Potret Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Era Disrupsi

Era disrupsi atau revolusi digital tidak hanya memberikan banyak kemudahan, tetapi lebih dari itu. Ia mampu mendobrak perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi. Berbagai lembaga maupun individu tak ingin ketinggalan berinovasi dan mengambil peluang-peluang pada era industrialisasi keempat ini.

Ketika semua hal mampu diakses dalam hitungan detik, lantas bagaimana nasib perguruan tinggi yang dalam sejarah tercatat sebagai hakim yang memutuskan kebenaran yang rasional. Tidak terkecuali, nasib Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Tahun 2020 bukan hanya menantang semua elemen dan lembaga pendidikan untuk berevolusi, namun juga harus memberikan wadah dan wacana baru bagi peserta didik dengan latar belakang pendidikan berbasis digital.

Masa pandemi yang tak kunjung berhenti ditambah perguruan tinggi yang belum siap merevolusi sistem praktikum lapangan membuat sebagian aktivitas mahasiswa akhir di PTKIN harus mendapat imbasnya. Kampus yang berlandaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya penelitian dan pengembangan, belum mampu memberikan program praktikum lapangan yang searah dengan kondisi dan arus yang berkembang.

Klaus Schwab, Pendiri dan Ketua Eksekutif Forum Ekonomi Dunia/ World Economic Forum (WEF) memetakan beberapa hal yang menjadi poin utama pada era ini; Komputerisasi, Digitalisasi, Otomatisasi, Internet of Things, Networks, dan Disrupsi. Maka, setidaknya ada satu diantara enam poin tersebut yang bisa menjadi inti dari program praktikum lapangan.

Permintaan keterampilan di tahun 2020 hingga setelahnya sudah tidak mengacu pada keterampilan materi atau konten. Bahkan, Schwab dalam bukunya The Fouth Industrial Revolution menegaskan bahwa keterampilan konten hanya berkisar 10 persen. Jauh di atasnya keterampilan memecahkan masalah rumit yang memiliki persentase sebanyak 36 persen.

Skala permintaan keterampilan ini agaknya belum dipandang serius oleh pihak kampus sehingga praktikum lapangan berbasis online hanya sampai pada pemaparan materi dan konten bacaan tanpa melibatkan program yang merevolusi mahasiswa untuk siap berselancar di dunia kemasyarakatan dengan mengambil banyak peluang di Era Disrupsi ini.

Keterampilan sosial juga cukup berpengaruh di masa mendatang, kemudian dibarengi keterampilan memproses sesuatu dengan persentase sebanyak 18 persen dan 17 persen untuk keterampilan sistem. Dunia modern nyatanya semakin bergantung kepada kemampuan teknologi dan informasi. Sangat disayangkan, jika dewasa ini, PTKIN belum mampu mengakses serta memfasilitasi lebih jauh kebutuhan mahasiswanya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *