Oleh: Dwi Anggraini, Peserta LKK HMI Cabang Bogor 2024
Keadilan gender dalam masyarakat terkadang masih menjadi tantangan seperti keikutsertaan perempuan dalam pengelolaan dan pengembangan desa wisata. Hal ini merupakan masalah multifaset yang melibatkan kendala sosial budaya, pengalaman dan keterampilan minim dan pemberdayaan yang belum terstruktur. Pengarusutamaan gender dalam pembangunan desa wisata belum maksimal dalam menempatkan perempuan di garis depan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Padahal perempuan merupakan komponen yang mendominasi penduduk masyarakat dan memiliki kekuatan komunitas yang cukup tinggi.
Keberadaan Desa yang memiliki berbagai sumber daya alam yang menarik dan juga tradisi yang unik menjadikan desa sebagai objek penghasilan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, dalam pelaksanaanya masih banyak desa wisata yang dalam pengolahannya melibatkan pihak investor dari luar. Sehingga menyebabkan konsep “Desa Wisata” hilang, namun tetap di cap demikian. Secara Konsep, Desa Wisata merupakan pengelolaan sumberdaya desa baik alam, sosial, budaya dan politiknya berkecambah dan tumbuh dari pemikiran, kesadaran, dan usaha masyarakat desanya, tanpa ikut campur dari luar pada pengelolaannya. Hal ini mengakibatkan partisipasi masyarakat yang menjadi kurang maksimal termasuk partisipasi perempuannya.
Perempuan dalam berbagai aspek sosial mempunyai peranan penting, namun terkadang peranan mereka dianggap tidak ada keberadaannya. Hal ini mengakibatkan banyak perempuan terutama di desa yang enggan untuk terlibat dalam kegiatan di luar rumah. Partisipasi perempuan di sektor desa wisata masih kurang dari 40%. Partisipasi yang dimaksud adalah partisipasi secara langsung maupun partisipasinya di dalam pengambilan keputusan dalam berbagai kebijakan pengembangan desa wisata.
Partisipasi yang masih minim diakibatkan karena mayoritas perempuan mempunyai kesibukan mengurus rumah tangga seperti memasak, mencuci, mengurus anak menjadikannya kurang andil dalam kegiatan wisata maupun pengambilan keputusan secara langsung. Tidak keikutsertaan perempuan dalam kegiatan wisata adalah yang bersifat kegiatan fisik. Seperti menjadi tour guide, petugas kebersihan, keamanan. Perempuan cenderung berpartisipasi di bidang ekonomi kreatif melalui oleh-oleh, kerajinan, dan berbagai aktivitas yang tidak mengandalkan kekuatan fisik. Konteks industri kreatif, perempuan sangat penting dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk mengembangkan bisnis rumah tangga, seperti produksi sabun susu dan keripik, yang meningkatkan pendapatan keluarga dan ketahanan ekonomi masyarakat. 80% partisipasi perempuan dalam pengembangan desa wisata adalah pada sektor ini, yang mana perannya tidak memerlukan kekuatan fisik seperti laki-laki
Tantangan dan Peluang partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan.
Perempuan di negara berkembang seperti di Indonesia menghadapi tantangan seperti marginalisasi dan keterbatasan akses ke sumber daya dalam ekonomi kreatif. Namun, mengintegrasikan kebijaksanaan tradisional ke dalam produk kreatif dan memberikan pelatihan kewirausahaan dapat memberdayakan perempuan secara ekonomi
Ekonomi di desa-desa wisata menghadirkan peluang bagi perempuan sebagai pengelola sumber daya alam dan pelaku UMKM, meskipun terdapat tantangan dan keterbatasan akses terhadap pendidikan dan teknologi. Penggunaan alat-alat sederhana dan masih dikerjakan secara manual untuk berbagai kegiatan mengakibatkan banyaknya waktu yang perlu dihabiskan dalam pengelolaannya
Pendekatan Berbasis Gender dan Implikasi Kebijakan
Inisiatif pariwisata masyarakat yang menggabungkan pendekatan berbasis gender dapat mendorong partisipasi perempuan dan laki-laki yang seimbang, mempromosikan pembangunan sosial-ekonomi dan kesetaraan dan keadilan. Dalam beberapa penerapan kegiatan pengelolaan dan pengembangan desa wisata di Indonesia sebagian besar telah menerapkan prinsip keadilan gender dalam pelaksanaanya, seperti perempuan ditempatkan pada posisi posisi yang tidak memerlukan kekuatan fisik berbeda dengan laki-laki dimana partisipasinya dalam kegiatan yang bersifat fisik.
Tidak adanya kerangka peraturan untuk kesetaraan gender di beberapa wilayah, seperti Ekuador, menyoroti perlunya strategi untuk mengintegrasikan perempuan ke dalam tenaga kerja pariwisata dan kegiatan masyarakat khususnya dalam pengambilan kebijakan. Di beberapa daerah dengan sistem patriarki yang masih kental, tidak menempatkan perempuan pada posisi strategis pembuat kebijakan. Seperti beberapa faktor tidak terlibatnya adalah forum atau pertemuan yang dilakukan dalam rangka pengambilan keputusan dilaksanakan pada jam-jam sibuknya seorang perempuan. Sehingga kehadirannya dalam forum sangat minim. Selain itu, tidak kepiawaiannya dalam berargumen atau soft skill serta pengetahuan terkait dengan kebijakan dan pengelolaannya yang masih minim dikarenakan kesempatan mengenyam pendidikannya.
Sementara integrasi perempuan ke dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menawarkan banyak manfaat, penting untuk mengatasi hambatan sosial budaya dan ekonomi yang mendasari yang membatasi partisipasi mereka. Inisiatif pemberdayaan harus didukung oleh kerangka kebijakan yang kuat dan kolaborasi multi-pemangku kepentingan untuk memastikan pembangunan yang berkelanjutan dan adil. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan mendorong ekonomi kreatif untuk para perempuan di desa wisata dengan mensupport dana dan juga pendampingan kepada perempuan dalam pengembangan keterampilan dan ilmu pengetahuannya.
Pemerintah telah berupaya dalam meningkatkan partisipasi tersebut melalui kegiatan ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) yang telah dimulai sejak tahun 2021 dan terus berkelanjutan sampai saat ini. Kegiatan ini memberikan pelatihan, pendampingan kepada para pengelola wisata dengan berbagai program yang dapat diikuti untuk mengasah kemampuan perempuan di desa.
Selain itu terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi perempuan untuk bisa berpartisipasi aktif dalam pengelolaan wisata diantaranya pemberdayaan perempuan dengan mendorong partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan pelatihan kepemimpinan dan manajemen. Pengembangan keterampilan khusus dan pendidikan kewirausahaan. Membuka akses dan sumber daya pendanaan melalui berbagai kegiatan penganugerahan, kegiatan lomba internasional desa wisata yang dibimbing oleh kader KOHATI (Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wati) yang interest di bidangnya.





