Planet NUFO tampil sebagai pesantren yang benar-benar beda. Bukan hanya dengan sekolah alamnya yang memiliki desain proses belajar mengajar yang menggembirakan dan memudahkan, tetapi juga berbagai usaha yang digeluti oleh para santri. Bahkan santri kecil (Sancil) pun sudah dilibatkan dalam berbagai wirausaha yang makin marak di lingkungan Planet NUFO. Apa sesungguhnya yang melatarbelakangi Planet NUFO sangat serius menggarap bidang usaha ini? Baladena kembali melakukan wawancara eksklusif dengan Ustadz Dr. Mohammad Nasih, pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam yang berada di Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, ini:

Baladena: “Abah Nasih, saya lihat ragam usaha di lingkungan Planet NUFO ini makin banyak. Dulu saya hanya lihat domba dan ayam. Ada sapi, tapi dulu belum dikelola santri. Kini makin banyak usaha yang dikerjakan oleh para santri. Berarti ini bagian yang diseriusi oleh pesantren. Ada apa ini?”

Abah Nasih: “Wah kayaknya saya juga jadi harus serius menjawab pertanyaan ini. Karena ternyata ini sudah dilihat secara serius juga. Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan saya selalu mendorong amal-amal usaha yang dikerjakan santri ini, makin banyak jenisnya makin bagus. Agar santri punya makin banyak pilihan sesuai dengan kesenangan, kegairahan atau passion mereka. Kalau mereka senang dan bergairah, hasilnya akan optimal. Pertama, pengalaman pribadi. Kedua, data bahwa setiap santri memiliki passion yang berbeda-beda saat masuk ke sini. Ketiga, data yang saya miliki tentang orang-orang yang mapan secara ekonomi kemudian semangat untuk belajar.”

Baladena: “Perlu diuraikan dan diterangkan satu per satu ini, Bah. Agar bisa dipahami dengan lebih jelas lagi.”

Abah Nasih: “Mengenai pengalaman pribadi, ini terjadi saat saya masih menjadi santri juga. Saat kelas IV MI, saya sudah memelihara beberapa ekor ayam. Tidak hanya memelihara, tetapi juga melakukan jual beli. Saya beli anak ayam harga Rp. 150,00, lalu setelah saya pelihara, saya jual Rp. 200,00. Pokoknya kalau sudah dapat untung, saya jual. Dari situ saya mulai mengerti bahwa untuk punya uang itu tidak sulit. Dengan uang itu, saya bisa kembali membeli anak ayam. Sebagiannya saya gunakan untuk beli bakso Lek Jumingah namanya. Sebenarnya bukan bakso, hanya bihun diberi bumbu kuah bakso. Tapi saat itu sudah sangat enak. Setelah itu, saya mulai tertarik untuk memelihara hewan yang lebih besar. Kelas VI MI, saya minta kepada bapak saya dibelikan seekor domba. Saya masih ingat betul kejadiannya. Entah karena bapak saya keberatan atau hanya menguji, beliau bilang: “Kamu kan sekolah pagi dan sore. Nanti kambing kamu terlantarkan”. Tapi saya tetap merajuk dan berjanji akan membagi waktu dengan baik. Akhirnya, bapak membelikan kambing jantan harga Rp. 42.500,00 dari polang kampung. Lek Parmin namanya. Sekarang masih hidup itu orangnya. Dari kumpul-kumpul uang dari jualan ayam, mentok, burung, dll., saya punya uang Rp. 10.000,00. Kebetulan saat itu ada domba sangat kecil, istilah kamu kunthet, dijual. Setelah saya tawar-tawar, dikasih Rp. 10.000,00. Saya punya dua ekor domba jantan. Saya mengurusnya dengan baik. Pagi-pagi setelah shalat shubuh dan ngaji, saya langsung membersihkan kandang kambing. Lalu saya ikat di rerumputan di lahan dekat rumah. Pulang sekolah, sekitar dhuhuran, kadang sebelum makan, saya pindah kambing saya ke lokasi dekatnya, agar bisa kembali makan. Setelah memastikan semua aman, saya pergi sekolah lagi. Sore saya kan sekolah diniyah. Mulai pukul 14.00 sampai 16.30. Sepulang sekolah ini, saya angon kambing sampai menjelang maghrib. Setelah maghrib, saya mengajar ngaji anak-anak sekitar rumah di mushalla depan rumah. Setelah itu baru bisa main perang-perangan, gulat, ya gulat, dll., pokoknya bermain fisik, bersama anak-anak yang saya ajari baca al-Qur’an itu. Dari sini saya belajar melakukan aktivitas padat, tetapi menggembirakan. Jadi tidak ada rasa lelah. Kelas III SMP, saya sudah punya 18 ekor domba dan kambing. Dan kelas I SMU, saya sekolah di MAN Lasem, menjadi titik krusial saya dalam belajar. Saya menemukan kenikmatan belajar dan menghafalkan al-Qur’an. Nah, masalahnya, saat itu bapak saya baru saja meninggal. Padahal bapak saya ini adalah pendukung utama saya dalam urusan pengembangan intelektual. Kalau urusan buku, kitab, dan fasilitas pendukung untuk belajar, bapak sangat mendukung. Mahal pun tidak masalah. Tapi beliau sudah tidak ada lagi. Padahal saat itu saya butuh kitab-kitab yang pernah saya dengar dari guru atau bacaan. Saya tiba-tiba ingat punya 18 ekor kambing. Maka semua kambing saya itu saya jual untuk membeli kitab-kitab. Saat itu, kitab saya paling banyak, karena saya bisa beli dengan uang hasil jualan kambing. Di Planet NUFO ini, sudah ada beberapa santri yang kehilangan orang tuanya. Padahal orang tuanya itu adalah sandaran finansialnya. Kalau mereka tidak memiliki sumber penghasilan sendiri, masa depan mereka bisa jadi suram. Tapi kalau sudah terbiasa produktif, masa depan mereka akan tetap aman. In syaa’a Allah.

