Sang fajar terbit di ufuk timur. Mengantar ruh-ruh untuk kembali ke jasad mereka. Menyantap beberapa mangkuk peyeum. Mereka siap memulai hari. berbeda dengan Kinanthi, seorang gadis paling rajin seantero negeri. Tidak perlu mentari bagi Kinan untuk memulai hari. bahkan menurutnya, mentarilah yang harus ia bangunkan.
Dusun Mengger adalah tempat dimana Kinanti tinggal. Bersama dengan Ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga. Ayah Kinan telah wafat beberapa tahun yang lalu. Memaksa Ibu Kinan untuk menjadi seorang penjahit. Walau nasib tak sejalan dengan Kinan, tapi dia tetap tabah menjalani hidup.
Di bawah naungan raja bernama Agung, pemilik Istana Singo Raden-lah dusun Mengger hdiup aman dan damai. Paduka Agung bukan seorang diktator, tapi hukumnya sangatlah anti toleransi. Seluruh penduduk dusun Mengger sangat patuh padanya. Mereka yang terus menyuplai bahan pangan kepada para penduduk dusun. Sudah sepatutnya begitu.
Mentari naik hingga ke atas kepala. Ibu Kinan rampung dengan baju buatannya. Segera ia beritai anaknya agar segera dikirim ke tangan pelanggan.
“Baju ini harganya sangatlah mahal. Hanya priayi dan orang kerajaan saja yang mampu membeli baju berbahan sutera berwarna siam, dipadu dengan renda putih menghiasinya.” ia beri baju itu ke tangan Kinan. Pengalaman pertama bagi Kinan menyentuh barang mewah dan mahal, selain dokar dan sepeda milik tetangga. Tak heran mengapa Kinan begitu girang.
“Jadilah orang jujur! Walau kita hidup sebagai orang yang tak punya, pasti akan punya pada akhirnya. Tuhan menyayangi hamba-hambanya yang menomorsatukan kejujuran.” nasihat Ibu kepada Kinan. Alamat telah tertera di bungkus bajunya. Dengan sigap Kinan berlari menuju tujuannya.
Tak perlu waktu lama untuk sampai ke alamat yang Kinan tuju. Kini, ia tengah terpaku dengan kemegahan dan kemewahan kediaman milik nyonya Rumi. Saudagar kaya akibat kebun pisangnya, juga suaminya yang bekerja dengan kerajaan, menghapus segala heran yang menumpuk di benak Kinan. Segera ia ketuk pintu, dan terbuka. Nyonya Rumi ada di depannya. Berperawakan besar, tampak angkuh.
“Permisi, Bu. Ini pesanan Ibu yang sudah jadi.” ucap Kinan sedikit gugup. Nyonya Rumi langsung menariknya.
“Semoga sesuai dengan harapanku,” timpalnya berbalut rasa angkuh yang terasa di benak Kinan. Tak bisa membalas, hanya bisa beraut melas.
“Anu, Bu. Uangnya belum.” ucap Kinan sedikit tertekan.
“Eh Eh, nanti dulu. Kok langsung main uang-uang saja? ada kualitas ada harga,” timpal nyonya Rumi sembari melihat bajunya dan merabanya. Ia terdiam. Senyum tipis terbesit di wajahnya. Segera mengambil dompetnya. Tanpa hitung, langsung ia berikan segengam uang tersebut.
“Nih! Tumben orang desa bisa buat karya sebagus ini.” Cceletuk nyonya Rumi angkuh. Kinan hanya mengangguk dan pergi dari hadapannya. Kinan menangis dalam larinya. Mencoba tegar, tetapi tak bisa. Setidaknya dia cukup kuat menahan sedihnya selama di kediaman si nyonya. Sampailah Kinan di rumah kesayangnya. Bertemu ibunya dan menceritakan semua.
“Manusia memang seperti itu. jika sudah diberi kenikmatan, akan lalai mereka dalam beribadah, mulai merendahkan golongan yang rendah di mata mereka, enggan membagi harta, dan angkuh kepada masyarakat. Seakan-akan mata mereka dibutakan dengan gemerlap intan nan sementara. Pada akhirnya, posisi mereka harus berpindah ke bawah. Nasib mulai tak karib di sanalah mereka sadar akan dosa-dosa mereka,” entah mengapa nasihat Ibu menghangatkan hati Kinan, hingga ia tertidur dipangkuan malaikatnya.
