Hidup di zaman akhir seperti sekarang ini diperlukan pertahanan diri yang kuat untuk dapat mempertahan diri kita dari segala macam pengaruh yang dapat menyesatkan. Kita perlu sesuatu yang dapat menyelamatkan diri kita dari kesesatan hidup di dunia, yang dapat berdampak pada kerugian di dunia dan akhirat. Allah Swt. telah menganugerahkan sebuah kitab pedoman dan petunjuk hidup agar kita selamat di dunia dan di akhirat, yaitu al-Qur’an. Yang dinamakan petunjuk berarti kita harus tahu artinya, agar bisa memahami maksud yang disampaikan di dalamnya, baru kemudian bisa dijadikan sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan. Tetapi kalau tidak tahu artinya, maka apakah al-Qur’an bisa disebut sebagai petunjuk?
Namun, itulah yang terjadi pada sebagian besar ummat Islam di masa kini. Mereka tidak tahu arti dan maksud yang disampaikan di dalam al-Qur’an. Lebih parahnya lagi, bahkan membacanya pun mereka enggan. Mereka lebih senang bergosip dan membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya sama sekali dibandingkan dengan membaca al-Qur’an. Oleh sebab itu, setiap muslim haruslah tahu arti dan maksud yang disampaikan di dalam al-Qur’an. Karena hanya dengan tahu artinyalah mereka bisa memahami maksud yang di sampaikan di dalamnya, dan kemudian bisa menjadikannya sebagai petunjuk.
Al-Qur’an itu ibarat rambu-rambu lalu lintas. Setiap orang harus mampu memahami dan mengerti maksud rambu-rambu itu. Jika tidak, lalu apa gunanya rambu-rambu itu ada? Tak ada gunanya sama sekali. Sebab, rambu-rambu dibuat sebagai petunjuk bagi setiap pengendara yang sedang melintas di jalan raya. Oleh sebab itu, mengerti dan memahami maksud setiap rambu-rambu yang ada merupakan sebuah keniscayaan.
Meskipun dia paham betul bagaimana bentuk, warna, gambar bahkan tata letak serta posisi di mana setiap rambu-rambu itu berada; bentuknya seperti apa, warnanya apa saja dan gambarnya bagaimana bahkan letak serta posisinya di mana saja (kanan, kiri, atas, atau bawah), tetapi kalau dia tidak paham maksud dari rambu-rambu itu, maka ada maupun tidak adanya rambu-rambu itu adalah sama saja. Tidak ada pengaruhnya sama sekali. Dan bahkan dirinya bisa berada dalam bahaya.
Misal; di jalan Soekarno-Hatta terdapat rambu-rambu yang berbentuk anak panah yang berputar 180 derajat dan anak panah itu dicoret miring—yang artinya tidak boleh berbalik arah. Tetapi kemudian ada seorang pengendara yang malah berbalik arah pada rambu-rambu itu—karena dia tidak paham dengan maksudnya. Lalu dari arah yang berlawanan, tiba-tiba datang pengendara lain yang melaju dengan kecepatan tinggi. Maka apa yang akan terjadi? Kedua pengendara tersebut bisa bertabrakan, dan terjadilah kecelakaan.
Misal lagi; di jalan raya terdapat lampu lalu lintas yang terkadang berwarna merah, kuning dan hijau. Saat lampu itu berwarna merah—yang berarti harus berhenti—tiba-tiba ada pengendara yang malah menerobos lampu merah itu, karena dia tidak paham dengan maksudnya. Akhirnya, pengendara tersebut tertabarak oleh pengendara lain. Jadi, kesimpulannya adalah setiap pengendara harus paham arti dan maksud setiap rambu-rambu yang ada. Karena kalau tidak, hal yang tidak diinginkan bisa saja menimpanya. Dan hal itu dapat sangat membahayakan bagi keselamatannya maupun bagi kenyamanan serta keselamatan pengendara lain.
Lalu, apa hubungannya dengan al-Qur’an? Sama halnya dengan al-Qur’an; setiap orang harus paham maksud dan artinya. Tidak cukup dengan hanya bisa membacanya saja, tetapi dia juga harus tahu arti serta maksud yang terkandung di dalamnya. Bahkan dengan hafal al-Qur’an sekalipun juga tidak cukup. Bahkan, meskipun dia hafal betul tata letak di mana setiap ayatnya berada; terletak pada halaman berapa, sebelah kanan atau kiri, bahkan terletak di bagian atas, tengah atau bawah, dia hafal betul; tetapi kalau dia tidak tahu arti dan maksudnya, maka tujuan diturunkannya al-Qur’an tersebut, yaitu sebagai pedoman dan petunjuk hidup, tidak akan pernah tersampaikan,.
