Banyak sekali saat ini kita jumpai kiprah perempuan dalam berbagai bidang. Pertama, Dian Pelangi dan Oki setiana Dewi yang ahli dalam bidang fashion. Kedua, Yenny Wahid dan Khofifah Indar Parawansa ahli dalam bidang politik dan pemerintah. Ketiga, Najwa Shihab ahli dalam bidang penyiaran. Dan keempat, Asma Nadia ahli dalam bidang jurnalistik.
Begitu banyak contoh perempuan sekarang yang telah menunjukkan eksistensinya. Dikenal banyak orang, disanjung dan dipuji karena kebijaksanaannya, dan bahkan pula diabadikan oleh sejarah karena perjuangannya. Namun tidak sedikit perempuan yang dihujat, dicaci dan dimaki, bahkan dianggap tak berarti karena mendewakan eksistensi dan akhirnya terjerumus pada hal yang tidak diinginkan.
Jika kita amati, begitu banyak tantangan yang dihadapi oleh para perempuan saat ini. Mulai dari semakin terbuka luasnya pergaulan dan pertemanan, kemudian akses teknologi, acara hiburan kesenangan semu, hingga gaya hidup yang semakin menawan. Akankah kita sebagai perempuan terlena dengan gemerlapnya kemajuan yang terjadi ataukah justru memanfaatkannya sebagai ladang perjuangan? Itulah sebenarnya tantangan kita saat ini.
Pahami Jati Diri
Berbicara tentang jati diri seorang perempuan, tentunya mengingatkan kita pada kisah perempuan pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Yaitu Ibu Hawa. Dikisahkan bahwa Ibu Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk Nabi Adam yang bengkok. Hal ini mengandung maksud bahwa perempuan dapat dengan mudah melakukan kesalahan atau perbuatan dosa. Terbukti ketika setan membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi, Ibu Hawalah yang pertama kali memakannya. Dari kisah tersebut kita bisa mengambil hikmah bahwa kita sebagai perempuan hendaknya selalu berhati-hati agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa.
Perempuan diciptakan dengan fisik yang berbeda darin laki-laki. Paras cantik dan tubuh yang indah itulah yang membedakan dengan laki-laki. Akan tetapi keindahan fisik seorang perempuan bukanlah hal yang patut diumbar dan disombongkan, tetapi harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kewajiban seorang perempuan adalah menutup auratnya agar tidak menjadi fitnah bagi dirinya sendiri.
Dari segi sifat, perempuan diciptakan dengan perasaan yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Kedua sifat inilah yang menjadi kekuatan seorang perempuan, karena kemarahan akan reda dengan kelembutan dan kasih sayang. Perempuan diciptakan sebagai peneduh bagi sekitarnya, pembawa kebahagiaan bagi sekelilingnya. Itulah kodrat perempuan yang sesungguhnya.
Tidak Mendewakan Eksistensi
Saat ini orang dapat dengan mudah menunjukkan eksistensinya. Dengan banyaknya media sosial cetak maupun digital, seorang dapat memperoleh pencapaian, prestasi, kecantikan hingga harta yang dimilikinya. Era kebebasan berpendapat pun cenderung membuat orang termasuk perempuan bebas mengungkapkan apapun yang diinginkannya. Kebebasan inilah yang bisa menjadi keberuntungan ataupun justru musibah mala petaka jika tidak bijak memanfaatkannya.
Islam tidak mengajarkan diskriminasi terhadap laki-laki dan perempuan. Memang dari segi hak dan kebebasan, laki-laki mendapatkan lebih dari apa yang diperoleh perempuan. Hal ini bukan berarti tidak adil, justru inilah cara islam memuliakan seorang perempuan. Islam menginginkan perempuan dalam posisi yang sebaik-baiknya. Jauh dari fitnah dan prasangka.
Niatkan semua karena Allah dan memberi manfaat bagi sesama, bukan hanya pamer semata, jika kita telah dirasa bermanfaat bagi orang lain, maka kita akan eksis (diakui oleh banyak orang) dengan sendirinya.







