Di Desa Mlagen ada dua pesantren yang bisa dikatakan paling besar di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang. Namanya Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) dan Pesantren al-Falah. Walupun terletak di ujung desa, bahkan Planet NUFO terbilang di luar desa, tetapi jumlah santri di kedua pesantren itu terus meningkat secara signifikan. Jumlah penghuni kedua pesantren itu, masing-masing hampir 200 orang. Dan ternyata, keduanya diasuh oleh kakak beradik yang sama-sama mantan aktivis mahasiswa. 

Pesantren al-Falah bermula dari mushalla tempat belajar mengaji anak-anak Desa Mlagen bagian timur. Nama pesantren ini juga adalah nama mushalla yang mulanya tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk shalat berjama’ah puluhan orang saja. Di bawah asuhan suami istri, H. Mohammad Mudzakkir dan Hj. Chudzaifah, mushalla ini selalu ramai di petang hari sampai setelah shalat isya’. Anak-anak perempuan usia sekolah dasar belajar membaca al-Qur’an kepada hafidh dan hafidhah murid Kiai Arwani Kudus dan Kiai Ma’shoem Lasem. Mudzakkir juga adalah seorang sarjana muda jurusan pendidikan Islam yang memilih pulang kampung dan menjadi kepala desa pada tahun 1975. Tak heran jika Mudzakkir juga menjadi kepala Madrasah Diniyah di bawah payung LP. Ma’arif NU dan kemudian menjadi salah satu inisiator utama pendirian MTs Darul Huda Mlagen dan menjadi kepala yang pertama. Chudzaifah juga menjadi aktivis Fatayat NU level desa.

Konsistensi mengajar al-Qur’an keduanya tak pernah luntur. Sebagai seorang ustadz/ah dan pemimpin pemerintahan desa yang 100 persen penduduknya muslim, keduanya selalu mewarnai aktivitas desa dengan nuansa keagamaan. Dalam mengajar mengaji santri-santri belia yang jumlah kian bertambah, anak-anaknya juga dilibatkan. Tiga anak pertamanya, Emyl Luthfiyah, Mohammad Nasih, dan Laila Mufidah sudah terlibat mengajar teman-teman sebaya sejak mereka masih bersekolah di MI Darul Huda Mlagen. Ketika Mudzakkir meninggal dunia pada tahun 1994, Chudzaifah tidak lagi menjadi Ketua Tim Penggerak PKK Desa Mlagen. Karena itu, ia mengisi waktu senggangnya dengan membentuk Jam’iyaah Tilawatil Qur’an yang pesertanya adalah kaum perempuan. Jam’iyyah ini menarik banyak ibu-ibu dan bahkan kemudian diikuti oleh 14 desa di sekitar Desa Mlagen yang bahkan terdapat di tiga kecamatan, yakni Pamotan, Sulang, dan Gunem.

Baca Juga  PAN Siapkan Calon Presiden 2024 Sendiri, Nama Soetrisno Bachir Disebut

Seiring dengan perkembangan jam’iyah itu, Pesantren al-Falah juga berkembang. Tahun 2006, sepulang kuliah dari IAIN Semarang, Laila Mufidah yang pernah menjadi Ketua Umum Kohati HMI Korkom IAIN Walisongo itu, bersama suaminya Mahbub Abdillah, mulai menerima santri yang menetap di rumahnya. Pelan tapi pasti, jumlah santri makin meningkat dari tahun ke tahun. Namun, semuanya perempuan. Atas usul saudaranya, Mohammad Nasih, al-Falah kemudian menerima santri laki-laki dengan menggunakan rumah milik saudara bungsu mereka, Ana Maghfuroh, yang memilih untuk menjadi pengusaha di Ruteng, NTT, dan menjadi pendukung secara finansial kebutuhan pesantren. Pesantren ini dikelola secara tradisional sebagaimana pesantren kebanyakan dengan in put santri rata-rata dari daerah tak jauh-jauh dari Rembang. Beberapa dari Blora, Pati, dan satu dua dari Semarang. Mohammad Nasih kemudian mendorong Pesantren al-Falah untuk menambah fokus tahfidh. Para santri Nasih di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Semarang yang ingin fokus hanya menghafalkan al-Qur’an saja, dikirim ke Pesantren al-Falah yang masih memiliki ruang yang cukup. Keberadaan para peserta Program Tahfidh ini membuat Pesantren al-Falah menjadi semakin meriah, sehingga suasana menjadi semakin dinamis.

Karena memiliki cita-cita ingin melahirkan santri dengan kualitas berilmu, berharta, dan memiliki kemampuan memimpin yang baik, Nasih yang adalah mantan aktivis PB HMI, berinisiatif untuk mendirikan pesantren baru dengan visi dan missi yang lebih sesuai dengan dinamika perubahan zaman. Awalnya, ibunya agak keberatan. Sebab, beliau khawatir akan muncul pandangan-pandangan negatif, diantaranya kecurigaan konflik saudara kandung. Selain itu, Nasih yang dikenal sebagai aktivis yang sudah tidak lagi memiliki afiliasi dengan ormas NU, karena mengajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan pernah menjadi pengurus PP Muhammadiyah. Namun, Nasih meyakinkan bahwa inisiatif mendirikan pesantren sendiri, murni karena ingin membangun lembaga pendidikan yang memang lebih relevan dengan perkembangan dinamika zaman. Keinginannya ini akhirnya tidak bisa dicegah oleh siapa pun dan berdirilah Planet NUFO yang berlokasi hanya beberapa puluh meter saja di sebelah timur al-Falah. Karena tak terlalu jauh, pesantren ini bahkan dihubungkan dengan jalan setapak yang kini telah dipasang paving. Para santri kedua pesantren ini tidak jarang melakukan aktivitas bersama. Planet NUFO meneguhkan diri sebagai lembaga pendidikan yang tanpa sekat ormas dan orpol. Para murid di dalam berasal dari beragam latar belakang ormas dan orpol. Dan bahkan semua murid difasilitasi dengan organisasi yang mereka inginkan. Ada PII (Pelajar Islam Indonesia), HPI (Himpunan Pelajar Islam), IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), dan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’). Semuanya diajarkan untuk lebih sering menjalin kerjasama dan sinergi dibanding berkompetisi.

Kegiatan Puncak Tema: PG-TK Islam Mellatena Kenalkan Binatang dan Tanaman kepada Anak-Anak

Previous article

Planet Nufo Mewajibkan Santri Punya Usaha Riil. Kenapa?

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in News