Oleh: M Emir Tinodungan Harahap, Mahasiswa Universitas Airlangga
Ada satu penyakit kronis yang kerap menjangkiti diskusi-diskusi mahasiswa Islam hari ini, yaitu penyakit “romantisme sejarah”. Di sudut-sudut sekretariat organisasi atau mimbar-mimbar masjid kampus, kita sering mendengar narasi kejayaan masa lalu didengungkan. Kita bangga menceritakan bagaimana Baghdad pernah menjadi pusat dunia, bagaimana Eropa berada dalam kegelapan ketika Islam memegang obor peradaban, dan bagaimana perpustakaan Dinasti Abbasiyah menjadi iri hati bangsa-bangsa lain.
Jujur saja, saya sering merasa gerah setiap kali mengalami hal hal seperti ini. Polanya hampir selalu sama, kita membuka forum dengan semangat, lalu di tengah-tengah, muncul narasi kebanggaan masa lalu. Kita bicara berbusa-busa soal Baghdad, soal Harun Ar-Rasyid, soal bagaimana Islam pernah memimpin dunia dengan sains dan teknologi
Coba pikirkan sebentar. Apa yang membuat Abbasiyah jadi mercusuar dunia? Apakah karena mereka paling rajin teriak slogan? Tentu bukan. Kunci kejayaan Abbasiyah di Baghdad bukanlah pula karena mereka memiliki pedang tajam atau tentara yang banyak, melainkan karena keberadaan Bayt al-Hikmah. Di sana terjadi sebuah gerakan intelektual paling progresif dalam sejarah manusia Gerakan yang mereka bangun adalah Gerakan Penerjemahan yang radikal. Khalifahnya rela menukar buku asing dengan emas seberat buku itu. Bayangkan, negara bangkrut demi buku. Mereka tidak peduli ilmunya dari Yunani atau India. Selama itu ilmu, mereka terjemahkan, mereka simpan di perpustakaan, dan mereka pelajari.
Kita bangga menyebut diri agent of change, tapi disuruh baca satu buku sampai tamat saja nafasnya sudah senin-kamis. Kita lebih suka membaca judul berita clickbait atau caption Instagram ketimbang menyelami pemikiran mendalam para ulama dan saintis.Berkaca pada realitas hari ini, kondisi intelektual mahasiswa Islam tampaknya berjalan bertolak belakang dengan semangat Abbasiyah. Gerakan literasi yang sering digaungkan di kampus-kampus acapkali berhenti pada tataran seremonial dan sloganistik. Seminar literasi menjamur, namun tingkat kunjungan ke perpustakaan dan daya tahan membaca mahasiswa masih memprihatinkan.
Perpustakaan kampus, yang seharusnya menjadi “laboratorium pemikiran” sebagaimana Bayt al-Hikmah, sering kali beralih fungsi menjadi sekadar ruang transit yang nyaman atau tempat mencari koneksi internet. Budaya riset mendalam tergantikan oleh budaya instan preferensi membaca jurnal ilmiah dan kitab turats (klasik) tergeser oleh potongan informasi yang dangkal di media sosial. Akibatnya, terjadi pendangkalan nalar. Mahasiswa Islam hari ini terancam kehilangan otoritas keilmuan karena alergi terhadap kompleksitas ilmu pengetahuan. Kita menjadi konsumen pasif dari produk teknologi dan pemikiran yang dihasilkan oleh peradaban lain, persis karena kita enggan menempuh jalan sunyi di lorong-lorong perpustakaan.
Jika kita ingin mengembalikan kejayaan peradaban, maka perpustakaan harus kembali didudukkan sebagai sentrum pergerakan. Literasi harus bertransformasi dari sekadar kemampuan mengeja huruf menjadi kemampuan menganalisis, mengkritisi, dan memproduksi pengetahuan baru.Tanpa kemauan keras untuk kembali mencintai buku dan meramaikan perpustakaan dengan diskusi yang bernas, narasi tentang kejayaan Abbasiyah hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur yang menina-bobokan kita dari ketertinggalan yang semakin jauh.
Peradaban tidak dibangun dengan mimpi, melainkan dengan ilmu. Dan pintu gerbang ilmu, sejak era Abbasiyah hingga era digital ini, tetaplah sama. Membaca.