Ke esokan paginya. Masih dengan rutinitas yang sama. Kinan tengah mencuci bajunya di perkarangan rumah. Peluh mengalir deras, setimpal dengan noda di bajunya yang ikut terkuras. Tak lama kemudian, kereta kuda dengan penjagaan ketat mengagetkan Kinan. Mereka berhenti tepat di depan Kinan berada. Sontak Kinan pun berdiri. Tirai kereta terbuka, keluar paduka Agung bersama anak perempuannya di samping mengekor, Laili namanya.
“Benar kau Kinan?” tanya paduka Agung sedikit mengintrogasi. Kinan hanya diam, menjadi patung. Ia kira ini semua hanyalah mimpi.
“I iya, saya sendiri,” jawab Kinan sangat gugup. Raja tertawa melihat gelagat Kinan yang aneh. Laili hanya bisa tersenyum kecil sebagaimana ayahnya lakukan.
“Saya mendapat kabar angin tentang Kinan dan Ibunya. Penjahit paling berkelas dan ciamik di seluruh dusun. Kabar itu menarik hatiku untuk datang bertemu,” jelas raja kepada Kinan yang sedari tadi terkejut. Raja mengambil gulungan merah di kantung celananya, dan menyerahkannya pada Kinan. Tanpa ragu ia buka dan baca.
“Kami punya seluruh bahan yang kalian perlukan. Tentunya menjadi surga bagi penjahit. Alat tenun kami hingga tempatnya juga sudah tergolong canggih. Kuberharap kalian mau datang ke Istanaku, menjadi tukang jahit kerajaan. Mengabdi untuk negeri, untuk Paduka Raja,” Kinan terperanjat, segera ia temui ibunya.
“Tuh kan, intinya manusia jujur tak akan pernah hancur, selalu disayang Tuhan, selau diberi kenikmatan. Ya sudah, ibu ingin berbenah sebentar. Ajak Paduka Agung masuk dulu. Kasihan dijemur di luar terus, kedinginan,” ujar ibunya diselipkan sedikit guyonan.
Tak perlu menguras waktu dan tenaga, ibu dan Kinan sudah naik ke dalam Kereta Kuda. Paduka terkesima menjemput calon pejuang tekstil kerajaan. Laili juga ikut kagum.
Mereka sampai di Istana. Banyak sekali puing-puing bekas renovasibesar-besaran di Istana. Menjadi sedikit lebih berwarna dengan aksen merah dari cat, dan hitam dari batu besar. Kesan sejarahnya tak terkuras. Bentuk juga tetap. Hanya memperindah walau sedikit. Berjalan menyusuri tangga dan halaman. Sampai pada aula yang besar dan rapi. Di sana telah berbaris beberapa orang berpakaian adat yang sepertinya merupakan aset Istana.
“Ini menteri-menteriku. Pak Goya yang memperkenalkankaryamu padaku. Kain sutera dengan sedikit polesan renda putih dikerah dan lengan sungguh membuatku terkesima,” ujar Paduka Agung, memperkenalkan suami Nyonya Rumi pada Kinan dan Ibunya. Dibalas dengan senyum hangat dari Pak Goya.
“Saya Goya. Mesteri Distribusi Bahan Pangan di sini. Salam kenal,” ujarnya sedikit menunduk. Namun Kinan hanya membalas dengan senyum kecilnya. “Ternyata dia kepala keluarga dari Nyonya Rumi? Sangat berbeda jauh dari istrinya,” gumam Kinan di dalam hati. Tiba-tiba muncul seorang utusan dari Tim Distribusi.
“Mohon maaf menyita waktu anda, Paduka Agung. Ada sedikit masalah dengan stok bahan pangan yang seharusnya kita luncurkan besok, Paduka,” lapor seorang petugas di sana. Paduka Agung sedikit terusik, dan mulai angkat bicara.
“Tambah persediaan hingga memenuhi stok kita untuk dikirim besok, segera!” titah Paduka. Petugas itu pergi tanpa salam. Paduka tampak pening. Laili yang tak tahu apa-apa hanya bisa diam. Pak Gayo meminta maaf kepada Paduka dan tentunya dimaafkan. Kelaaian kecil tak perlu ditangai sejauh itu.