Oleh sebab itulah, sebelum menghafalkan al-Qur’an, alangkah baiknya, dan memang seharusnya, para calon penghafal al-Qur’an menguasai bahasa Arab serta kaidah-kaidah bahasanya terlebih dahulu. Dengan begitu, hal itu akan sangat membantunya dalam menghafalkan al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab (QS. Yuusuf: 2). Jadi, menguasai bahasa Arab bagi calon penghafal al-Qur’an merupakan sebuah keniscayaan. Barulah setelah dia berhasil menguasai bahasa Arab beserta kaidah-kaidah bahasanya, dia bisa menghafalkan al-Qur’an dengan lebih mudah dan cepat. Sebab, sesuatu akan lebih mudah dihafalkan manakala dia tahu arti dan maksudnya.
Kalau tidak tahu arti dan maksudnya, maka dia pasti akan mengalami kesulitan dalam menghafalnya, bahkan sampai setidaknya tujuh kali lipat. Hal itu berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Dr. Mohammad Nasih al-Haafidh, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang, sekaligus Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Penelitiannya itu kemudian ditulis di dalam sebuah buku yang berjudul “Abana: Menempuh Jalan Suci Membangun Qur’anic Habits (Potret Gagasan dan Aksi Mohammad Nasih)” (Mokhamad Abdul Aziz dkk: 2020, 3).
Untuk menjelaskannya, biasanya Nasih meminta orang lain untuk mengikuti perkataannya. Mula-mula Nasih memintanya untuk mengulangi kalimat yang dia ucapkan dengan bahasa Indonesia (bahasa yang bisa dipahami oleh orang itu). Misal, dia mengucapkan: “Pagi-pagi saya diajak ibu pergi ke pasar untuk membeli sayur-mayur.” Orang itu dapat mengulangi ucapannya dengan benar dan tepat hanya dengan satu kali saja, tanpa pengulangan. Tetapi ketika dia memintanya untuk mengulangi kalimat yang diucapkannya dengan bahasa latin: “Ibis redibis numquam peribis in armis,” rata-rata orang yang dimintanya itu baru bisa tepat mengulangi kalimatnya setelah diulang sebanyak tujuh kali.
Padahal kalau kita perhatikan, kalimat dalam bahasa Indonesia itu berjumlah sebanyak 12 kata, sedangkan yang terdapat dalam bahasa latin itu hanya berjumlah 6 kata. Tetapi, mengapa orang itu butuh waktu lebih lama untuk menghafal kalimat asing itu? Mengapa demikian? Ya, tepat sekali. Bagaimana tidak, yang dihafalkannya saja adalah kata-kata asing semua. Tentu hal itu butuh waktu dan tenaga lebih untuk menghafalkannya dengan benar dan tepat.
Kita semua tentu sudah tahu bahwa al-Qur’an itu tidak hanya satu-dua halaman, tetapi bahkan sampai ratusan halaman, tepatnya 604 halaman (dalam mushhaf Utsmani). Lalu, kalau penghafal al-Qur’an lupa dengan hafalan yang sudah dia hafalkan, maka dia harus mengulangi hafalannya itu lagi, dan itu sama sulitnya dengan menghafal yang pernah dilakukannya pada kali pertama. Jadi dia seperti menghafal dua kali, bahkan bisa lebih. Sehingga menghafal al-Qur’an hanya akan menjadi beban.
Berbeda dengan orang yang tahu artinya. Kalau dia lupa dengan yang sudah dia hafalkan, maka akan dapat lebih mudah dan lebih cepat baginya dalam menghafalnya kembali, dibandingkan dengan orang yang tidak tahu artinya, sebagaimana yang telah diilustrasikan di dalam cerita Dr. Mohammad Nasih di atas. Selain itu, ketika membaca al-Qur’an, akan banyak cerita-cerita menarik dan pengetahuan-pengetahuan serta wawasan yang akan didapatkan.
Apalagi ketika membaca al-Qur’an, dia juga memperhatikan tajwid, makhorijul huruf serta rimanya, maka dia pasti akan sangat menikmati dan terkesima olehnya. Karena memang, al-Qur’an diturunkan dengan bahasa syair sangat indah, sehingga bisa membuat siapa pun yang mendengar, akan merasa sangat damai dan tentram hatinya. Wallaahu a’lam bi al-showaab.