Baca Juga  TP3 6 Laskar FPI dan Jokowi; Bagaikan Pertemuan Musa dengan Fir’aun

Baladena: “Lalu soal passion murid itu maksudnya bagaimana? Apa hubungannya dengan wirausaha?”

Abah Nasih: “Murid itu punya bakat minat yang beragam. Bahkan yang sebenarnya multitalenta sekalipun, pada saat tertentu dia punya passion atau kegairahan tertentu pula. Bakat dan minat itulah yang harus kita pastikan dari seorang murid. Kita pasti selalu menekankan bahwa ilmu itu penting. Tapi harus kita sadari bahwa ada saat murid belum memiliki gairah untuk belajar, karena berbagai macam sebab. Kita harus cari apa yang bisa membuatnya suka. Melakukan wirausaha dengan ketersediaan banyak pilihan, bisa memiliki potensi membuat anak-anak bergairah. Bahkan kita disain bahwa itu sekedar bermain saja. Karena dunia anak-anak, walaupun sudah SMP, sebagiannya juga masih bermain. Dengan begitu mereka tidak terbebani. Sambil jalan, kita mengarahkan kepada anak-anak tentang pentingnya ilmu. Usaha yang mereka geluti, pasti kan perlu ilmu. Kalau tidak berbasis ilmu, pasti akan gagal. Dari sanalah mereka akan belajar juga. Karena itulah saya menjalin kerjasama dengan LPPM IPB University. Ada mahasiswa dan dosen dari IPB yang menetap di Planet NUFO dalam jangka waktu tertentu untuk melakukan pembinaan kepada para santri-santri yang memilih usaha di bidang peternakan dan pertanian. Kebersamaan para santri dengan mahasiswa IPB, juga dosen-dosennya, menumbuhkan semangat mereka dan keinginan mereka untuk menguasai ilmu. Dari sinilah, keinginan dan gairah mereka belajar muncul. Sebab, mereka mulai mendapatkan informasi, untuk bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi excellent, mereka harus menguasai ilmu pengetahuan. Atau bahkan untuk anak yang karena berbagai sebab teridentifikasi tidak berpotensi menjadi intelektual, mereka tetap bisa produktif dengan usaha-usaha. Bayangkan kalau lembaga pendidikan hanya terfokus pada keilmuan, pada kualitas SDM yang ada tidak memungkinkan untuk itu. Di sinilah, ketrampilan hidup perlu kita berikan. Agar yang tidak jadi ilmuan, tidak jadi ustadz, juga bisa berkontribusi secara riil. Dengan hartanya. Sebab, perjuangan ini butuh dana yang jumlah tidak kecil, bahkan unlimited.

