Mega merah yang baik
Konon, pagi ini tertampik dari pelik
Syahdu, rembusai hijau pohon palem melambai ciamik
Tak ubahnya sepasang mataku, tertegun menelisik
Gugus tigaku, dominan akan biru
Minoritas hijau cerah, tidak sepertiku
Wajib merangkam setelan monokrom yang kelabu
Mata mereka bilang, aku misterius, nyatanya tak begitu
Empat hari baru, kucabik penuh dengan setia
Masih mengecap cuekisme yang persis dan nyata
“Hei! Siapa namamu?” ramah aku mengujar
Tiada jawaban, hanya tawaan, kurang ajar
Sebegitu wajarkah aku terdiam?
Pun usaha usai bangkit dan tenggelam
Menjadikan dalih sang guru untuk mereka pendam
“Mas, mereka kurang fasih berbahasa,” pungkasnya buatku paham.
Sepasang pembina unjuk batang hidung pertama
Kak Miftah dan Kak Putra namanya
Selalu rapi, klimis, merangkap siap siaga
Klop dicontoh oleh banyak yunior mereka
Namun realita menyimpang, rasa sopan enggan bertuan
Lusuh, kumuh, tak terarah, cenderung stagnan
Rambut khazaq zaman edan, acap disebut “jamedian”
Wahai teman, bukankah pahlawan tua itu kerap mengingatkan?
Rabuku yang biru
Laksana usang engsel pintu kelasku
Ringkih, berisik, selalu menggerutu
Mendengarnya kusendu, tanda tak mampu
Tidak mampu kumemahami, kerasnya kepala mereka yang teramat sangat batu
Sekonyong-konyong, nurani menghelat dugaku
“Hei! Ini hanya sekadar permulaan, jangan kau bawa pilu!”
Bersumpah tuk tidak pasrah, kututup buku itu
Rabu, 13 Juli 2022
SMA Negeri 1 Sulang.
Oleh: Aletheia Raushan Fikra Ukma, Siswa Kelas X SMA N 1 Sulang Rembang, Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo







