Konflik memanas yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina berujung kepada serangan militer Rusia ke beberapa Kota di Negara Ukraina. Korban manusia sudah berjatuhan , khususnya masyarakat sipil . Sampai tulisan ini dibuat sudah mendekati 200 orang sipil Ukraina yang meninggal dunia terkena serangan rudal darat dan udara. Ada dua pandangan yang terjadi dari adanya konfilik dua negara tersebut.
Pertama, kita semua barangkali sempat berpikir, perkembangan budaya manusia yang semakin menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, adanya perang invasi militer akan tergantikan oleh adanya perang proxy dan penguasaan teknologi yang bersifat pada pengusaan digitalisasi ekonomi, sehingga disini ditekankan kepada siapa yang bisa menguasai digitalisasi ekonomi maka akan dengan mudah mengusai negara bahkan dunia, seperti yang dilakukan oleh Cina dan Amerika Serikat saat ini. Bisa dikatakan invasi militer adalah masa lalu.
Kedua, Ukraina adalah bukan anggota negara NATO, logikanya perang dingin terjadi antara dua kutub blok pertahanan dunia, NATO dan Pakta Warsawa.. Sampai sekarang NATO tidak bereaksi membela secara militer ke Ukraina, sehingga Presiden Ukraina , Vladmir Zelensky merasa berjuang sendiri dengan rakyat Ukraina. Kalaupun ada , beberapa negara anggota NATO mengutuk Tindakan invasi dan hanya melakukan kebijakan penghentian Kerjasama di bidang ekonomi.
Sebab Musabab Konflik
Konflik dua negara Rusia dan Ukraina, bermula pada tahun 2014 , dimana Rusia berupaya untuk menguasai Semenanjung Krimea, sebuah wilayah milik Ukraina yang terdiri dari Republik Otonom Krimea dan Kota Sevastopol. Pmerintah Ukraina pada saat itu dipimpin oleh Victor Yanukovic yang cenderung Pro Rusia. Sementara masyarakat Ukraina secara luas, menginginkan untuk penggantian kepemimpinan nasional dikarenakan agar Ukraina bisa berhubungan secara perdagangan dengan negara negara Eropa yang lebih mensejahterakan daripada tetap berdekatan dengan Rusia yang membuat negara stagnan dibandingkan dengan negara negara Eropa lainnya. Bahkan sempat dibuat jajak pendapat di Ukraina dengan dua tema sentral, yaitu Forward to the West ( maju dengan Eropa dan USA ) or Back to USSR ( Kembali ke Rusia ). Hasil referendum menunjukan masyarakat lebih memilih ke eropa dan USA. Adanya pertentangan ini membuat konflik meluas sampai terjadi aksi demonstrasi besar besaran , yang berujung kepada jatuhnya Victor Yanukovic, yang kemudian oleh persetujaun Parlemen Ukraina diganti Arseni Yajeyuk.
Rusia meradang dengan adanya pergantian kepemimpinan Ukraina, pada tgl 26 Februari 2014, pasukan Pro Rusia melakukan aneksasi ke wilayah Semenanjung Krimea. Sehingga wilayah semenanjung Krimea diambil secara paksa, bahkan dilakukan referendum kepada masyarakat Krimea yang hasilnya 95 % memilih untuk berlabuh ke Rusia. Referendum berlansung dibawah pengawasan militer Rusia.
Adanya kepentingan Rusia yang menguasai Semenanjung Krimea, yang notabene adalah wilayah Ukraina, yang menyebabkan ekshalasi hubungan Rusia dan Ukraina selalu memanas. Konflik yang dilakukan sejak 2014 berujung kepada invasi militer Rusia ke wilayah Ukraina lainnya, Beberapa kota penyangga kekuatan Ukraina, Chernigiv, konotop sekarang dalam kendali Rusia, diprediksi dalam waktu yang cepat, ibukota Ukraina, Kiev akan segera dikuasai Rusia. Hal ini karena kekuatan yang tidak berimbang dua negara, dan tidak adanya pembelaan secara militer dari negara Amerika Serikat dan negara negara Uni Eropa .
Apa yang di cari Rusia ?
