Rembulan tak sanggup lagi melukiskan guratan senyum di wajahnya. Ia merasa dunianya menjadi begitu gelap. Udara dinginpun menjadi selimut yang membuat hatinya menggigil sepanjang malam. Membuat sekawanan bintang tak lagi kemerlipan dalam sapuan kuas malam yang penuh dengan kehangatan. Entah ada apa dengan mentari kali ini. Ia banyak memunculkan tanda tanya bagi Rembulan.
Udara pagi ini begitu sejuk. Namun tidak bagi Rembulan yang hatinya dipenuhi rasa sesak akibat rindu yang bertamu padanya. Rasa yang selalu timbul meski bentangan jarak tak terlampau jauh, atau bahkan rasa yang tetap tumbuh meski tatap mata dan guratan senyum dapat terlihat jelas tiap kali berpapasan dengannya.
Denting waktu terus berjalan, berotasi mengitari setiap sudut jam yang berbentuk lingkaran. Rembulan memandangi jam tersebut yang terletak di sudut kamarnya. Ia sedang memutar otaknya mencari apa yang menjadi masalahnya kali ini. Membuat hidupnya seakan terhenti dan tak berwana lagi. Atau tinggal warna semu yang menyilimuti kalang kabut hati dan jiwanya secara penuh.
Ia seakan kehilangan kuas untuk melukiskan kembali senyum dan beberapa energi pagi untuk meraih harapan. Harapan yang pernah ia goreskan pada lembaran proposal tatkala ia mengadu kepada Sang Pemiliknya. Pemilik yang tahu betul apa yang menjadi isi hatinya kali ini.
Rembulan duduk tertegun di atas ayunan yang terletak di taman samping asrama. Dipandanginya tempat bersejarah baginya. Tempat yang biasa ia gunakan untuk berdiskusi membahas target-target yang sesegera mungkin harus mereka capai. Rembulan dan Mentari merupakan patner yang selalu berjuang dan saling suporter dalam segala perjuangan. Suka duka, tangis dan tawa pernah mereka rasakan bersama.
Dua sahabat yang selalu menjadi patner berbagi cerita kala suka maupun duka datang menyapa,meskipun banyak sekali resiko yang harus ditanggung. Namun tidak untuk beberapa pekan ini. Mentari tidak seperti biasanya. Bagi Rembulan, akhir-akhir ini Mentari semakin tertutup dengannya. Bahkan target-target yang tengah mereka canangpun tidak sesuai rencana Ia mencoba mencari tahu tapi tak menemukan juga apa yang menjadi penyebabnya.
Kaki Rembulan mulai mengayun menuju asrama lengkap dengan muka yang datar tanpa bulan sabit yang terlukis. “Apa mungkin Mentari marah denganku? Atau tak lagi ingin berteman denganku? Atau aku membuat kesalahan sehingga ia bersikap demikian?” Gumam Rembulan dalam setiap ayunan kakinya menuju asrama.
Sampai di depan asrama, Mentari muncul dengan muka yang tak kalah berbeda. Mereka saling menatap dengan sorot mata yang sama-sama dipenuhi tanda tanya serta mulut yang sama-sama terkunci hingga pada akhirnya membisu. Tak seperti biasanya, sungguh. Akhirnya dua insan ini berlalu tanpa kata yang keluar sedikitpun dari bibir tipis yang biasanya selalu riuh dan dipenuhi sapaan yang keluar tatkala bertemu.
Sampai di kamarnya, Mentari membuka ponselnya. Pesan di WhatsApp masih tersimpan begitu rapi. Terutama pesan-pesan penting dari orang yang ia anggap istimewa dalam hidupnya. Namun, sudah beberapa hari Mentari dan Rembulan tak saling berkabar. Berkabar untuk sekedar memastikan satu sama lain sambil menyematkan harapan dan memberikan nasihat untuk sama-sama memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih baik. Apalagi ketika masalah menimpa mereka berdua. Tak henti-hentinya bait-bait kata dikeluarkan dan selalu diskusi agar mendapat jalan keluar terbaik.
