara pekerjaan lewat Video Call, bahkan hal seremeh membeli makanan pun juga lewat teknologi. Teknologi mempermudah manusia dalam melakukan segala aktivitas. Dengan adanya teknologi, manusia tidak perlu bersusah payah pergi ke kantor pos mengirim surat, tinggal ketik dan tekan layar send, maka pesan pun sampai kepada orang yang dituju dan tidak perlu ke kantor pos hanya untuk sekedar menanyakan kabar.
Kehadiran teknologi di tengah-tengah masyarakat memang sangat membantu mobilitas di berbagai sektor; semisal perekonomian, informasi, maupun transportasi. Namun tanpa disadari ternyata teknologi juga memiliki efek negatif pada satu sisi yang lain. Bagaikan Sekeping uang logam yang mempunyai dua sisi, teknologi juga memberikan efek negatif di samping manfaat yang ditawarkan. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan, karena ternyata teknologi memberikan dampak yang serius bagi pola pikir dan watak para kawula muda.
Salah satu hal yang berdampak buruk bagi generasi muda adalah kecanduan game online. Sebenarnya bermain game online sah-sah saja untuk dimainkan. tujuan awal dibuatnya game online adalah untuk menghibur diri setelah penat melakukan aktivitas, terlebih lagi jika aktivitas tersebut berhubungan dengan kegiatan berpikir, pasti sangat mengasyikkan. Namun tanpa disadari memainkan game online ternyata mempunyai banyak efek buruk bagi kesehatan fisik maupun mental.
Dilansir dari situs halodoc.com, bermain game online secara berlebihan dapat menyebabkan gaming disorder atau kecanduan dalam bermain. Gaming disorder adalah penyakit psikologis seseorang yang terobsesi untuk terus memainkan game online. Biasanya orang yang mengidap gaming disorder akan memprioritaskan bermain game daripada kegiatan lain, kalaupun melakukan kegiatan lain, itupun disambi dengan bermain game. Gejala-gejala bagi orang yang mengidap gaming disorder yaitu merasa sulit mengontrol keinginan untuk bermain game meskipun dia tahu konsekuensi akibat tidak bisa mengontrol diri, selanjutnya orang tersebut akan mengalami masalah dalam keluarga, sekolah, maupun pekerjaan. Terakhir pengidap gaming disorder biasanya abai terhadap diri sendiri sehingga orang tersebut mengalami masalah kesehatan baik itu malnutrisi maupun obesitas.
Ada banyak cara untuk memulihkan seseorang dari gaming disorder, di antaranya; dengan psychoeducation atau memberikan edukasi mengenai kebiasaan atau kecanduan yang dialami. Di samping memberikan edukasi tentang kecanduan, psychoeducation juga membantu pasien untuk melatih kemampuan komunikasi dengan orang lain. Selain psychoeducation hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan motivasi keluarga. Dukungan keluarga berperan penting dalam masa transisi kebiasaan baru.
Sungguh disayangkan memang, permainan yang seharusnya memberikan hiburan bagi setiao orang malah memberikan dampak buruk bagi mental dan juga kesehatan. Seharusnya generasi muda bisa mengontrol diri saat memainkan game online, namun faktanya generasi muda sekarang malah dipermainkan oleh permainan. Niat awal ingin refresh dari kepenatan setelah berkegiatan sehari-hari, eh justru membuat generasi muda terjebak dalam lingkaran setan yang bernama kecanduan atau gaming disorder.
Penyakit ini juga akan berpengaruh pada karakter penerus bangsa. Seseorang yang mengidap kecanduan bermain game online cenderung individualis, mudah tersinggung, dan tidak fokus terhadap suatu pekerjaan. Hal ini jelas akan mengancam keberlangsungan dan regenerasi penerus bangsa. Negara yang maju membutuhkan penerus-penerus yang mempunyai logika yang sehat dan fisik yang kuat. lalu bagaimana jika game online malah merusak akal dan fisik? Tentu akan merusak kualitas pribadi penerus bangsa yang dampaknya berimbas pada kemunduran suatu negara. Dalam hal ini pemerintah agaknya belum menentukan kebijakan konkret perihal ancaman game online.
Beda Indonesia berbeda pula negara China. Negara China mulai sadar akan bahaya game online bagi generasi muda mereka. Mereka sadar bahwa bermain game online tanpa adanya pembatasan akan menimbulkan masalah serius di masa mendatang. Mereka menyebut kecanduan game online dengan sebutan candu spiritual. Mereka khawatir akan kelberangsungan generasi muda mereka yang berjumlah 11 juta jiwa yang terancam kesehatan fisik dan mental karena telah kecanduan game online. Dalam masalah ini pemerintah China menerapkan pembatasan durasi bermain game online. Semula, pemerintah China membatasai durasi bermain selama 90 menit perhari bagi pemain yang berusia kurang dari 18 tahun. Namun pemerintah China merevisi aturan main tersebut menjadi 3 jam dalam seminggu di akhir pekan mulai dari 20.00-21.00. Dilansir dari Kompas.com, di samping menerapkan pembatasan waktu bermain, pemerintah china juga mewajibkan perusahaan-perusahaan game online untuk memberlakukan regulasi umur dan ID sesuai nama mereka masing-masing. Pemerintah China berharap dengan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah pengguna, uang yang dikeluarkan dan waktu yang dibuang untuk bermain.







