Covid-19 belum mereda. Per selasa, 27 Oktober 2020 terdapat kasus positif covid-19 mencapai 43.741.608 orang di seluruh dunia (Pikiran Rakyat.com, 27/10).Data menunjukkan bahwa pasien yang meninggal karena virus corona total terdapat 1.163.600 orang atau tiga persen.
Angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pasien yang berhasil sembuh yakni sebanyak 32.125.184 orang atau 97 persen. Hingga kini pasien yang berada dalam kondisi serius sebanyak satu persen sementara 99 lainnya tengah ada pada fase ringan sehingga kemungkinan sembuhnya dapat lebih tinggi.
Jika diurutkakan berdasarkan kasus kematian baru dalam waktu 24 jam terakhir, Indonesia berada pada urutan ke-11 dengan angka 112 pasien positif yang meninggal dunia karena Covid-19. Sehingga totalnya menjadi 13.411 orang meninggal dunia karena virus mematikan tersebut. sementara itu kasus aktif di Indonesia berada pada peringkat ke-16 global yakni sebanyak 61.851 orang. Namun menurut laporan, di Indonesia taka da pasien yang tengah berada dalam kondisi serius atau kritis dikutip dari Farida Al-Qodariah, Pikiran Rakyat.
Respons positif masyarakat secara perorangan ataupun kolektif menjadi kata kunci keberhasilan penekanan angka. Penanganan secara menyeluruh menjadi tugas bersama antarindividu, antarkomunitas, dan antarpemaku kepentinga. Kampaye protokol kesehatan tetap digencarkan dalam interaksi secara daring at upun luring. Fungsi edukasi lebih dikedepankan, sebelum terpaksa menggunakan pilihan sanksi dan hukuman(punidhment). Jangan lakukan cara menghukum jika cara mengedukasi belum secara optimal dilakukan.
Setidaknya ada tiga formula pilihan, yakni berharap ada vaksin yang efektif, menangkal kemungkinan terinfeksi, dan menjaga imunitas. Formula pemeliharaan imunitas ini menjadi sebuah prioritas pilihan dalam konstalasi ikhtiar preventif kesehatan.
Olahraga Terliterasi
Olahraga menjadi aktivitas paling populer terkait dengan ikhtiar memperoleh derajat imunitas yang baik. Namun masih banyak yang tidak menyadari, olahraga yang sangat berguna sekalipun ternyata juga bersifat paradoks pada situasi pandemi Covid-19.
Pertama, dulu orang dengan sederhana mengatakan, olahraga yang penting gerak berkeringat, tapi pada situasi pandemi, olahraga pun memiliki catatan tersendiri. Sebagaimana telah dipublikasikan oleh Texas Medical Association (Agus Kristiyanto, 2020), jenis olahraga memiliki tingkat risiko penularan virus Covid-19. Terdapat jenis olahraga dengan tingkat risiko rendah, agak rendah, sedang, agak tinggi, atau tinggi. Contoh jenis olahraga yang berisiko rendah adalah bermain tenis, sedangkan bermain basket dan sepak bola termasuk berisiko tinggi.
Olahraga risiko rendah pun menjadi “berbahaya” jika tidak disertai dengan prasyarat dasar protokol kesehatan. Wajib disiplin dalam menjaga jarak, tidak bersentuhan, tidak bertubrukan, tidak bersalaman, tidak berpelukan, tidak bertukar properti, dan tidak berkerumun di luar fase in play. Adapun jenis olahraga yang berisiko tinggi tetap akan berpotensi tinggi walaupun diatasi dengan cara-cara apa pun, karena dasarnya adalah karakteristik inti aktivitas bermainnya saat in play.
Kedua, euforia berolahraga sebagai aktivitas yang gampang dan murah untuk menjaga daya tahan dari ancaman monster Covid- 19, acap kali dilakukan secara hiperaktif oleh beberapa komunitas penggila olahraga dadakan . Olahraga yang seharusnya merupakan latihan untuk menjaga imunitas justru memerosotkan imunitas pelakunya. Penggila olahraga yang tak mengenal takaran akan terserang ancaman open window. Intensitas yang tak terjaga justru membuat sistem imun terempas di titik lemah dan gampang terinveksi virus, bakteri, dan mikroorganisme lain.
Tidak ada yang menyarankan: “Olahraga semakin banyak semakin baik”. Dari sisi intensitas, kebutuhan penjagaan imunitas sebaiknya dilakukan dengan intensitas sedang, yakni dengan kontrol denyut nadi per menit 65-75 persen dari denyut nadi maksimal, sedangkan denyut nadi maksimal adalah 220 dikurangi usia. Jangan pula dilakukan hanya pada hari Minggu atau hari libur dengan waktu penuh pagi hingga senja. Frekuensi ideal 3-5 kali per minggu dengan durasi aktivitas cukup 30- 60 menit per aktivitas.
Ketiga, publik lazim menganggap olahraga itu memiliki tantangan untuk memacu adrenalin. Padahal sebaiknya niat yang betul adalah untuk memacu dan memicu produksi endorfin. Olahraga memang dilakukan untuk memberikan tekanan atau stres secara fisik, mental, sosial, dan menghasilkan adrenalin seperlunya. Dalam porsi yang sedang dan cukup, olahraga memicu banyak hormon endorfin atau hormon kebahagiaan. Dalam porsi yang berlebihan, olahraga akan menjadi aktivitas distress yang memerosotkan imunitas seiring dengan produksi hormon kortisol yang berlebihan.
Teruslah berburu imunitas dengan olahraga yang terliterasikan, yakni olahraga yang proporsional dan adaptif, yakni dengan pemeliharaan sikap disiplin mematuhi protokol kesehatan selama masa pendemi Covid-19. Juga adaptif dengan perilaku gaya hidup sehat yang terjaga, seperti cukup istirahat, cukup nutrisi seimbang, pikiran positif, konsumsi suplemen vitamin, boleh konsumsi imunomodulator secukupnya saja demi menambah keyakinan. Jika hal tersebut tak dilakukan, maka aktivitas berolahraga hanya sebatas hiruk pikuk yang sekadar berburu bayangan imunitas yang tak mungkin tergapai. (40).