Tapi sebenarnya Rembulan juga bertanya pada dirinya.“Mengapa tadi aku tidak menyapanya? Atau aku kirim pesan ke dia agar tahu apa sebenarnya yang terjadi? Apakah dia terganggu dengan kehadiranku? tapi kenapa baru sekarang?” Pikiran Rembulan semakin kacau dengan situasi yang tengah ia rasakan
Jujur, Rembulan semakin dibuat bingung dengan semua ini. Ia begitu merindukan saat-saat bersama Mentari. Saat-saat bersama ketika mereka disibukkan mengejar target dan proposal kehidupan. Saat menghadapi beragam ombak yang menerpa kehidupan dan berusaha mengatur strategi untuk menggapai beragam mimpi yang telah menjulang tinggi. Sungguh, tiada hal yang paling menyiksaku selain kedatangan rindu yang menyapu seluruh jiwa dan pikiranku.
Malam kembali menyapa dengan segala kegelapan yang selalu menyertai. Rembulan masih saja bergulat dengan pikirannya yang sudah dikuasai oleh rindu. Tak mau berkurang malah selalu bertambah dan semakin liar. Diambilnya air wudhu, kemudian membentangkan sajadah. Takbir yang begitu diresapinya hingga kemudian tak sadar air mata sudah menggenangi kelopak matanya.
Ia menghadap kepada Pemilknya, mengadukan segala hal yang tengah ia hadapai. Termasuk apa yang sedang menimpa ia dan Mentari kali ini. Ia yakin, Sang Pemiliknya akan memberikan solusi yang terbaik. Solusi yang akan membuatnya terus menjadi pribadi yang tegar meski beragam ombak masalah mengahantam kehidupannya berulang kali. Solusi agar jiwa semangat dan pantang menyerah segera berkobar kembali.
Malam yang begitu sunyi. Hanya suara detikan jarum jam yang terus mengisi isi kamar. Rembulan mengambil laptop hitam yang selalu menemaninya kala ia menemukan sesuatu dalam perjalanan hidupnya. Hingga pada akhirnya jari jemarinya pun menari di atas keyboard dan menumpahkan seluruh perasaannya. Dalam kesempatan itu, ia juga mengirimkan pesan kepada Mentari.
Teruntuk kau yang seringkali menjadi bahan diskusiku dengan pemilikmu dalam sepertiga malamku. Kamu yang sering ku panggil Mentari. Mentari yang kilau cahayanya menyinari duniaku. Mentari yang terus bertahan meski gelap menghampiri. Mentari yang selalu mengukir senyuman pada tiap lembar kanvas kehidupanku, kemarin, sekarang dan semoga Sang Pencipta merestui hingga aku menghadap-Nya.
Ada satu hal yang telah lama ku pendam dan hingga saat ini masih bersemayam dalam kalbuku. Suatu hal yang tak bisa membuat jemariku menari lagi di atas deretan keyboard dan kertas putih yang selalu menyertaiku kala suka maupun duka. Bahkan melukiskan bulan sabit di wajahku pun aku tak mampu. Apalagi membukanya dan kemudian mengucapkan “Hay… Apa kabar, Mentari?”.
Sungguh kala ini aku kalah telak. Kalah telak dengan hal yang tiba-tiba membuatku menjadi beku. Membuat lidahku kelu dan mataku sayu. Aku merasakan ada keanehan dalam diriku setelah hal itu datang. Duniaku berubah, lebih cepat daripada perputaran jarum jam pada tiap detiknya. Hingga saat ini aku masih tak berdaya. Tak berdaya menanggung hal tersebut, jujur aku kalah telak.
Mentari… Aku tahu mungkin ada ada sesuatu yang salah dariku. Tolong, beritahu aku agar aku bisa memperbaikinya dan mengembalikan hubungan kita seperti biasanya. Janji yang sempat terpatri jangan sampai teringkari. Ku harap kau mau berbagi cerita apa yang tengah kau rasakan saat ini. Sungguh aku merindu untuk mewujudkan visi besar yang telah kita buat.