“Laili, antar mereka ke kamar!” perintah Paduka pada anaknya. Laili mengiyakan patuh. Kinan dan ibunya diantar menuju kamar dan sedikit berkeliling Istana. Seperti ruang menjahit, gudang logistik, kebun apel, dan singgasana agung. Pertama dalam hidup Kinan untuk melihat singgasana yang agung. Kemudian mereka diantar ke kamar tidur. Besar, cukup untuk sepuluh orang sepertinya, dan pastinya nyaman untuk dihuni. Ranjam berkelambu, lemari jati, dan meja rias dengan emas yang penuh dengan ukiran.
“Kakak-kakak bisa pakai kamar ini dulu, selamat beristirahat,” celetuk Laili yang kemudian beranjak dari sana. Kinan dan ibunya mengambil rehat di sana. Sampai malam menjemput. Suara tonggeret tak terdengar di Istana. Apalagi katak dan jangkrik yang acapkali menggelar konser dadakan.
“Semuanya harus segera dijual!” teriakan yang membangunkan Kinan. Kecurigaan menghampiri. Ia ke luar dari kamar menuju sumber suara tersebut. Berasal dari ruang paling ujung. Ruangan Pak Goya dengan pintu sedikit terbuka, pijar yang menyala, dan hiruk pikuk pesta yang menambah rasa heran di benak Kinan.
“Lima ratus ton bahan pangan lepas ke tangan saudagar China di seberang sana. Kita harus beranjak pukul 06.00 pagi. Agar tidak ada yang mengawasi pergerakan kita,” celoteh Pak Goya memecah otakku. Ada kasus besar dibalik bahan pangan untuk masyarakat. Harus diselidiki dengan benar dan bijak.
“Semua rencana ada di gulungan ini. Kuserahkan pada kalian, kupercayakan pada kalian. Jangan sampai lolos!” perintah Pak Goya, lalu mereka tampak menenggak arak di sana, disertai gelak tawa. Tak lama kemudian mereka tertidur. Efek mabuk tak kuasa mereka tahan. Dalam diam Kinan menyelinap ke dalam, dan mengambil gulungan tersebut. Tidak ada penjaga memudahkan gerak Kinan untuk balik ke kamarnya.
“Pencuri! Ada pencuri di sini! Bunuh dia! Cari dia! Habisi dia!” pagi-pagi buta Kinan sudah dibangunkan oleh teriakan Pak Goya yang berlarian ke sana ke mari. Seisi Istana bingung. Tim keamanan mencoba peka tapi tak kunjung berupaya. Pak Goya sangat histeris. Akhirnya ia mengadu pada Paduka Agung, dengan alasan gulungan pentingnya hilang. Paduka marah dan mulai memutuskan satu hukum.
“Temukan pencuri dan hukum mati di tempat!” titah Paduka. Seketika tim keamanan bergegas mencari pencuri di seantero negeri. Sampai pada pelabuhan yang menjadi tujuan akhir Pak Goya. Melihat kejanggalan di pelabuhan, para pengangkut dan nakhoda dibawa ke Istana, menuju singgasana Agung Paduka Raja.
“Ini semua adalah titah dari Pak Goya. Saya bersumpah,” ujar seorang nakhoda yang ditahan. Raja tak percaya. Orang pilihannya sendiri tak mungkin mengkhianati pemilihnya. Hingga pada akhirnya, bukti nyatapun datang dari Kinan yang membawa gulungan hitam milik Pak Goya.
“Ini benar, Paduka. Dalam gulungan rahasia milik Pak Goya yang hilang, tertulis sepucuk rencana picik dan licik dari seorang menteri tak amanah. Dia berniat untuk menjual semuanya pada saudagar kaya di seberang sana, di China. Tentunya sangat menyengsarakan rakyat, bukam?” jelas Kinan pada Paduka Agung. Mendengar hal itu, Paduka langsung menghukum mati Pak Goya beserta keluarganya di keesokan harinya. Dengan harapan tak lahir seorang anak dari orang tua licik, seperti mereka.
Pada saat itu, Kinan kembali teringat akan nasihat ibunya. Pada akhirnya, orang jujur akan bertahan, orang gemar bohong akan binasa. Tuhan menemani hambanya yang jujur, tak seperti hambanya yang suka berbohong. Akan dicampakkan ke cairan panas bernama neraka. Orang jujur akan selalu dalam dekapan Tuhan di surga.
Oleh: Aletheia Raushan Fikra Ukma, Sanja Kelas IX SMP Alam Planet Nufo Mlagen Rembang