Baca Juga  Alfin Lestaluhu, Bek Timnas U-16 Tutup Usia

Baladena: “Iya ya. Jadi yang tidak jadi ustadz pun tetap bisa berkontribusi dalam perjuangan ya. Lalu mengenai yang terakhir?”

Abah Nasih: “Saya memiliki banyak teman yang secara ekonomi berkelimpahan. Namun, mereka tidak memiliki pemahaman yang baik tentang ajaran agama Islam. Mereka kemudian meminta untuk saya memberikan ceramah. Masalahnya, sejak tiga atau empat tahun terakhir ini, saya sudah meninggalkan model ceramah-ceramah. Termasuk undangan televisi. Bahkan cara mengajar saya di Monash Institute pun sudah saya balik. Jika dulu saya yang baca, mahasantri mendengarkan dan mencatat, lalu bertanya dan berdiskusi, sekarang mereka yang baca teks dan saya yang mengoreksi, mereka menemukan pokok permasalahan dan yang tidak mampu mereka temukan jawaban dan solusinya, diajukan ke saya, lalu kami diskusikan bersama, dan seterusnya. Pokoknya harus kritis lah. Karena itulah, saya selalu menolak permintaan ceramah-ceramah itu. Saya mau menemani belajar asalkan mereka mau belajar dengan serius dimulai dari ilmu alatnya. Alhamdulillah cukup banyak juga teman-teman saya itu mau. Dan hasilnya signifikan. Mereka jadi bisa memaknai teks Arab, sehingga bisa mulai meraba maksud al-Qur’an, tidak hanya sekedar bertanya-tanya saja. Dari sini saya berpikir, bahwa kalau santri yang berkualitas intelektual biasa-biasa saja memiliki kemandirian ekonomi, mereka akan tetap bisa belajar sepanjang hidup. Sebab, mereka memiliki waktu luang untuk belajar. Dan jika mereka ingin belajar bidang-bidang tertentu, dengan kekuatan finansial yang mereka miliki, mereka akan mudah mendapatkannya. Tinggal pilih saja. Karena kalupun disiplin ilmu itu membutuhkan dukungan finansial, misalnya untuk memberikan honor kepada yang mengajarkannya, mereka mampu melakukannya. Dengan begitu, aktivitas untuk terus menambah ilmu tidak akan pernah berhenti, sampai mati.

Baca Juga  Bebas Plastik, Kelompok 26 KKN UIN Walisongo Bagikan Daging Kurban Berbungkus Daun Jati

Baladena: “Sangat realistis sekali. Masuk akal”.

Abah Nasih: “Kita memang harus realistis. Kita tetap harus punya idealitas tinggi. Ide kita harus di langit, tetapi kaki kita harus tetap menjejak bumi. Dengan cara begini, semua santri akan menemukan sesuatu yang membuat mereka bergairan dan melakukan aktivitas produktif secara optimal. Jangan sampai lulusan pesantren kebingungan karena hanya diajak untuk ngaji, tetapi tidak pernah diajak belajar menghasilkan uang. Sebab, nabi kita, ini sering saya sebut, sebelum berdakwah itu sudah kaya, menikah dengan perempuan kaya raya, lalu menghabiskan harta kekayaan mereka untuk membantu para sahabat yang ditindas, mereka harus dimerdekakan dari perbudakan, saat diboikot juga harus dibantu dengan bantuan yang konkret, tidak hanya berdoa saja. Ibu Khadijah, orang yang terkaya di Makkah saat itu, meninggal dalam keadaan bajunya bertambal puluhan jumlahnya. Demikian pula Nabi Muhammad tidak mewariskan apa-apa. Kalau sekarang, walaupun kita tidak bisa seperti nabi, setidaknya, jangan sampai kita membebani umat kita yang sudah hidup dalam keadaan susah. Santri akan menjadi ustadz yang tidak amplopan kalau mereka sudah kaya. In syaa’a Allah. (AH)

Planet Nufo dan Pesantren Al-Falah Ternyata Diasuh Dua Aktivis Bersaudara

Previous article

Mengapa Korupsi Membudaya?

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in News