Rembulan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dengan segala perasaan dan hati yang terus berkecamuk ia mencoba memejamkan mata. Berharap keajaiban datang tatkala ia membuka matanya.
Pagi yang begitu cerah. Layar ponsel mengedip tanda pesan telah masuk. Mentari, nama tersebut yang paling atas muncul di whatsApp Rembulan. Pesan yang tadi malam ia balas dengan tak kalah puitisnya.
“ Teruntuk, Rembulan yang selalu menghiasi lembaran hari-hariku. Jangan khawatirkan aku. Aku hanya ingin melihatmu tidak terlalu memikirkanku. Aku ingin kau menuntaskan impianmu terlebih dahulu. Tenang, Rembulan. Hingga saat ini hanya kau yang masih selalu aku rindukan. Hanya kau yang masih memenuhi kalbu dan pikiranku dalam gelapnya malam dan cerahnya pagi. Aku tetap akan menjadi Mentarimu. Mentari yang terus berusaha memberikan energi laiknya kau yang tak pernah padam menyulutkan api semangat dan energi tatkala mataku mulai terpejam. Aku akan terus menyebut namamu dihadapan pemilikku laiknya kau selalu meriuhkanku dalam setiap untaian do’a dihadapan Pemilik Senja.
Jangan sedih, jangan khawatir. Rindu yang telah berkecamuk dalam dirimu itulah yang saat ini aku rasakan. Namun, aku berusaha menepisnya. Aku ingin saat ini kau fokus untuk memenuhi impianmu dahulu. Hingga pada akhirnya Pemilik rindu akan menautkan kita dalam balutan kasih sayang dan hikmah yang luar biasa. Tetaplah tegar dan terus bersabar, Rembulanku. Aku akan terus menjadi suporter perjuanganmu hingga Tuhan menghadirkan orang yang lebih baik dariku dalam kehidupanmu. Percayalah, aku akan terus memperjuangkanmu.
Semoga Tuhan meridhoi langkah kita berdua. “
Membaca pesan itu hati Rembulan bergetar. Ia seperti menemukan kekuatan baru yang baru saja dihadirkan Tuhan untuknya. Jawaban atas segala pertanyaan yang beberapa pekan ini ia layangkan dalam setiap lamunannya. Rembulan menghela nafas panjang dan memejamkan mata sesaat. Ia mencoba mengalirkan energi positif dalam dirinya. Ia harus bangkit dan meneruskan langkahnya menjemput segala impian.
Tersadar dari masa bertapanya beberapa pekan ini, ia teringat pesan Mentari.
“Sejatinya, cinta akan selalu membawa energi positif, dahsyatnya kekuatan cinta, yang bukan hanya sekedar perasaan, namun lebih dari itu. Cinta tidak akan membiarkan pasangannga berada di jalan yang salah. Bukan dengan terus membuang waktu hanya dengan mencari yang sempurna, karena aku mungkin tidak akan mendapatkannya. Memang tidak ada yang sempurna. Aku hanya berusaha untuk menjalin, menciptakan cinta yang sempurna. Hingga pada akhirnya, dirimu akan mengetahui segala kelemahanku, namun tetap ingin untuk menjadi bagian hidupku. Aku hanya ingin melihatmu bahagia dengan hasil pengorbanan dan segala apa yang aku berikan. Karena cinta sejati bukan hanya perasaan senang ketika bersamanya. Cinta adalah komitmen untuk tetap bersamanya, meskipun perasaan senang itu hilang. Kekuatan cinta sejati yang diyakini melebihi segalanya dan tak pernah pudar.”
Rembulan kembali menata lagi kekuatan untuk menguasai jiwanya. Ia harus kembali bangkit dan berlari sesegera mungkin agar impiannya tak hanya menjadi imajinasi semata. Dalam hembusan nafasnya ia berdoa’a supaya Tuhan selalu menjaga Mentari dalam segala hal yang akan terus ia hadapi.