Ukraina menempati wilayah strategis di antara Uni Eropa, Federasi Rusia, dan wilayah Laut Hitam Turki. Dalam sejarah, Ukraina merupakan “battle ground” bagi kekuatan dunia kala itu, yakni Grand Duchy Lithuania, Kekaisaran Ottoman, the Polish-Lithuanian Commonwealth, Crimean Tatar Khanate dan Muscovy. Di masa modern, wilayah ini merupakan persinggungan antara wilayah kekuasaan Rusia, Habsburg, dan Ottoman. Dalam batas kontemporer, Ukraina Semenanjung Krimea terletak di sebelah selatan Ukraina, memisahkan Laut Azov dari Laut Hitam yang membuat kekuatan dunia menginginkan kontrol atas wilayah maritim (lihat Peta Krimea). Lokasinya yang strategis itu menjadi rebutan bagi Kekaisaran Ottoman dan Rusia dan kedua kekuatan dunia tersebut meninggalkan jejak yang kuat di semenanjung Krimea. Selama dua abad, semenanjung Krimea berada di bawah kekuasaan Kekaisaran (Turki dan Rusia) dan di bawah pemerintahan Komunis Rusia, dan ini merupakan kekuasaan ‘asing’ terakhir yang berkuasa di Krimea.
Sejarah besar yang dimiliki Rusia terhadap Ukraina ( Krimea ) inilah yang menjadi obsesi besar Vladimir Putin untuk megembalikan kekuatan besar Rusia sebagai penguasa dunia saat itu. Vladimir Putin bahkan mengatakan sangat kecewa dengan pemimpin Rusia lainnya, Vladimir Lenin yang membuat Rusia tidak berkembang menjadi besar seperti dalam sejarah masa lalu, serta Michael Gorbacev yang membuat negara Uni Soviet terpecah menjadi negara negara yang memodernisasi sendiri dan menjadi negara beridelogi demokrasi.
Dampak Konflik
Rusia adalah negara penghasil sumber energi terbesar dunia, gas dan minyak. Dengan hegemoni sumber gas , minyak dan energi nya, Rusia mencengkeram kekuatan besar ideologi dan geopolitik ke seantero negeri dunia. Ideologi komunis yang sudah tumbang di beberapa negara, hanya sedikit kekuatan yang masih tersisa, speerti yang dimiliki Cina , meski ada sedikit pembaruan dengan masuknya paham paham kapitalis dan demokrasi, nuansa komunisme masih kental sebagai identitas negara Rusia. Pasokan gas Rusia ekspor ke beberapa negara dunia,Sebagian besar melalui jalur Krimea, tempat terjadinya konflik saat ini. Sehingga dikawatirkan suplai gas , minyak dan energi dunia akan terhambat. Sudah otomatis terjadi kenaikan harga pada sumber energi tersebut. Tepat sinyalemen beberapa pakar, yang mengatakan bahwa konflik Rusia Ukraina akan mendongkrang ekonomi Rusia secara cepat. Hal ini dikarenakan Rusia menjaga jalur sumber energi untuk ekspornya di negara Ukraina, pada saat yang sama Rusia bertarung habis dengan militer Ukraina sebagai pencitraan bahwa suplai sumber energi terhambat karena adanya perang.
Inisiasi
Pelajaran berharga dari konfilik Rusia Ukraina ini adalah. Pertama, Konflik ini adalah realitas keinginan pribadi seorang Vladmir Putin untuk megembalikan kejayaan Rusia seperti pada masa lampau, zaman kekaisaran Tsar.Putin ingin menunjukan bahwa pemimpin Rusia sebelumnya gagal mewujudkan ideologi Rusia sebagai Ideologi besar dunia .Kedua, konflik ini adalah akal akalan Rusia dalam rangka meningkatkan ekonomi Rusia, yang sedang mengalami stagnasi ekonomi akibat dampak Global pandemic, dimana dengan naik nya harga sumber energi terutama gas, akan meningkatkan nilai ekonomi Rusia secara signifkan. Ketiga, perlunya himbauan beberapa kepala negara dunia, termasuk negara Indonesia untuk mengutuk aksi militer Rusia ke Ukraina, karena harga satu nyawa manusia adalah sama dengan membunuh nilai kemanusiaan sedunia.
*Dikutip dari berbagai sumber.
Oleh: Dr. Moh. Taufik, M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal







