Pandemi Covid-19 Tak Kunjung Usai,  Dunia Pendidikan Kian Terdampak

Kurang lebih sudah satu setengah tahun Corona Virus Disease atau Covid-19 menyerang berbagai Negara di dunia. Dikutip melalui news.google.com tercatat, sudah lebih dari 182 juta masyarakat dunia yang pernah maupun sedang terpapar virus ini dan lebih dari tiga juta jiwa meninggal dunia. Hal ini sudah tentu menjadikan penyebaran virus Covid-19 menjadi hal yang paling sering diperbincangkan dalam satu tahun belakang ini. Bahkan, WHO (World Health Organization) mengumumkan bahwa virus Covid-19 telah menjadi pandemi di seluruh dunia. 

Adanya pandemi ini tentunya membawa dampak yang sangat signifikan di lingkungan masyarakat, mulai dari aktifitas sosial dan ekonomi. Kebiasaan masyarakat yang harus berubah untuk menyesuaikan keadaan. Kebiasaan seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak menjadi hal wajib yang diberlakukan dimanapun.

Ketentuan untuk menjaga jarak di lingkungan masyarakat sangat berimbas pada dunia pendidikan. Menurut UNESCO setidaknya 577.305.660 pelajar dari pendidikan pra-sekolah dasar hingga menengah atas dan 86.034.287 pelajar dari pendidikan tinggi di seluruh dunia terancam aktifitas belajarnya. Adanya pandemi yang mengaharuskan menjaga jarak membuat sejumlah Negara di dunia memberlakukan pembelajaran melalui media online seperti google meet, zoom, google classroom, dan berbagai media daring lain. Hal ini dinilai oleh sejumlah negara sebagai langkah alternatif untuk mencegah penyebaran virus yang semakin besar.

Penerapan pembelajaran melalui media online tentu membawa dampak yang berbeda – beda pada masyarakat. Bagi Negara maju ataupun daerah kota adanya pembelajaran melalui media online bukanlah masalah besar dari sisi pelaksanaan, kualitas sinyal yang baik dan kecepatan internet yang memadai serta menimbang efketifitas waktu yang lebih baik menjadikan proses pembelajaran ini mendapat respon yang baik dari masyarakat. Selain itu adanya pembelajaran melalui media online membuat orang tua lebih mengenal kapasitas dan daya tangkap anak dalam belajar, dan dapat membujuk anak untuk lebih aktif dan responsif terhadap ilmu yang dipelajari. Kemudian hal ini juga menjadi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan soft skill seperti memasak, berkebun, membersihkan rumah, dan lainnya.

Namun, disisi lain, dampak negatif juga turut dirasakan oleh sebagian masyarakat. Bagi msyarakat daerah terpencil yang belum memiliki fasilitas yang memadai, proses pembelajaran online menjadi permasalahan baru bagi mereka. Sulitnya sinyal dan ketersediaan sarana yang masih terbatas menjadikan proses pembelajaran sulit dilakukan. Di samping itu, adanya pembelajaran online dinilai kurang efektif oleh sebagian guru dan murid.

Banyak yang berpendapat bahwa proses pembelajaran ini menurunkan minat belajar siswa dan tingkat pemahaman siswa, karena kurangnya interaksi antara guru dan murid serta kurangnya evaluasi yang dapat guru berikan terhadap materi yang disampaikan. Adanya pembelajaran ini juga membuat waktu luang yang dimiliki murid menjadi lebih banyak, hingga akhirnya banyak diantara murid sekolah yang lebih asyik untuk bermain seperti video game daripada belajar ataupun mengerjakan tugas.

*Dikutip dari berbagai sumber.

Oleh: Asmaul Amini Sani, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *